Thursday, 1 February 2018

Episode 14. Sang Pembawa Amanah


14. Sang Pembawa Amanah


Kegelapan yang menyelimuti malam, seumpama selimut, tersingkap dengan datangnya pagi, matahari muncul tersenyum simpul,.. malu-malu secerah senyum manis gadis remaja, menyongsong kegembiraan
bayang-bayang; pohon yang bergetar tertiup angin, daun-dedaunan; yang bermandi embun., berkilau,., di kecup sinar matahari., yang lembut hangat, penuh kemesraan: sentuhan mesra kekasih pujaan hati, perlahan membakar; menguap hilang dalam panasnya, tak berkedip mata memandang; tertegun~terpesona~terpana, tenggelam dalam lautan keindahan, tiada kata: yang mampu melambangkan, tiada rasa:
yang mampu diungkapkan, segala puja puji berputar,~berpendar, ~bergetar
hanya mampu terkumpul dalam satu kalimat

Segala puji bagiMu,~wahai~ Sang Pencipta keindahan,
keresek dedaunan tertiup angin, membangunkan dari pesona, sejuknya angin dingin udara pagi berpadu dengan hangatnya sinar matahari pagi yang memeluk seluruh tubuh, dekapan penuh cinta dalam kehangatannya, cumbuan penuh gairah kehidupan, menggetar seluruh syaraf perasa
keteduhan, kedamaian, ketenangan, membisik tentang cinta, tentang kasih yang seluas samudra tanpa pandang bulu, hangat yang diberi untuk siapapun, kaya, miskin, tua muda, baik jahat
mengecup, memeluk, dalam cinta kasih yang sama, tenggelam dalam lautan cinta di dalamnya

tak mau terbangun lagi,, peluklah, dekap, tanpa perlu terbangun lagi, tiada kata:
yang mampu melukiskan, tiada rasa: yang mampu kuutarakan,
segala puja puji berputar, ~berpendar, ~bergetar
hanya mampu terkumpul dalam satu kalimat “Segala puji bagiMu,
~wahai~ Sang Pencipta alam semesta, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Celoteh burung pipit yang berloncatan dari satu ranting hinggap di batang lain, menyusup gendang telinga kanan dan kiri, menjadi sebuah nyanyian alam, bagaikan sebuah kidung cinta; “asmarandhana” tedengar lembut ditingkah desau angin yang menggesek perdu, membelit kesadaran dalam suasana sendu, trenyuh, mistis alam dengan simphonynya, tanah yang membasah, aromanya yang khas, keheningan, kesunyian, kesepian yang hanya sesekali dipecahkan oleh: ciap burung atau kepak sayapnya, mata yang tertutup, semakin menghanyutkan kesadaran dalam pesona keheningan, bersih, kudus, suci….. tiada kata: yang mampu menggambarkan, tiada rasa: yang mampu kusampaikan, segala puja puji berputar, ~berpendar, ~bergetar, hanya mampu terkumpul dalam satu kalimat

Maha Suci Engkau, ~wahai~ Sang Pencipta alam semesta
Maafkan hambamu, ya Tuhanku
yang tak mampu menuliskan keindahan ciptaanMu sebanyak kata yang ingin kutuliskan, hanya setitik warna, dalam lautan keindahan semesta
yang tak mampu mengumpulkan kata pujian, walaupun hanya sekedar untuk mengungkapkannya, dalam sepi pagi ini, senyap yang menikam hati, belitan cinta yang mendekap erat, tertunduk dalam sujud. Terima kasihku. Syukurku untukMu yang telah memberiku kesempatan. Kesadaran menikmati keagungan maha karyaMu, alam semesta ini.
Dalam samudra puja puji. Segalanya hanya untukNya.

Apa lagi yang harus kutuliskan?.
semua mengalir saja, aku tak bisa membuatmu percaya dan akupun tak bisa memberi petunjuk apapun, semua tergantung Dia, Tuhan yang mengatur. Dia yang meliputi hati siapapun yang membaca ini, seumpama curah hujan, entah dibawa kemana air ini, ke hati yang mana, dia akan menyuburkan hati itu. Ada sebuah pertanyaan sederhana:

Bagaimana berserah itu?
Menyerahkan jiwa kepada Tuhan?.

