Thursday, 1 February 2018

Episode 7. Jalan pulang Sang Pengelana cahaya


7. Jalan pulang Sang Pengelana cahaya


Aku tak tahu apa yang kutuliskan, memang ada rencana apa yang ingin kutuliskan, namun pada saat akan mengirimkan, selalu saja berubah total. Selalu ada perintah atau keyakinan untuk mengirimkan ini saja. Maka tulisan ini terutama bukan untuk orang lain. Terutama tulisan untuk diriku sendiri. Untuk memperbaiki diriku sendiri. Sebuah kisah untuk meyakinanku sendiri. Bila ada cahaya yang mampu menerangi di hati yang membaca maka cahaya itu bukan berasal dariku.

Memang betapa inginku ikut menyalakan lilin atau api dalam jiwamu, siapapun adanya engkau yang membaca ini, namun semua itu diluar kemampuanku, kecuali dirimu sendiri yang meletakkan api (energy) ini yang menyalakan obor untuk menerangi jalan dan langkahmu. Semoga.

Masalah terbesar kita adalah tidak mampu atau tidak bisa “berkomunikasi” dengan Allah. Karena Allah “bicara” dari balik layar. Dari screen. Bila kita ada di dalam layar komputer. Maka yang sebenarnya bicara dengan kita adalah yang ada di dalam komputer. Karena kita tidak akan mampu mengerti bahasa langsung dari Allah. Kita hanya mampu mengerti bahasa yang ada di dalam komputer.

Komputer alam inilah yang berbicara dalam program, rencana. Ketentuan, ketetapan. Kesadaran yang ada di komputer alam inilah yang bicara dengan ruh dalam diri. Micro dan makro. Alam kecil dan alam semesta. Kesadaran alam mikro. Ketika bicara dengan alam makro. Sederhananya dimisalkan kesadaran anak balita ketika bicara dengan orang tuanya. Yang akhli Ilmu alam misalnya. Bandingkan kepandaian balita dengan saintis yaitu orang tuanya. Anak itu hanya berkata orang tuanya sangat pandai. Tapi tidak tahu sampai dimana kepandaian orang tuanya itu. Maka untuk belajar kepandaian orang tuanya memerlukan proses dan waktu. Demikian permisalan sederhana.

Perumpamaan lainnya, semisal seorang pengarang kisah novel, dan bagaimanakah caranya tokoh di dalam kisah novel itu “berhubungan” dengan pengarang itu.
Bagaimanakah tokoh yang diciptakan itu berkomunikasi dengan sang penciptanya?. Bagaimana bila tokoh yang jahat berdoa ingin berganti peran?.
Bagaimana pula bila semua orang dalam novelnya ingin kaya?.
Dan bagaimana pula semua tokohnya memohon untuk baik dan sempurna?.
Bisakah tokoh di dalam kisah itu bisa bicara dan mengenal sang pengarangnya?,
sang penciptanya, yang menghidupkan dan mematikan hidupnya dalam novel itu?.

Bagaimana caranya keluar dari kisah novel dan masuk ke dimensi sang pengarang?.
Apakah dimensi sang pengarang sama dengan dimensi kisah dalam novel?.
Samakah wujud sang tokoh dengan sang pengarang?.
Samakah bahasa sang tokoh itu dengan bahasa penciptaannya?.
Sang tokoh dalam novel itu hanya bisa mengenali sang pengarang novel bila mampu mengenali sebanyak mungkin tanda-tanda yang ada di dalam novel itu yang membuktikan bahwa novel itu adalah ciptaannya, perasaan sang pengarang, konsep cerita, renungan, bahasa, kata, kalimat dan hal lainnya yang membuktikan novel itu ciptaannya.

Demikian perumpamaan demi perumpamaan untuk memudahkan membayangkan hubungan atau komunikasi hamba dengan tuannya, manusia dengan Tuhannya. Bagaimana memikirkan Allah, bagaimana mengenali Allah. Bagaimana membuktikan keberadaan Allah. Bagaimana melihat kenyataan Allah, bagaimana mengenali kegaiban Allah. Bagaimana memikirkan Allah.

Ya sayangnya ketika berfikir tentang Allah. Fikiran kita lebih banyak kosong. Kita sering tidak mampu merasa kalau Allah itu hidup. Allah itu merasa. Allah itu mendengar. Allah itu melihat. Allah itu berfikir. Allah itu berkehendak. Allah itu memiliki sifat. Allah dalam gerak dan aktivitas. Fikiran kita selalu dalam angan tentang apa-apa yang kita sendiri menganggap hampa atau mustahil. Tidak mungkin, atau kita sebut keraguan.

