Kesadaran Pamungkas dalam lambang (Sebuah pembalikan kesadaran)
Proses membalik kesadaran M menjadi H adalah melalui Nur atau melalui
cahaya. Ilmu adalah cahaya. Dien atau jalan adalah cahaya dan Al Quran adalah
cahaya. Maka Akal harus memiliki Nur atau cahaya ilmu atau cahaya Al Quran
untuk membalik menuju kesadaran ilahi atau kesadaran Ruh.
Kita ibaratkan M adalah samudra (samudra akal) dan H adalah
samudra langit atau udara. Maka NR adalah bidang batas air dan udara.
M adalah laut H adalah udara maka NR adalah permukaan laut atau bidang
batas langit dan air. Makhluk yang hidup di air beda dengan makhluk yang hidup
di udara. Berada di kedalaman air akan semakin gelap, maka harus menuju
permukaan untuk melihat cahaya langit. Permukaan laut NR inilah
tempat gelombang laut, angin dari langit dan arus dari bawah laut.
Proses membalik kesadaran dari Minruhi menuju Rahman.
Membalik kesadaran MNRH - RHMN
M= Kesadaran akal
N= kesadaran budi/jiwa/hati, yaitu ego,
rasa, kesadaran nafs
R= Ketetapan, urusan, takdir, ketentuan,
program, hukum alam
H= Kesadaran
ilahiah, kesadaran ruh, kesadaran akherat
Proses
perpindahan kesadaran MNRH=M (NuR) H = MN (RuH)
Ikatan MN dan ikatan RH (ruh) adalah ikatan cahaya (NR) dimana menghubungkan kesadaran
akal manusia dan kesadaran ruh (ilahi).
·
Kesadaran akal M ini akan mencari konsep
ilmu yang terbaik dan mencari dan terus mencari tak
pernah terpuaskan. Kesadaran Akal ini hanya tunduk kepada yang lebih pandai.
Dan tak mau mendengar konsep yang dianggap datang dari yang lebih rendah. Maka
seorang yang menggunakan kesadaran M ini akan mencari ustadz yang lebih
mumpuni, akan mencari pakar dan terus meningkat. Dan tak aka nada yang mampu
memuaskan dirinya.
· Kesadaran N adalah kesadaran rasa, atau jiwa, yaitu kesadaran baik buruk, kesadaran
senang sedih, kesadaran rasa. Kesadaran akhlak yang terkait dan berhubungan
langsung dengan hukum-hukum alam, sunatullah atau kesadaran R (qadar). Bisa saja yang menurut
akal terbaik justru ditolak dan dibantah keras oleh kesadaran N juga R. Secara konsep sangat bagus dan
indah, tetapi realitasnya dalam akhlak sangat sulit.
·
Kesadaran H adalah konsep alam, yang secara
alam adalah benar atau Haq. Kesadaran HQ (Haq), ketika bersama R menjadi kesadaran RuH. Kita mampu membaca Ruh di alam
semesta atau ayat-ayat di alam semesta. Dan juga kita mampu membaca di Ruh (RH)
dalam setiap ayat dalam Al Quran dalam setiap su RH (surah) Al Quran. Membaca
su ROH dalam Al Quran.
Dengan berfikir maka kita mampu mewujudkan (F) HM atau FaHM, yaitu saat kesadaran H telah meliputi M. Inilah pembalikan kesadaran saat
H meliputi M, proses ilm (I) yang mengalir dari alam (L) kesadaran H menuju alam kesadaran akal M atau ILHAM. Jadi Ketika H mengalirkan ilmu maka hanya mampu
diterima secara akal kesadaran M. Ketika ilmu itu tidak mampu
dimaknai oleh akal (M) maka kita hanya merasakan atau
Fahm tetapi tidak mampu menjabarkan atau menjelaskan kembali.
Selanjutnya dengan ILHAM inilah maka kita mampu berada di
alam kesadaran RHMN, kesadaran Ilahi. Kesadaran ruh (RH) yang mengisi kesadaran
akal (M) dan membentuk kesadaran budi pekerti (N). Kesadaran RHMN.
Maka MNRH adalah menjadi pantulan dari RHMN, sehingga hakekatnya MNRH adalah RHMN, bukan MNRH yang berbuat tetapi RHMN yang berbuat. Seperti diikat dengan remote control saja. Hukum-hukum
dalam M lalu N dan R serta H berbeda-beda, sebagaimana hukum cahaya, materi, gelombang dan
energy.
Cahaya MNRH bisa dimisalkan sebagaimana cahaya
alam tampak, yaitu mempunyai sifat dualitas materi dan gelombang serta energy.
Bila M adalah seperti materi, dan N adalah seperti gelombang, Maka RH adalah
seperti energy. Dan berada dalam hukum-hukum yang berbeda.
Ketika berada di M maka seolah RH tidak ada, seperti koin
mata uang.
Dan sebaliknya saat berada di RH maka M tidak ada.
Saat berada di RH dalam energy yang nampak hanyalah positif dan negative.
Saat berada di M yang Nampak adalah perubahan wujud cair,padat, uap.
Dan saat berada di N maka wujudnya tidak nampak tetapi mempengaruhi perubahan.
Simbol ini terutama hanya untuk memudahkan saja, karena
tanpa symbol ini sangat sulit menjelaskan hukum fisika, menjelaskan konsep.
Tetapi memang bila tidak mau mencoba membuka pemikiran, tidak mau berfikir dan
menggunakan akalnya untuk mau mengerti apa symbol yang dituliskan disini juga
asumsi dan batasannya maka sangat sulit memahami apa yang ingin disampaikan
disini.
Ketika MNRH telah membalik
kesadaran menjadi RHMN, maka jiwa kita telah mengalir sifat Kasih
sayang. Rahman dan Rahim. Jiwa telah tunduk pada takdirnya. Suka rela mengikuti
kehendak Dzat Yang Rahman. Jiwa telah menjadi Abdi Rahman. Jiwa telah berada
dalam sikap dan sifat Rahman. Jiwa telah berakhlak Rahman.
Jiwa telah membalik kesadaran yang terlihat
hanyalah Dzat yang Rahman. Tiada wujud lain di alam semesta ini selain Dzat
yang Rahman. Jiwa yang penuh kasih. Jiwa yang penuh sayang. Jiwa yang
penuh cinta. Jiwa yang merupakan cahaya dari Dzat Yang Rahman. Karena di dalam
dirinya di dalam raganya telah bersemayam symbol RHMN. Telah menetap RHMN. Dia
hanya melakukan apa yang RHMN perintahkan. Jiwanya adalah Rahman.
Demikianlah
symbol, symbol hanyalah perumpamaan dan bukan makna yang sebenarnya. Seperti
gambar symbol atau gambar segitiga yang berarti gunung misalnya. Tetap saja
segitiga bukanlah gunung. Namun dengan menggambar segitiga tentu saja
memudahkan menjelaskan sifat dan karakter gunung misalnya dengan menambahkan
symbol yang lainnya.
⏩ Bersambung ke Episode 14:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-14-sang-pembawa-amanah.html
No comments:
Post a Comment