14. Sang Pembawa Amanah
Kegelapan yang
menyelimuti malam, seumpama selimut, tersingkap dengan datangnya pagi, matahari
muncul tersenyum simpul,.. malu-malu secerah senyum manis gadis remaja,
menyongsong kegembiraan
bayang-bayang; pohon yang bergetar
tertiup angin, daun-dedaunan; yang bermandi embun., berkilau,., di kecup
sinar matahari., yang lembut hangat, penuh kemesraan: sentuhan mesra kekasih
pujaan hati, perlahan membakar; menguap hilang dalam panasnya, tak berkedip
mata memandang; tertegun~terpesona~terpana, tenggelam dalam lautan keindahan,
tiada kata: yang mampu melambangkan, tiada rasa:
yang mampu diungkapkan, segala puja
puji berputar,~berpendar, ~bergetar
hanya mampu terkumpul dalam satu
kalimat
Segala puji bagiMu,~wahai~ Sang
Pencipta keindahan,
keresek dedaunan tertiup angin,
membangunkan dari pesona, sejuknya angin dingin udara pagi berpadu dengan
hangatnya sinar matahari pagi yang memeluk seluruh tubuh, dekapan penuh cinta
dalam kehangatannya, cumbuan penuh gairah kehidupan, menggetar seluruh syaraf
perasa
keteduhan, kedamaian, ketenangan,
membisik tentang cinta, tentang kasih yang seluas samudra tanpa pandang
bulu, hangat yang diberi untuk siapapun, kaya, miskin, tua muda, baik jahat
mengecup, memeluk, dalam cinta
kasih yang sama, tenggelam dalam lautan cinta di dalamnya
tak mau terbangun lagi,, peluklah,
dekap, tanpa perlu terbangun lagi, tiada kata:
yang mampu melukiskan, tiada rasa:
yang mampu kuutarakan,
segala puja puji berputar,
~berpendar, ~bergetar
hanya mampu terkumpul dalam satu
kalimat “Segala puji bagiMu,
~wahai~ Sang Pencipta alam semesta,
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”
Celoteh burung pipit yang
berloncatan dari satu ranting hinggap di batang lain, menyusup gendang telinga
kanan dan kiri, menjadi sebuah nyanyian alam, bagaikan sebuah kidung cinta;
“asmarandhana” tedengar lembut ditingkah desau angin yang menggesek perdu,
membelit kesadaran dalam suasana sendu, trenyuh, mistis alam dengan
simphonynya, tanah yang membasah, aromanya yang khas, keheningan, kesunyian,
kesepian yang hanya sesekali dipecahkan oleh: ciap burung atau kepak sayapnya,
mata yang tertutup, semakin menghanyutkan kesadaran dalam pesona keheningan,
bersih, kudus, suci….. tiada kata: yang mampu menggambarkan, tiada rasa: yang
mampu kusampaikan, segala puja puji berputar, ~berpendar, ~bergetar, hanya
mampu terkumpul dalam satu kalimat
Maha Suci Engkau, ~wahai~ Sang
Pencipta alam semesta
Maafkan hambamu, ya Tuhanku
yang tak mampu menuliskan keindahan
ciptaanMu sebanyak kata yang ingin kutuliskan, hanya setitik warna, dalam
lautan keindahan semesta
yang tak mampu mengumpulkan kata
pujian, walaupun hanya sekedar untuk mengungkapkannya, dalam sepi pagi ini,
senyap yang menikam hati, belitan cinta yang mendekap erat, tertunduk dalam
sujud. Terima kasihku. Syukurku untukMu yang telah memberiku kesempatan.
Kesadaran menikmati keagungan maha karyaMu, alam semesta ini.
Dalam samudra puja puji. Segalanya
hanya untukNya.
Apa lagi yang harus kutuliskan?.
semua mengalir saja, aku tak bisa membuatmu percaya dan
akupun tak bisa memberi petunjuk apapun, semua tergantung Dia, Tuhan yang
mengatur. Dia yang meliputi hati siapapun yang membaca ini, seumpama curah
hujan, entah dibawa kemana air ini, ke hati yang mana, dia akan menyuburkan
hati itu. Ada sebuah pertanyaan sederhana:
Bagaimana
berserah itu?
Menyerahkan
jiwa kepada Tuhan?.