Maka ketika berkomunikasi kepada Allah. Biasanya kita hanya “bicara sendiri”. Dan tak pernah menangkap apa yang dijawab oleh Allah.

Mengingat Allah
Kalimat sederhana dan teramat sederhana ini menjadi teoriris
Berpilin. Ruwet.. kompleks.. dan sulit difahami..
Begitu carut marut.. dengan dogma.. dengan teori..
Dengan harus begini dan begitu..
Suatu hal yang teramat sangat sederhana
Kita mengingat sebagaimana mengingat biasanya
Berfikir sebagaimana biasanya berfikir..
Lalu berproses terus menerus
Tergantung tingkat kesadaran
Atau tergantung ilmu yang dimilikinya
Meningkat dari SD, SMP, SMA..Universitas dan seterusnya..
Tingkat kelas pengajaran Allah.

Maka apapun yang bisa dilakukan untuk mengingat mari kita gunakan. Kita tidak bisa berenang. Hanya dengan membaca kitab juara olimpiade renang. Kita harus mencari sungai atau kolam renang dan mencoba berenang. Kita tidak bisa bersepeda, komputer. Dan lain-lain dengan hanya membaca kisah saja. Belajar, berusaha. Kita tidak bisa mendapatkan gigi yang bersih dan sehat. Dengan hanya meyakini sebuah metode gosok gigi terbaik saja. Maka berusahalah gosok gigi. Belajarlah berenang. Berlatihlah naik sepeda. Semisal itu berusahalah berfikir tentang Allah, apa saja. Terserah bagaimana metodenya.Yang penting tetap tekun memikirkan Allah

Memikirkan alam dan ciptaanNya yang lain.
Biar Allah yang menunjukkan jalan-jalannya. Tentu saja bila ingin mengikuti salah satu jalan atau metode yang ditunjukkan. Akan lebih baik karena lebih mudah dan lebih cepat. Seperti berlatih silat. Dengan bertemu guru silat tentu saja akan lebih cepat. Karena tanpa guru memang jauh lebih besar kemungkinan tersesat.

Mengingat Allah. Adalah proses sederhana dan Mengenali Dzat yang Hidup.
Dzat yang pandai dan cerdas.
Dzat yang penuh gerak dan aktivitas. Selalu menjaga dan mencipta.
Dzat yang menyayangi. Dzat yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan olehNya.
Dzat yang memiliki sifat demikian ini. Menyebut nama dirinya dengan nama yang indah Allah.
Maka ingatlah keindahannya dan keindahan alam ciptaanNya saat mengingat Alam.
Mari kita mulai dengan yang paling sederhana dan mudah.
           
Maka ingatlah kehebatanNya saat mengingat keluarbiasaan dan kesempurnaan alam ciptaanNya. Maka ingatlah dan fikirkan apapun tentang alam semesta ini. Lalu naikkan kesadaran sedikit saja. Bahwa semua itu dalam ketentuan dan aturan serta liputan dan kekuasan Allah.
Maka berfikirlah. Lalu rasakan komunikasi itu
Rasakan saat Allah menjawab
Rasakan saat Allah mengajari
Rasakan saat Allah menyayangi
Rasakan saat Allah mencintai
Rasakan saat Allah menggerakkan
Rasakan saat Allah mengalirkan energy
Rasakan saat Allah meniupkan rasa
Rasakan saat Allah memberi kesadaran
Amati atas semua rasa. Saksikan
Saksikan dalam persaksian Maha suci Allah
Sesungguhnya semua ini Engkau ciptakan tidak sia-sia..
Dan aku yang pertama-tama berserah diri. Dalam perlindunganMu


Melanjutkan langkah yang sudah dimulai dengan mengikuti surah Al Fatihah

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, 
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan, 
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. 
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; 
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(QS. Al Fatihah)

Mengikuti jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An nur)

Entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi, menjadi khalifah di bumi, mewakili kepentingan dan Rab di muka bumi.

Allah memberikan perumpamaan dan permisalan demi permisalan untuk kita berfikir, untuk memudahkan kita menerima pesan kesadaran. Untuk mendapat pengetahuan dan mendapat petunjuk. Maka perumpamaan inipun hanya akan berguna bagi yang mau mencoba mengerti dan memahaminya.

Dalam berkisah inipun akan selalu menggunakan perumpamaan demi perumpamaan. Mungkin salah satu atau lebih perumpamaan ada yang mampu memahaminya tergantung tingkat pengetahuan yang memberi cobtoh (diriku) dan juga tergantung yang membaca. Karena begitu sederhananya yang ingin disampaikan tetapi sedemikian rumitnya untuk disampaikan.