Secara bahasa saja sudah sangat sederhana, simple dan mudah, namun kenyataannya begitu berbelit, sulit dan luar biasa berat, karena akal dan ego yang menguasai jiwa. Mungkin aku ingin menuliskan tentang berserah ini, tetapi tidak secara langsung, aku ingin bercerita tentang sebuah rahasia, yaitu rahasia tentang jiwa.

Rahasia bagaimana jiwa ini mampu merasakan “nikmat”, atau bahagia, atau tenang yaitu nikmat yang berlimpah. Nikmat di atas nikmat, atau nikmat yang terus menerus dan nikmat yang tiada terputus. Nikmat ternyata meliputi apa yang diluar dan juga apa yang di dalam. Nikmat meliputi raga (yaitu indera perasa), tetapi juga meliputi jiwa (rasa) yang meliputi rasa senang, sedih, suka dan duka, marah kecewa dll dan juga nikmat meliputi ruh, dimana akan meliputi keseluruhan dimensi tubuh, jiwa, raga, akal, hati dan sel-sel tubuh.
Lalu apa rahasianya? tidak ada,
yang ada adalah sadar atau tidak?.
orang yang tidak sadar tidak akan pernah merasakan nikmat, orang pingsan, tidur yang lelap dan mati suri, kehilangan kesadran maka tidak ada rasa nikmat lagi, kesadaran inilah yang meliputi indera perasa nikmat.

Kesadaran inilah yang akan merasakan perubahan, adanya perubahan yang akan mengakibatkan perubahan rasa, rasa dingin ke sejuk menjadi nikmat sejuk, rasa panas ke sejuk juga rasa nikmat sejuk, rasa lapar ke kenyang akan nikmat kenyang, rasa lelah ke istirahat dan sebagainya dan sebagainya, sehingga perubahan inilah yang menjadikan sebuah “sensasi rasa” baik yang nikmat maupun yang tidak, apakah perubahan itu?.

Perubahan terjadi karena gerak, gerak naik dan gerak turun, gerak ke atas dan gerak ke bawah, gerak masuk dan gerak turun, jadi penyebab perubahan adalah gerak yang mengakibatkan adanya rasa, baik rasa yang nikmat maupun rasa yang tidak.

Lalu…sesudah itu apa?.
Untuk apa?, apakah berguna?
begitu detail dan begitu tersembunyi, dan begitu multi tafsir!.
Terus sesudah itu apa?….
Coba telusuri jawaban sederhana berikut!.
Untuk apa kita bersekolah sepanjang separuh hidup kita? untuk apa pula kita membaca, menimba ilmu, menambah pengetahuan? untuk apa kita belajar komputer, internet, ekonomi dan bahkan agama? mari kita mencoba jujur.

Jawabnya sederhana, agar saya lebih baik! mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi (nanti) hari esok lebih baik dari hari ini (apapun perbedaan kriteria baik ini).
Jadi jawaban untuk apa, sederhana saja: Agar kita mampu lebih baik esok atau nantinya.

                  Lalu setelah belajar ini apa?.
coba kita tanya diri sendiri, untuk apa belajar computer untuk apa belajar sepeda, untuk apa belajar ekonomi dan untuk apa belajar?.
pasti jawabnya: agar kita tahu, agar mengerti agar menguasai, jadi yang membedakan adalah antara yang tahu dan yang tidak tahu.

Maka coba lihatlah bedanya antara yang tahu dan tidak tahu! seorang yang tidak tahu betapa berharganya seekor ikan hias maka diapun bisa jadi akan membuang atau memotong ikan tersebut untuk dimakan seorang yang tidak tahu kalau sesuatu itu berharga, maka akan mengabaikan.