Secara bahasa saja sudah sangat sederhana, simple dan
mudah, namun kenyataannya begitu berbelit, sulit dan luar biasa berat, karena akal
dan ego yang menguasai jiwa. Mungkin aku ingin menuliskan tentang berserah ini,
tetapi tidak secara langsung, aku ingin bercerita tentang sebuah rahasia, yaitu
rahasia tentang jiwa.
Rahasia bagaimana jiwa ini mampu merasakan “nikmat”, atau bahagia, atau tenang yaitu
nikmat yang berlimpah. Nikmat di atas nikmat, atau nikmat yang terus menerus dan
nikmat yang tiada terputus. Nikmat ternyata meliputi apa yang diluar dan juga
apa yang di dalam. Nikmat meliputi raga (yaitu indera perasa), tetapi juga
meliputi jiwa (rasa) yang meliputi rasa senang, sedih, suka dan duka, marah
kecewa dll dan juga nikmat meliputi ruh, dimana akan meliputi keseluruhan
dimensi tubuh, jiwa, raga, akal, hati dan sel-sel tubuh.
Lalu apa
rahasianya? tidak ada,
yang ada adalah sadar atau tidak?.
orang yang tidak sadar tidak akan pernah merasakan
nikmat, orang pingsan, tidur yang lelap dan mati suri, kehilangan kesadran maka
tidak ada rasa nikmat lagi, kesadaran inilah yang meliputi indera perasa
nikmat.
Kesadaran inilah yang akan merasakan perubahan, adanya perubahan yang
akan mengakibatkan perubahan rasa, rasa dingin ke sejuk menjadi nikmat sejuk,
rasa panas ke sejuk juga rasa nikmat sejuk, rasa lapar ke kenyang akan nikmat
kenyang, rasa lelah ke istirahat dan sebagainya dan sebagainya, sehingga
perubahan inilah yang menjadikan sebuah “sensasi rasa” baik yang nikmat
maupun yang tidak, apakah perubahan itu?.
Perubahan terjadi karena gerak, gerak naik dan gerak turun, gerak ke atas
dan gerak ke bawah, gerak masuk dan gerak turun, jadi penyebab perubahan adalah
gerak yang mengakibatkan adanya rasa, baik rasa yang nikmat maupun rasa yang
tidak.
Lalu…sesudah itu apa?.
Untuk
apa?, apakah berguna?
begitu detail dan begitu tersembunyi, dan begitu multi
tafsir!.
Terus sesudah itu apa?….
Coba telusuri jawaban sederhana berikut!.
Untuk apa kita bersekolah sepanjang separuh hidup kita?
untuk apa pula kita membaca, menimba ilmu, menambah pengetahuan? untuk apa kita
belajar komputer, internet, ekonomi dan bahkan agama? mari kita mencoba jujur.
Jawabnya sederhana, agar saya lebih baik!
mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi (nanti) hari esok lebih baik
dari hari ini (apapun perbedaan kriteria baik ini).
Jadi jawaban untuk apa, sederhana saja: Agar
kita mampu lebih baik esok atau nantinya.
Lalu
setelah belajar ini apa?.
coba kita tanya diri sendiri, untuk apa belajar computer
untuk apa belajar sepeda, untuk apa belajar ekonomi dan untuk apa belajar?.
pasti jawabnya: agar kita tahu, agar mengerti
agar menguasai, jadi yang membedakan adalah antara yang tahu dan
yang tidak tahu.
Maka coba lihatlah bedanya antara yang tahu dan tidak
tahu! seorang yang tidak tahu betapa berharganya seekor ikan hias maka diapun
bisa jadi akan membuang atau memotong ikan tersebut untuk dimakan seorang
yang tidak tahu kalau sesuatu itu berharga, maka akan mengabaikan.