Sebagai contoh sederhana, bila saya ingin mencoba memberi pengertian tentang “rasa buah persimon”. Sangat mudah bila saya hanya memberikan buah itu dan orang memakannya. Tetapi bagaimana caranyapun saya menyampaikan maka teramat sangat sulit kecuali saya membuat perumpamaan. Misalnya, itu seumpama buah kesemek rasanya, dan orang yang sudah pernah makan buah itu akan mampu mendekati rasanya, sehingga suatu saat bila dia menemukan buah persimon yang sebenarnya, dia akan mampu meyakini bahwa itulah buah persimon yang saya coba katakan.

Masalahnya bila orang itu belum pernah makan buah kesemek, maka diapun akan kebingungan, maka saya akan memudahkan lagi dengan contoh yang agak lebih jauh yaitu buah apel. Tetapi sekalipun apel orang masih akan berdebat, apakah apel malang, apel yang ini atau apel yang itu. Tetapi semuanya tetap salah, sampai dia mampu menemukan buah persimon seperti yang digambarkan dan memakannya. Namun bisa jadi saat makan buah persimon, dia akan memiliki persepsi yang berbeda, ada yang berkata enak, atau tidak enak, ada yang berkata sangat beda dan lainnya.

Mengikuti jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An nur)

Entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi, menjadi khalifah di bumi, mewakili kepentingan dan Rab di muka bumi.

Allah memberikan perumpamaan tentang cahaya dalam Al Quran dalam surah yang berjudul Cahaya. Sebuah perumpamaan yang sangat sederhana, tetapi juga teramat sangat sulit dan luar biasa. Karena makna cahaya yang menurut sains itu sedemikian dalam dan luar biasa. Sedemikan hebat rumit dan luar biasa makna cahaya ini. Ummat manusia atau akhli ilmu alam telah bergabung, berlomba-lomba mencoba mengerti makna cahaya ini. Sedemikan banyak dana dan waktu yang telah diusahakan. Berkumpul begitu banyak manusia cerdas dan mencurahkan seluruh waktu dan hidupnya untuk mengerti tentang cahaya ini.

Kemajuan makna cahaya ini telah membawa ummat manusia ke era yang tak terbayangkan, era technology yang luar biasa. Kemajuan yang tak terbayangkan, seolah mimpi. Kita mampu melihat “hal-hal ajaib” bahkan saat kita masih kecil tak terbayangkan sekalipun dalam mimpi. Komputer, robot, pesawat terbang, televisi, mobile phone adalah hal sehari-hari yang biasa kita lihat. Tetapi bila kita bawa ke 50 tahun yang lalu maka kita akan menjadi makhluk aliens yang ajaib. Bayangkan kita dating dengan pesawat terbang ke tahun 1900 membawa televisi, hp, dll, mungkin kita dianggap dewa, dan bila kisah itu dikisahkan ke anak cucunya maka akan menjadi legenda para dewa.

Para akhli yang menekuni cahaya ini memang sudah mampu menguak sebagian kecil makna cahaya itu, tetapi masih begitu banyak misteri cahaya yang tak terpecahkan. Para akhli masih tetap “tidak tahu” apa itu cahaya. Seperti sesuatu itu bias dikatakan sebagai tumbuhan, tetapi juga hewan, atau bias dikatakan sebagai hidup tetapi juga tidak hidup. Bisa dikatakan sebagai materi, tetapi gelombang dan juga sebagai energy.

Al Quran membuat perumpamaan yang diberikan kepada manusia sekitar 1500 tahun yang lalu di padang pasir yang terbelakang, dan bisa difahami oleh manusia di jaman itu dan di tempat itu. Dan tetapi juga bias difahami manusia di jaman ini, dimanapun tempatnya berada.
Perumpaannya adalah berikut:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misbah (lubang yang tak tembus), yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An nur 35)

Aku tidak mencoba menjelaskan ayat demi ayat dalam surah ini, silahkan dimaknai dan silahkan mencoba bertanya kepada akhlinya. Yang akan kuceritakan adalah membuat perumpamaan atau contoh atau permisalan berdasarkan surah itu tentu saja berdasarkan kefahaman saja. Mungkin ada yang bias mengambil hal yang sederhana ini.