Seorang yang tidak tahu kalau sesuatu itu antik, bisa jadi akan dibuang, seorang yang tidak tahu kalau itu indah, akan menyepelekan,
bagaimana kalau seseorang tidak tahu akan makna hidup?
tidak tahu apa tujuan hidup?
tidak tahu bagaimana menikmati hidup?,
tidak tahu betapa hidup ini indah,
betapa hidup ini berharga, betapa masih banyak kesempatan dalam hidup,
tidak tahu betapa selalu ada kemudahan dan tidak tahu ada hari akhir bahagia untuk dirinya, tentu saja orang itu akan apatis, putus asa, atau masa bodoh atau tidak perduli, demikianlah perbedaan orang yang tahu dan orang yang tidak tahu, orang yang tidak tahu, akan meremehkan, melecehkan dan memandang sebelah mata, namun seorang yang tahu akan tetap tekun, teguh kuat dan tidak ada yang mampu menggoyahkan

( ada orang yang tahu kalau dia tidak tahu
ada yang tidak tahu kalau dia tahu
ada yang tidak tahu kalau dia tidak tahu
dan ada yang tahu kalau dia tahu
tapi sebagian besar mereka hanyalah merasa/sok tahu saja)

Bagi orang yang tahu(meyakini) kalau dia tahu (akan keyakinannya) dengan pengetahuannya dia akan mampu tegak dan kokoh dalam keyakinan, sekalipun banyak orang mencoba merayu dan merobohkan pendiriannya maka dia hanya akan tersenyum dan memberi salam (dengan lembut dan santun), ia tidak akan menyepelekan orang yang tidak tahu, dia telah diatas rasa tahu diantara yang tahu dan tidak tahu dan dia akan tetap berjalan dalam keyakinannya, sekalipun seluruh usaha dikerahkan untuk menggoyahkan keyakinan maka tidak ada gunanya, kecuali jika Tuhan berkehendak lain yaitu memberikan hidayah yang lebih baik lagi dan diapun akan bergegas untuk menuju ke arah yang lebih baik karena demikianlah
pedoman hidupnya yaitu selalu mengarah ke arah yang lebih baik.

Lalu setelah itu sebagai bukti syukurnya maka diapun akan “berbuat atas nama Tuhannya melakukan aktivitas hidupnya dengan teguh, kuat dan santun dengan tekun, adil dan harmoni, dengan sikap pemaaf, penyayang dan adil, dalam sebuah baju jiwa yaitu “takwa” yang akan nampak oleh manusia, dalam sebuah sebutan indah: 
Akhlak mulia, iklim jiwa yang muncul secara otomatis.

Muncul sewajarnya tanpa paksaan karena ‘cuaca jiwa yang selalu tenang setiap saat’ maka gelombang jiwa yang dipancarkan akan menimbulkan kedamaian, kebahagiaan, ketenangan dan memancar ke setiap orang yang berada di dekatnya. Demikianlah “rasa tahu” inilah yang akan membedakan sehingga mampu menikmati “ibadah” dengan nikmat, rasa yakin yang kuat inilah yang akan membedakan sehingga melihat hari esok adalah menunggu datangnya kebahagiaan selalu menunggu dan menunggu saat terindah yaitu saat pertemuan dengan TuhanNya, saat janji setia yang tak pernah meleset, menanti  janji Tuhan ditepati karena sungguh, Dia maha menepati janji.

Jadi setelah ini apa?.
Ya menunggu dengan penuh kerinduan yang dalam, menunggu pertemuan dengan yang selalu ditunggu, menunggu saat tibanya itu, saat terindah dalam hidup, sambil terus berjuang, agar posisi jiwa selalu dalam keadaan “siap bertemu”., sehingga tidak malu menghadap Tuhan. menghadap seseorang yang kita hormati saja memerlukan persiapan yang sempurna maka persiapan menghadap yang paling dihormati, disayangi, dicintai, dipuja, dipuji, diharapkan, ditunggu, dinanti akan sebuah “harap-harap cemas”, semoga saat waktunya tiba, tidak mengecewakan.

Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga dan hati, sebagai ujian dalam segala hal yang buruk maupun yang baik apakah mampu taat dan patuhmengikuti aturan main yang ditetapkan oleh Allah.