Seorang yang tidak tahu kalau sesuatu itu antik, bisa
jadi akan dibuang, seorang yang tidak tahu kalau itu indah, akan menyepelekan,
bagaimana kalau seseorang tidak tahu akan makna hidup?
tidak tahu apa tujuan hidup?
tidak tahu bagaimana menikmati hidup?,
tidak tahu betapa hidup ini indah,
betapa hidup ini berharga, betapa masih banyak
kesempatan dalam hidup,
tidak tahu betapa selalu ada kemudahan dan tidak tahu
ada hari akhir bahagia untuk dirinya, tentu saja orang itu akan apatis, putus
asa, atau masa bodoh atau tidak perduli, demikianlah perbedaan orang yang tahu
dan orang yang tidak tahu, orang yang tidak tahu, akan meremehkan, melecehkan
dan memandang sebelah mata, namun seorang yang tahu akan tetap tekun, teguh
kuat dan tidak ada yang mampu menggoyahkan
( ada orang yang tahu kalau dia tidak tahu
ada yang tidak tahu kalau dia tahu
ada yang tidak tahu kalau dia tidak tahu
dan ada yang tahu kalau dia tahu
tapi sebagian besar mereka hanyalah merasa/sok tahu
saja)
Bagi orang yang
tahu(meyakini) kalau dia tahu (akan keyakinannya) dengan
pengetahuannya dia akan mampu tegak dan kokoh dalam keyakinan, sekalipun banyak
orang mencoba merayu dan merobohkan pendiriannya maka dia hanya akan tersenyum
dan memberi salam (dengan lembut dan santun), ia tidak akan menyepelekan orang
yang tidak tahu, dia telah diatas rasa tahu diantara yang tahu dan tidak tahu
dan dia akan tetap berjalan dalam keyakinannya, sekalipun seluruh usaha
dikerahkan untuk menggoyahkan keyakinan maka tidak ada gunanya, kecuali jika
Tuhan berkehendak lain yaitu memberikan hidayah yang lebih baik lagi dan diapun
akan bergegas untuk menuju ke arah yang lebih baik karena demikianlah
pedoman hidupnya yaitu selalu mengarah ke arah
yang lebih baik.
Lalu setelah itu sebagai bukti syukurnya maka diapun
akan “berbuat atas nama Tuhannya” melakukan aktivitas hidupnya dengan teguh, kuat dan
santun dengan tekun, adil dan harmoni, dengan sikap pemaaf, penyayang dan adil,
dalam sebuah baju jiwa yaitu “takwa” yang akan nampak oleh manusia, dalam
sebuah sebutan indah:
Akhlak mulia, iklim
jiwa yang muncul secara otomatis.
Muncul
sewajarnya tanpa paksaan karena ‘cuaca
jiwa yang selalu tenang setiap saat’ maka gelombang jiwa yang dipancarkan
akan menimbulkan kedamaian, kebahagiaan, ketenangan dan memancar ke setiap
orang yang berada di dekatnya. Demikianlah “rasa tahu” inilah
yang akan membedakan sehingga mampu menikmati “ibadah” dengan nikmat, rasa
yakin yang kuat inilah yang akan membedakan sehingga melihat hari esok adalah
menunggu datangnya kebahagiaan selalu menunggu dan menunggu saat terindah yaitu
saat pertemuan dengan TuhanNya, saat janji setia yang tak pernah meleset, menanti
janji Tuhan ditepati karena sungguh, Dia maha menepati janji.
Jadi setelah
ini apa?.
Ya menunggu dengan penuh kerinduan yang dalam, menunggu
pertemuan dengan yang selalu ditunggu, menunggu saat tibanya itu, saat terindah
dalam hidup, sambil terus berjuang, agar posisi jiwa selalu dalam keadaan “siap bertemu”., sehingga tidak malu
menghadap Tuhan. menghadap seseorang yang kita hormati saja memerlukan
persiapan yang sempurna maka persiapan menghadap yang paling dihormati,
disayangi, dicintai, dipuja, dipuji, diharapkan, ditunggu, dinanti akan sebuah “harap-harap cemas”, semoga saat
waktunya tiba, tidak mengecewakan.
Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga dan hati,
sebagai ujian dalam segala hal yang buruk maupun yang baik apakah
mampu taat dan patuhmengikuti aturan main yang ditetapkan oleh
Allah.