1.     Seorang akhli robot sedang berusaha menciptakan dan menyempurnakan robot. Lalu akhli robot itu merencanakan membuat taman di sebuah hutan yang jauh dari rumahnya. Dia mengirimkan robot-robotnya untuk membangun taman dan perumahan yang indah di hutan itu. Setiap robot dengan tugas dan desain khusus. Dan setiap robot terprogram untuk menemukan jalan pulang. Dan robot itu terhubung dengan remote control dengan sang pencipta robot itu. Sang robot adalah robot cerdas namun dikirim dengan kondisi “baru” kosong dan siap menerima program, hanya terisi operating system, namun program aplikasinya harus diinstal setelah tiba di tempat.

Program demi program akan diinstal dari jarak jauh bila robot itu telah terkoneksi dengan server utamanya. Robot yang baik pasti mampu menghidupkan saluran frekuensi “wifi” nya sehingga selalu terhubung dengan pusat pemancar. Dengan wifi ini mampu menghubungi web pusat. Dan tentunya harus memilih program yang sesuai dengan peruntukannya. Sehingga mampu membangun taman bermain ini. Bila tugasnya selesai maka mampu menerima petunjuk jalan pulang ke tempat penciptanya. Dan sang pencipta tahu mana robot yang sempurna. Bagi robot yang gagal maka tentu akan di daur ulang, masuk keranjang sampah. Sang pencipta akan memilih robot-robot yang berhasil dengan tugasnya.

2.     Perumpamaan kedua, bila seandainya robot ini berasal dari dimensi lain, dan robot ini berupa cahaya. Seperti ksatria langit atau entitas cahaya langit. Kita sebut saja robot ini dengan istilah robot RH (ruh) yang berasal dari jutaan atau milyaran robot RH di langit. Robot RH yang terpilih oleh sang pencipta robot RH untuk disempurnakan, untuk menyempurnakannya robot ini dikirimkan kea lam lain yaitu dunia untuk menjalankan tugas dari sang pencipta dan juga untuk menentukan mana robot RH yang terbaik. Bersama robot RH ini, sang pencipta menciptakan operating system yang kita istilahkan dengan M (semisal unix atau semacam itu) dan juga menciptakan program tugas di dunia yang diistilahkan dengan N (semisal Microsoft office atau yang lebih hebat lagi, program membuat rumah, program membuat jembatan, membangun bandara atau yang lebih hebat semisal membuat pesawat terbang, tv, hp dll).

Progam MN inilah yang akan diberikan sedikit demi sedikit disempurnakan untuk robot RH. Sang Pencipta robot RH ini ingin menyempurnakan RH ini sesuai dengan rencananya. Inilah MNRH yang kita sebut sebagai ksatria langit yang diturunkan ke alam dunia ini yaitu MNRH (MiN RuHi) yang terpilih dan berasal dari jutaan atau milayaran RHMN di alam lain atau dari RHMN (RaHMaN). MN RH ini setelah selesai menjalankan tugasnya di bumi ini harus mampu kembali pulang ke alamnya yaitu ke RHMN atau kembali ke Entitas Rahman.

3.     Petunjuk bagi Ksatria langit MNRH selama di alam dunia ini adalah Huda atau koneksi internet. Ksatria langit adalah cahaya. Cahaya adalah entitas dari entitas langit karena keberadaan cahaya inilah yang membuat entitas di alam ini terlihat dan nyata. Begitu entitas langit ini masuk ke raga, maka ada cahaya dalam diri raga ini yang membuat raga ini tahu, membuat raga ini mendengar, melihat, juga merasakan, ada entitas yang bekerja di telinga, mata dan hati. Ksatria langit ini akan berbentuk pas dengan apapun yang raganya tempati. Entitas ini seperti pelita yang berasal dari minyak zaitun yang siap dinyalakan untuk menerangi alam di sekitarnya.

Entitas ini semisal sang raga memiliki lampu senter yang menggunakan solar cell, atau cahaya matahari. Bila siang hari maka tidak perlulah menyalakan lampu center ini. Tetapi sayangnya sejak awal kita berasal di dalam ruang gelap atau ruang ketidaktahuan sama sekali, ruang tanpa cahaya saat bayi, dan mulai terbuka sedikit demi sedikit ada cahaya demi cahaya, namun ada yang tetap tertutup. Tetapi dalam diri selalu ada lampu senter yang siap dinyalakan agar kita mampu mencari jalan menuju jalan terang atau sumber cahaya. Kita bayangkan kita berada dalam terowongan yang gelap total namun kita “seolah melihat dalam angan-angan”, padahal kita tidak melihat yang sebenarnya. Kita perlu menyalakan lampu senter kita untuk mencari jalan agar keluar ke tempat terbuka dimana ada sinar matahari. Lampu Center inilah MNRH dan cahaya Matahari inilah seperti RHMN.