Aturan main yang ditetapkan oleh Allah itu antara lain: 

mendirikan sholat berserah diri sabar, meninggalkan perbantahan, berlaku baik, menolong orang, tidak iri hati, tidak sombong, tidak dengki, tidak riya atau pamer, mau menolong, tidak menyakiti hati orang, tidak memutuskan persaudaraan, menahan amarah, bertaubat, berlaku bijaksana, tidak bergunjing, tidak berburuk sangka, tidak berlaku zalim, selalu senyum, mudah memaafkan, selalu ingat Allah, mendamaikan permusuhan, memuliakan tamu, memenuhi undangan, memenuhi janji, menjenguk orang sakit, mengajak orang ke jalan Allah, berlaku baik kepada tetangga, mengeluarkan zakat dan sedekah, tidak kikir, menjaga kebersihan, mendoakan orang tua, berlaku lemah lembut kepada sesama, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, menyantuni anak yatim, bersyukur dan lain-lain perbuatan baik lainnya.

Kebenaran yang ditemukan sendiri bagaikan sebuah mata air yang tak akan pernah kering, sedangkan yang berasal dari menerima pendapat orang bagaikan kolam kecil yang berisi genangan air sedikit yang mudah kering. Ketika kita membaca maka hanya akan berhasil dalam sebuah pemikiran, namun ketika kita melihat dan mengalami, akan mengendap menjadi sebuah tonggak kayu yang kuat menghujam, menjadi sebuah keyakinan bahwa yang dilakukan adalah benar.

Hasil perenungan atau tafakur inilah yang merupakan hikmah yang berupa hidayah Allah. Hidayah adalah sebuah proses panjang dan usaha yang sungguh-sungguh menjemputnya. Bukan sebuah proses menunggu. Panggilan ini sudah ada dan selalu ada setiap saat. Sebagaimana panggilan haji yang sudah ada dan diserukan sejak berabad-abad yang lalu. Namun kesungguhan dan keseriusan ketika kita mendengar panggilan tersebut, lalu berusaha menjemput hidayah itu dengan segala usaha dan kerja keras kita. Maka hidayah itu akan diletakkan dengan mudah di hati kita.

Proses menjemput hidayah ini terutama dengan berfikir, dengan menggunakan akal dan hati, bertanya, membaca, meneliti, menelaah, memahami. Yang kesemuanya itu dimasukkan dalam istilah “bertafakur”. Petunjuknya adalah
“Bertafakur sejenak lebih baik daripada ibadah satu tahun”.
Artinya tafakur itu suatu hal yang sangat diutamakan dalam Islam. Yang nantinya merupakan puncak kejayaan ilmu pengetahuan yang berguna bagi kesejahteraan umat manusia.

Hikmah atau hidayah Allah itu tidak akan didapat begitu saja atau dengan percuma namun hanya diberikan kepada orang yang bersungguh-sungguh menggunakan akal dan rasanya (hati) dalam bertafakur.

Akal untuk menganalisa dan memahami, sedangkan rasa untuk meresapkan dan menghayati. Gabungan akal dan hati ini akan merupakan sebuah harmony yang luar biasa. Kekurangan salah satunya maka kita akan menjadi timpang atau berat sebelah. Makna yang kita dapatkan akan menjadi kurang sempurna. Maka bersyukurlah seseorang yang mampu bertafakur, mengasah pemahaman dengan menggunakan hati dan akalnya.

Allah menyuruh ummat manusia agar mau berfikir, menggunakan akal, berfikir dan merenung. Mendengarkan pendapat orang lalu menganalisa menggunakan akalnya dan mengikuti yang terbaik dari pendapat itu, yaitu melalui pemeriksaan, pemikiran pemahaman yang kritis dan teliti sehingga sampai pada keyakinan akan kebenaran pendapat yang dipilihnya.

Kebenaran pendapat yang didapatkan dengan jalan ini, akan merupakan keyakinan yang sangat kuat karena mempuanyai akar yang menghujam jauh ke pusat bumi. tak akan tergoyahkan. Sebuah pemahaman yang bukan berasal dari “percaya” atau taklid buta, namun sebuah pemahaman akan sebuah hakekat yang dicarinya.

Seorang muslim dituntut untuk selalu sadar, yaitu menggunakan seluruh kemampuan atau potensi yang dimilikinya, hati, akal dan jasmaninya.

Kesadaran yang dipergunakan dalam tafakur ini mutlak perlu. Tanpa kesadaran ini maka pengamatan kita akan rancu dan melenceng kemana-mana. Maka kesadaran ini harus selalu dihadapkan kepada Allah. Bahwa Allah Sang Pemilik kesadaran. Sang Pemilik alam semesta ini. Kesadaran yang telah ditempatkan pada posisinya yaitu berdasarkan kepada informasi yang benar yaitu Al Quran.