Aturan main yang ditetapkan oleh Allah itu antara lain:
mendirikan sholat berserah diri
sabar, meninggalkan perbantahan, berlaku baik, menolong orang, tidak iri hati,
tidak sombong, tidak dengki, tidak riya atau pamer, mau menolong, tidak
menyakiti hati orang, tidak memutuskan persaudaraan, menahan amarah, bertaubat,
berlaku bijaksana, tidak bergunjing, tidak berburuk sangka, tidak berlaku
zalim, selalu senyum, mudah memaafkan, selalu ingat Allah, mendamaikan
permusuhan, memuliakan tamu, memenuhi undangan, memenuhi janji, menjenguk orang
sakit, mengajak orang ke jalan Allah, berlaku baik kepada tetangga,
mengeluarkan zakat dan sedekah, tidak kikir, menjaga kebersihan, mendoakan
orang tua, berlaku lemah lembut kepada sesama, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu,
menyantuni anak yatim, bersyukur dan lain-lain perbuatan baik lainnya.
Kebenaran yang ditemukan sendiri bagaikan sebuah mata
air yang tak akan pernah kering, sedangkan yang berasal dari menerima pendapat
orang bagaikan kolam kecil yang berisi genangan air sedikit yang mudah kering.
Ketika kita membaca maka hanya akan berhasil dalam sebuah pemikiran, namun
ketika kita melihat dan mengalami, akan mengendap menjadi sebuah tonggak kayu
yang kuat menghujam, menjadi sebuah keyakinan bahwa yang dilakukan adalah
benar.
Hasil
perenungan atau tafakur inilah yang merupakan
hikmah yang berupa hidayah Allah. Hidayah adalah sebuah proses panjang dan
usaha yang sungguh-sungguh menjemputnya. Bukan sebuah proses menunggu.
Panggilan ini sudah ada dan selalu ada setiap saat. Sebagaimana panggilan haji
yang sudah ada dan diserukan sejak berabad-abad yang lalu. Namun kesungguhan
dan keseriusan ketika kita mendengar panggilan tersebut, lalu berusaha
menjemput hidayah itu dengan segala usaha dan kerja keras kita. Maka hidayah
itu akan diletakkan dengan mudah di hati kita.
Proses menjemput hidayah ini terutama dengan berfikir,
dengan menggunakan akal dan hati, bertanya, membaca, meneliti, menelaah,
memahami. Yang kesemuanya itu dimasukkan dalam istilah “bertafakur”. Petunjuknya adalah
“Bertafakur sejenak lebih baik daripada ibadah satu
tahun”.
Artinya tafakur itu suatu hal yang sangat diutamakan
dalam Islam. Yang nantinya merupakan puncak kejayaan ilmu pengetahuan yang
berguna bagi kesejahteraan umat manusia.
Hikmah atau
hidayah Allah itu tidak akan didapat begitu saja atau dengan percuma namun
hanya diberikan kepada orang yang bersungguh-sungguh menggunakan akal dan rasanya (hati) dalam
bertafakur.
Akal untuk
menganalisa dan memahami, sedangkan rasa untuk meresapkan dan menghayati. Gabungan akal dan hati ini akan
merupakan sebuah harmony yang luar biasa.
Kekurangan salah satunya maka kita akan menjadi timpang atau berat sebelah.
Makna yang kita dapatkan akan menjadi kurang sempurna. Maka bersyukurlah
seseorang yang mampu bertafakur, mengasah pemahaman dengan menggunakan hati dan
akalnya.
Allah menyuruh ummat manusia agar mau berfikir,
menggunakan akal, berfikir dan merenung. Mendengarkan pendapat orang lalu
menganalisa menggunakan akalnya dan mengikuti yang terbaik dari pendapat itu,
yaitu melalui pemeriksaan, pemikiran pemahaman yang kritis dan teliti
sehingga sampai pada keyakinan akan kebenaran pendapat yang dipilihnya.
Kebenaran pendapat yang didapatkan dengan jalan ini,
akan merupakan keyakinan yang sangat kuat karena mempuanyai akar yang menghujam
jauh ke pusat bumi. tak akan tergoyahkan. Sebuah pemahaman yang bukan berasal
dari “percaya” atau taklid buta, namun sebuah pemahaman akan sebuah hakekat
yang dicarinya.
Seorang muslim dituntut untuk selalu sadar, yaitu
menggunakan seluruh kemampuan atau potensi yang dimilikinya, hati, akal dan
jasmaninya.
Kesadaran yang dipergunakan dalam tafakur ini mutlak perlu.
Tanpa kesadaran ini maka pengamatan kita akan rancu dan melenceng kemana-mana.
Maka kesadaran ini harus selalu dihadapkan kepada Allah. Bahwa Allah Sang
Pemilik kesadaran. Sang Pemilik alam semesta ini. Kesadaran yang telah
ditempatkan pada posisinya yaitu berdasarkan kepada informasi yang benar yaitu
Al Quran.
Mengerti dan mengenal kebenaran
saja tidak cukup,
selanjutnya harus mengamalkan
kebenaran itu
dan saling nasehat menasehati akan
kebenaran itu
dan yang terakhir yaitu
mengajarkan/ mengabarkan kebenaran itu.
Mengerti dan memahami sebuah
kebenaran hanyalah merupakan sebuah akal yang berada di dalam tanah,
sementara batang yang akan nampak
adalah berupa syariat.
Maka pengamalan dari syariat ini
akan merupakan batang yang dilihat oleh orang lain. Sementara buah dan bunganya
adalah merupakan akhlak dari pohon takwa ini.
Tafakur adalah
suatu kegiatan membaca (iqro) dengan menggunakan seluruh potensi yang ada pada
diri kita, terutama akal, dan hati. Akal untuk menganalisa dan hati untuk
merasakan dan memastikan. hal ini kembali diulang dan akan diulang lagi
dalam sebuah konsistensi mengasah pemahaman yaitu dalam tafakur.
Hasil dari tafakur
yaitu keyakinan di hati yang disebut sebagai hikmah kebijaksanaan atau bisa juga disebut hidayah dari Allah. Hikmah
ini adalah “tepat guna” atau kemudahan dalam melaksanakan aturan main yang
telah ditentukan oleh Allah yaitu ketaatan dalam keterbatasan kemampuannya.
Ketaatan ini akan mengantarkan kepada ketakwaan dan akhirnya akan tercapai apa
yan dicita-citakan yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di
akherat mendapatkan surga untuk selama-lamanya.
Kunci pemahaman dari
pengulangan ini adalah bagaimana kita menggunakan hati, hati
yang mudah terbolak-balik, menjadi baik atau menjadi jahat. Sebuah pilihan.
Maka kita diingatkan agar memilih Hati Yang
Murni yang akan terlihat Indah dari
luar. Kemurnian Hati ini yang akan nampak Indah dalam perilaku kita
sehari-hari dan akan nampak indah dalam akhlak kita, yaitu akhlak yang mulia. Itulah
titik tolak dimana kita harus memulai. Yaitu memulai dengan menggunakan hati.
Kesemuanya ini kita yang memaknai, membuat arah perjalanan yang harus dipilih,
yaitu jalan yang lurus.
Petunjuk
dalam lambang, rambu dan tanda
Bagian ini adalah bagian akhir dari rangkaian lambang. Betapa ingin
mengabarkan dan mengisahkan tentang rangkaian lambang. Bermain di antara
keindahan lambang, menuliskan nada demi nada yang indah dalam lambang. Ketika
kita mampu memahami nada dasar semisal do re mi fa sol la si do, maka kitapun mampu
membaca nada lagu, mampu berkreasi di antara kumpulan nada.
Mampu mengenali semua jenis music, dangdut, kerocong, pop
atau klasik. Dari nada dasar inilah terbentuk berbagai alunan music nan indah.
Atau kita mengenali huruf abjad a, b,c,d sampai z, maka kita akan mampu membaca
keindahan dalam sebuah kitab, atau novel, atau kisah. Dan banyak lagi
permisalan lambang yang biasa digunakan pula dalam sains, Fisika, Kimia,
Biologi dan lain sebagainya. Ketika kita telah mengenali rumus Fisika maka kita
akan mampu menyelami ke dasar teori Fisika. Demikian pula dengan kimia, biologi
dan laiannya.
Untuk berkisah tentang semua lambang ini tentu saja akan memerlukan
waktu yang cukup panjang, namun setiap orang akan mampu mengerti lambang ini
dengan berfikir, berfikir dan berfikir. Merenung, merangkai, mengkaji,
open mind, membuka fikiran dan menjernihkannya, mendengarkan petunjuk.
Merangkai lambang dalam petunjuk.
Semisal merangkai HD, apa saja rangkaian HD ini dalam lambang yang lain.