Mengerti dan mengenal kebenaran saja tidak cukup,
selanjutnya harus mengamalkan kebenaran itu
dan saling nasehat menasehati akan kebenaran itu
dan yang terakhir yaitu mengajarkan/ mengabarkan kebenaran itu.
Mengerti dan memahami sebuah kebenaran hanyalah merupakan sebuah akal yang berada di dalam tanah,
sementara batang yang akan nampak adalah berupa syariat.
Maka pengamalan dari syariat ini akan merupakan batang yang dilihat oleh orang lain. Sementara buah dan bunganya adalah merupakan akhlak dari pohon takwa ini.

Tafakur adalah suatu kegiatan membaca (iqro) dengan menggunakan seluruh potensi yang ada pada diri kita, terutama akal, dan hati. Akal untuk menganalisa dan hati untuk merasakan dan memastikan. hal ini kembali diulang dan akan diulang lagi dalam sebuah konsistensi mengasah pemahaman yaitu dalam tafakur.

Hasil dari tafakur yaitu keyakinan di hati yang disebut sebagai hikmah kebijaksanaan atau bisa juga disebut hidayah dari Allah. Hikmah ini adalah “tepat guna” atau kemudahan dalam melaksanakan aturan main yang telah ditentukan oleh Allah yaitu ketaatan dalam keterbatasan kemampuannya. Ketaatan ini akan mengantarkan kepada ketakwaan dan akhirnya akan tercapai apa yan dicita-citakan yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akherat mendapatkan surga untuk selama-lamanya.

Kunci pemahaman dari pengulangan ini adalah bagaimana kita menggunakan hati, hati yang mudah terbolak-balik, menjadi baik atau menjadi jahat. Sebuah pilihan. Maka kita diingatkan agar memilih Hati Yang Murni yang akan terlihat Indah dari luar. Kemurnian Hati ini yang akan nampak Indah dalam perilaku kita sehari-hari dan akan nampak indah dalam akhlak kita, yaitu akhlak yang mulia. Itulah titik tolak dimana kita harus memulai. Yaitu memulai dengan menggunakan hati. Kesemuanya ini kita yang memaknai, membuat arah perjalanan yang harus dipilih, yaitu jalan yang lurus.



Petunjuk dalam lambang, rambu dan tanda

Bagian ini adalah bagian akhir dari rangkaian lambang. Betapa ingin mengabarkan dan mengisahkan tentang rangkaian lambang. Bermain di antara keindahan lambang, menuliskan nada demi nada yang indah dalam lambang. Ketika kita mampu memahami nada dasar semisal do re mi fa sol la si do, maka kitapun mampu membaca nada lagu, mampu berkreasi di antara kumpulan nada.

         Mampu mengenali semua jenis music, dangdut, kerocong, pop atau klasik. Dari nada dasar inilah terbentuk berbagai alunan music nan indah. Atau kita mengenali huruf abjad a, b,c,d sampai z, maka kita akan mampu membaca keindahan dalam sebuah kitab, atau novel, atau kisah. Dan banyak lagi permisalan lambang yang biasa digunakan pula dalam sains, Fisika, Kimia, Biologi dan lain sebagainya. Ketika kita telah mengenali rumus Fisika maka kita akan mampu menyelami ke dasar teori Fisika. Demikian pula dengan kimia, biologi dan laiannya.

Untuk berkisah tentang semua lambang ini tentu saja akan memerlukan waktu yang cukup panjang, namun setiap orang akan mampu mengerti lambang ini dengan berfikir, berfikir dan berfikir. Merenung, merangkai, mengkaji, open mind, membuka fikiran dan menjernihkannya, mendengarkan petunjuk. Merangkai lambang dalam petunjuk.

Semisal merangkai HD, apa saja rangkaian HD ini dalam lambang yang lain. Kita bisa dapatkan HD ini dalam
HuDa, HaDi, aHaD, HaDist, AHMAD, jiHaD. syaHaDaT, syaHiD dan masih banyak sekali lambang ‘H dan D’
dalam rambu-rambu kata yang biasa kita ketahui. Dan dengan mengerti H dan D, paling tidak kita mengenali bahan dasarnya. Walaupun setelah terangkai bias jadi membentuk sebuah entitas baru yang bias saja sudah berubah total.