Kita bisa dapatkan HD ini dalam
HuDa, HaDi,
aHaD, HaDist, AHMAD, jiHaD. syaHaDaT, syaHiD dan masih
banyak sekali lambang ‘H dan D’
dalam rambu-rambu kata yang biasa
kita ketahui. Dan dengan mengerti H dan D, paling tidak kita mengenali bahan
dasarnya. Walaupun setelah terangkai bias jadi membentuk sebuah entitas baru
yang bias saja sudah berubah total.
Untuk memahami lambang maka tidak bisa tidak kita harus
menggunakan kesadaran akal (Minda) atau Kesadaran M, mengarahkan dan merjernihkan menyaring dan memahami dan
menyempurnakannya menjadi entitas N (akhlaq) dalam
rangkaian Hukum alam (R), yang sesuai dengan kehendak
illahi (H). Maka kembali kita harus memaknai MNRH. Kesadaran M sangat penting, yaitu meraih ilmu, mencari ilmu, menambah
pengetahuan.
Tetapi sayangnya Kesadaran M dari sisi Akal ini
sangat sulit menerima ajaran dari seseorang yang dianggap lebih rendah.
Kesadaran M ini hanya mau menerima
dari seorang yang lebih pandai dan lebih berilmu. Maka Kesadaran M ini lebih sering mengarah ke kesombongan atas kecerdasan dan
kemampuan dirinya. Kecuali bila membalik kesadaran yaitu
kesadaran M dalam liputan H
Kesadaran RH juga hanya
mau menerima pengajaran dari orang yang lebih baik, lebih suci. Dan
diapun akan merasa baik dan suci dan akan menganggap yang tidak selevel
dengannya rendah. Dia akan terus mencari entitas yang terbaik dan tersuci,
sehingga pemaknaan agama menjadi sangat sulit. Misalnya konsep khusyu akan
menjadi sangat sulit, hanya dirinya atau kelas wali saja yang mampu mencapai
seperti itu. Sehingga akhirnya dia menganggap dirinya suci.
Kesadaran N (akhlaq) adalah diantara kesadaran M (akal) dan RH(ruh). Ketika akalnya bening dan ruh telah tenang dan
ridho, maka diapun telah berada dalam keadaan Burhan (B RHN), berada di ruang ruhani. Akal telah membawa ke posisi
hati yang tenang. Maka disitulah akan melihat NR,
melihat cahaya. Tidak ada lagi dualitas yang membingungkan.
Inilah titik
keseimbangan yang berada di dalam dzarah (DRH).
Keseimbangan yang ada dalam diri kita. Keseimbangan M, N dan H. Keseimbangan D dalam AMANAH. Sebuah keseimbangan BN ADAM dengan AMANAH. Posisi ini akan dirasakan oleh D sebagai rasa nikmat.
Nikmat bagi raga, juga nikmat bagi jiwa dan nikmat bagi ruh. Keseimbangan jiwa
raga dan ruh dalam satu titik H kembali
ke H. atau titik Hijrah (H J RH) dalam proses perpindahan MDNH. Perpindahan Kesadaran akal (M) ke kesadaran ilahi (H) melalui sebuah jalan lurus DN (Dien). MDNH, Hirah ke Madinah, hijrah
akal, jiwa dan ruh dalam sebuah keseimbangan dalam inti tubuh Dzarah.
Tulisan lambang ini seolah sangat
membingungkan, seperti rangkaian puzzle yang tidak jelas. Seolah tidak ada maknanya.
Seolah terputus, seolah hanya huruf dan lambang saja. Sulit dimengerti dan
sulit difahami.
Maka mohon maaf, memang kajian
lambang ini tidak berlaku umum, tidak untuk semua orang.
Seperti konsep Fisika, hanya
menarik bagi yang tertarik Fisika. Konsep Kimia akan membosankan bagi yang
tidak suka. Maka tidak mengerti konsep lambang ini bukan berarti tidak baik,
tidak pandai, dan lainnya. Bukan sama sekali bukan.
Ini hanya untuk yang tertarik,
seperti merangkai puzzle, hanya menarik bagi yang suka bermain puzzle, apakah yang tidak suka puzzle salah?. Tentu saja tidak!.
Apakah yang bisa bermain puzzle
lebih baik?. Tentu tidak!. Tetapi tentu saja selalu ada gunanya bagi yang
memiliki satu kelebihan semisal bermain puzzle ini.