Untuk memahami lambang maka tidak bisa tidak kita harus menggunakan kesadaran akal (Minda) atau Kesadaran M, mengarahkan dan merjernihkan menyaring dan memahami dan menyempurnakannya menjadi entitas N (akhlaq) dalam rangkaian Hukum alam (R), yang sesuai dengan kehendak illahi (H). Maka kembali kita harus memaknai MNRH. Kesadaran M sangat penting, yaitu meraih ilmu, mencari ilmu, menambah pengetahuan.

Tetapi sayangnya Kesadaran M  dari sisi Akal ini sangat sulit menerima ajaran dari seseorang yang dianggap lebih rendah.
Kesadaran M ini hanya mau menerima dari seorang yang lebih pandai dan lebih berilmu. Maka Kesadaran M ini lebih sering mengarah ke kesombongan atas kecerdasan dan kemampuan dirinya. Kecuali bila membalik kesadaran yaitu kesadaran M dalam liputan H

Kesadaran RH juga hanya mau menerima pengajaran dari orang yang lebih baik, lebih suci. Dan diapun akan merasa baik dan suci dan akan menganggap yang tidak selevel dengannya rendah. Dia akan terus mencari entitas yang terbaik dan tersuci, sehingga pemaknaan agama menjadi sangat sulit. Misalnya konsep khusyu akan menjadi sangat sulit, hanya dirinya atau kelas wali saja yang mampu mencapai seperti itu. Sehingga akhirnya dia menganggap dirinya suci.

Kesadaran N (akhlaq) adalah diantara kesadaran M (akal) dan RH(ruh). Ketika akalnya bening dan ruh telah tenang dan ridho, maka diapun telah berada dalam keadaan Burhan (B RHN), berada di ruang ruhani. Akal telah membawa ke posisi hati yang tenang. Maka disitulah akan melihat NR, melihat cahaya. Tidak ada lagi dualitas yang membingungkan.

Inilah titik keseimbangan yang berada di dalam dzarah (DRH). Keseimbangan yang ada dalam diri kita. Keseimbangan M, N dan H. Keseimbangan D dalam AMANAH. Sebuah keseimbangan BN ADAM dengan AMANAH. Posisi ini akan dirasakan oleh D sebagai rasa nikmat. Nikmat bagi raga, juga nikmat bagi jiwa dan nikmat bagi ruh. Keseimbangan jiwa raga dan ruh dalam satu titik H kembali ke H. atau titik Hijrah (H J RH) dalam proses perpindahan MDNH. Perpindahan Kesadaran akal (M) ke kesadaran ilahi (H) melalui sebuah jalan lurus DN (Dien). MDNH, Hirah ke Madinah, hijrah akal, jiwa dan ruh dalam sebuah keseimbangan dalam inti tubuh Dzarah.

Tulisan lambang ini seolah sangat membingungkan, seperti rangkaian puzzle yang tidak jelas. Seolah tidak ada maknanya. Seolah terputus, seolah hanya huruf dan lambang saja. Sulit dimengerti dan sulit difahami.

Maka mohon maaf, memang kajian lambang ini tidak berlaku umum, tidak untuk semua orang.

Seperti konsep Fisika, hanya menarik bagi yang tertarik Fisika. Konsep Kimia akan membosankan bagi yang tidak suka. Maka tidak mengerti konsep lambang ini bukan berarti tidak baik, tidak pandai, dan lainnya. Bukan sama sekali bukan.

Ini hanya untuk yang tertarik, seperti merangkai puzzle, hanya menarik bagi yang suka bermain puzzle, apakah yang tidak suka puzzle salah?. Tentu saja tidak!.
Apakah yang bisa bermain puzzle lebih baik?. Tentu tidak!. Tetapi tentu saja selalu ada gunanya bagi yang memiliki satu kelebihan semisal bermain puzzle ini.


Sekali lagi, rangkaian lambang ini sedemikian banyak dan luasnya, seperti ingin merangkai kata dari 24 buah huruf, berapa banyak yang bisa dituliskan?. Ya. Tak terhingga. Jadi sekalipun akan dituliskan lebih banyak akan serupa saja. Tentu saja bagi yag teratarik akan mampu merangkai sendiri, bila mau memikirkan, makna demi makna dari rangkaian yang sudah disajikan. Terutama mulailah dari rangkaian yang ada dalam diri manusia.

Rangkaianyang berada di dalam bani adam adalah:
(BN DM), Min ruhi (MNRH), Quran (QRN), Hadis (HDS), alaq (LQ), aqal (QL), qolbu (QLB), Nafs (NFS), jasad (JSD), jisim (JSM), Basiroh (BSRH), Rahim (RHM)
dan masih banyak sekali rangkaian lambang dalam AL Quran yang menunjukkan keberadaan entitas-entitas  dalam diri Bani Adam.

Ketika kita sudah tahu dua lambang, maka kita akan bisa merangkai 4 makna, dan bila tahu 3 lambang maka kita bisa merangkai 9 makna dan seterusnya. Akhirnya kita mampu membaca semakin banyak makna. Dari pemaknaan demi pemaknaan ini. Maka kita mampu memahami secara lebih mendalam, tidak hanya sekedar makna yang disampaikan pendahulu kita, tetapi mampu ‘merasakan” atas keadaan dari kata itu.

Sekali lagi mohon diingat, tolong buang dan hapus semua kata dan kalimat yang tertulis ini dari ingatan bila itu tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan (Al Quran dan sunnah Rasul).

Jangan percayai apa yang saya sampaikan, bandingkan, kaji dan uji dengan petunjuk jalan lurus, peta, guidance, buktikan dan raih keyakinan yang ada dalam diri sendiri

semua kisah ini hanyalah pembanding, hanya kabar berita, hanya kisah, kumpulan pengalaman dan rasa, bukan dalam ranah benar-salah, bukan sebuah kebenaran yang yang ingin disampaikan,

namun tidak lebih sebagai penarik hati, sebagai “iklan”, sebagai pengajak, sebagai entertain, sebagai penghibur, sebagai, penyemangat, penguat, penyegar dan pelepas lelah saat istirahat siang atau sore.

Inti Kajian ini hanya untuk ‘mengajak para pembaca’ untuk “BERFIKIR, BERFIKIR dan BERFIKIR”. Semua kajian disini tidak untuk menyampaikan sebagai sebuah kepastian, sebuah kebenaran. Tetapi justru sebaliknya mengajak berfikir untuk bisa memastikan apakan kajian ini adalah sebuah kesalahan. Tentu saja ketika menyajikan disini adalah dengan segenap daya dan upaya menyajikan yang terbaik dan terbenar dalam keyakinan diri sendiri. Tetapi sebuah kepastian seperti seorang anak kelas 3 SD saat menyampaikan sebuah pendapat hanyalah atas kebenaran tingkat kelas 3 SD. Dan tidak memiliki kapasitas kebenaran apapun. Namun hanya layak sebagai pembanding, sebagai kisah, atau sebagai bahan pemikiran. Mungkin bisa disempurnakan.

Akhirnya kajian sangat panjang ini selesai dengan teriring maaf yang dalam, bila banyak kalimat yang tidak baik. Ada kata yang tidak sopan, penjelasan yang justru membingungkan. Atau bahkan semua yang dijelaskan disini justru tidak masuk di akal.


Semoga rekan semua memaklumi keadaan, keterbatasan, dan ketidakmampuan menyampaikan ini. Setidaknya telah cukup banyak waktu yang diperuntukkan khusus untuk mencoba berbagi kisah. Semoga kisah ini akan menyenangkan yang membaca. Semoga kisah ini akan membahagiakan. Dan mengiringi hari ini dengan senyum yang manis.


=========================
11 11 2016



========================================================================


Samudra Simbol
Bagian 3- SELESAI 
(Bahasa Cahaya)
  

Imam Budi Sarjono
========================================================================

No comments:

Post a Comment

SAMUDRA SIMBOL

SAMUDRA SIMBOL 3 - BAHASA CAHAYA ======================================================================== Pengantar: https://samudrasimb...