Sekali lagi, rangkaian lambang ini sedemikian banyak dan
luasnya, seperti ingin merangkai kata dari 24 buah huruf, berapa banyak yang
bisa dituliskan?. Ya. Tak terhingga. Jadi sekalipun akan dituliskan lebih
banyak akan serupa saja. Tentu saja bagi yag teratarik akan mampu merangkai
sendiri, bila mau memikirkan, makna demi makna dari rangkaian yang sudah
disajikan. Terutama mulailah dari rangkaian yang ada dalam diri manusia.
Rangkaianyang berada di dalam bani adam adalah:
(BN DM), Min ruhi
(MNRH), Quran (QRN), Hadis (HDS), alaq (LQ), aqal (QL), qolbu (QLB), Nafs
(NFS), jasad (JSD), jisim (JSM), Basiroh (BSRH), Rahim (RHM)
dan masih banyak sekali rangkaian lambang dalam AL Quran yang menunjukkan keberadaan
entitas-entitas dalam diri Bani Adam.
Ketika kita sudah tahu dua lambang, maka kita akan bisa
merangkai 4 makna, dan bila tahu 3 lambang maka kita bisa merangkai 9 makna dan
seterusnya. Akhirnya kita mampu membaca semakin banyak makna. Dari pemaknaan
demi pemaknaan ini. Maka kita mampu memahami secara lebih mendalam, tidak hanya
sekedar makna yang disampaikan pendahulu kita, tetapi mampu ‘merasakan” atas
keadaan dari kata itu.
Sekali lagi mohon diingat, tolong buang dan hapus semua kata dan kalimat yang
tertulis ini dari ingatan bila itu tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan (Al Quran
dan sunnah Rasul).
Jangan percayai apa yang saya sampaikan, bandingkan, kaji dan
uji dengan petunjuk jalan lurus, peta, guidance, buktikan dan raih keyakinan
yang ada dalam diri sendiri
semua kisah ini hanyalah pembanding, hanya kabar berita, hanya
kisah, kumpulan pengalaman dan rasa, bukan dalam ranah benar-salah, bukan
sebuah kebenaran yang yang ingin disampaikan,
namun tidak lebih sebagai penarik hati, sebagai “iklan”, sebagai
pengajak, sebagai entertain, sebagai penghibur, sebagai, penyemangat, penguat,
penyegar dan pelepas lelah saat istirahat siang atau sore.
Inti Kajian ini hanya untuk ‘mengajak para pembaca’ untuk “BERFIKIR, BERFIKIR dan BERFIKIR”.
Semua kajian disini tidak untuk menyampaikan sebagai sebuah kepastian, sebuah
kebenaran. Tetapi justru sebaliknya mengajak berfikir untuk bisa memastikan
apakan kajian ini adalah sebuah kesalahan. Tentu saja ketika menyajikan disini
adalah dengan segenap daya dan upaya menyajikan yang terbaik dan terbenar dalam
keyakinan diri sendiri. Tetapi sebuah kepastian seperti seorang anak kelas 3 SD
saat menyampaikan sebuah pendapat hanyalah atas kebenaran tingkat kelas 3 SD. Dan tidak
memiliki kapasitas kebenaran apapun. Namun hanya layak sebagai pembanding,
sebagai kisah, atau sebagai bahan pemikiran. Mungkin bisa disempurnakan.
Akhirnya kajian sangat panjang ini selesai dengan
teriring maaf yang dalam, bila banyak kalimat yang tidak baik. Ada kata yang
tidak sopan, penjelasan yang justru membingungkan. Atau bahkan semua yang
dijelaskan disini justru tidak masuk di akal.
Semoga rekan semua memaklumi keadaan, keterbatasan, dan
ketidakmampuan menyampaikan ini. Setidaknya telah cukup banyak waktu yang
diperuntukkan khusus untuk mencoba berbagi kisah. Semoga kisah ini akan menyenangkan
yang membaca. Semoga kisah ini akan membahagiakan. Dan mengiringi hari ini
dengan senyum yang manis.
=========================
11
11 2016
========================================================================
Samudra Simbol
Bagian 3- SELESAI
(Bahasa Cahaya)
Imam Budi Sarjono
========================================================================
No comments:
Post a Comment