Entitas langit (MNRH/minruhi) yang berada di dalam diri seumpama cahaya mata, dengan mata inilah kita bias melihat dunia nyata asalkan ada cahaya di luar yaitu bulan, matahari, bintang atau pelita. Entitas langit (RHMN/rahman) yang berada di luar diri adalah semua yang ada di luar diri semisal cahaya matahari. Bila ada cahaya matahari maka semua akan terlihat.

MNRH (minruhi) yang mampu terhubung dengan RHMN (rahman) adalah koneksi yang kuat, terhubung dengan kuat. Sehingga mampu download program, download peta, mendapat petunjuk. Cahaya MN atau ruh MN adalah cahaya iMaN (MN) atau ruh (RH) iMaN atau RHMN. Cahaya Iman yang berada di cahaya Rahman. MNRH yang pulang kembali ke RHMN, seperti cahaya kecil berada di siang matahari. Selama berada di cahaya matahari maka jelaslah semuanya. Semua nyata, jelas dan tampak.

Petunjuk cahaya Matahari inilah yang diperlukan untuk agar mampu berjalan, mampu membangun, mampu melakukan tugas, bekerja, membangun dan apapun program yang harus dilakukan. Dan juga mampu kembali pulang. Tetapi bila tetap berada dalam kegelapan maka sulit sekali melakukan tugas dan juga sulit kembali pulang. Seolah sangat sulit menjelaskan ini, karena menjelaskan cahaya memang sangat sulit, tetapi juga sangat sederhana. Sesederhana membuka mata atau menyalakan api MNRH saat gelap. Dan bila saat siang hari dimana berlimpah RHMN maka cahaya api kecil dalam diri ini memang tidak diperlukan.

Mengenali entitas “Cahaya langit” dalam diri ini sangat mudah, sedemikian mudah dan sederhananya, tetapi juga sedemikian sulit dan luar biasanya. Sama persis dengan mengenali cahaya matahari. Anak umur satu tahun bisa dan mampu mengerti makna cahaya ini namun bisa disangkal oleh semua orang lain, dan juga setiap tingkat selanjunya memahami cahaya, tingkat demi tingkat, sd, smp, sma, kuliah dan lebih lanjut. Semakin mengenali cahaya dan semakin dalam dan semangin mengerti. Semakin luas dia melihat alam dalam kesadarannya. Sampai misalnya menjadi doctor Fisika yang mengenali cahaya. Apakah bedanya pengetahuan anak satu tahun dengan Sang doktor Fisika itu saat berkata, aku tahu cahaya itu.

Mengenali entitas sang aku, mengenali sang diri, mengenali diri sendiri yang sebenarnya adalah mengenali entitas cahaya yang ada di dalam raga kita. Entitas yang diturunkan dari AND dan untuk menjalankan tugas di bumi dan untuk disempurnakan dan diminta pulang kembali ke AND lagi.

Apakah tugas utama ksatria langit atau MNRH ini?,
atau apakah Amanah (MNH) yang dibebankan untuk MNRH ini?.
Tugasnya adalah untuk disempurnakan atau proses menyempurnakan (Q) MN menjadi NM, atau menyempurnakan anam atau nikmat Allah. Atau menyempurnakan nikmat Allah. Inilah rencana (R) Allah, inilah Hukum Allah, inilah program universal (R) dari Allah. Program untuk menyempurnakan (Q)  ini adalah program aplikasi yang diawal diistilahkan dengan N. Sehingga program aplikasi untuk menyempurnakan ini adalah QRN atau Quran.

Quran adalah program aplikasi yang harus di download untuk menyempurnakan diri dan juga untuk mampu kembali pulang. MNRH (minruhi) untuk kembali ke RHMN (rahman). Inilah proses membalik kesadaran MNRH menjadi RHMN. Membalik kesadaran kita melihat yang gaib. Melihat Rahman.

Mata realitas kita melihat cahaya yang nyata yaitu MNRH, sedangkan entitas langit melihat yang gaib yaitu RHMN. MNRH membalik RHMN.

Perumpamaan ini hanyalah perumpamaan, istilah dan istilah seperti saya mengumpakan engkau berani seperti singa yang perkasa. Perumpamaan ini untuk memudahkan atau menyerupakan, tetapi tidak ada satupun yang serupa. Maka perumpamaan lambing inipun hanya untuk menyerupakan. Agar mau berfikir, agar mau melihat secara lebih mudah.

Apakah sama seorang tuli dengan seorang yang mendengar?
Apakah sama seorang buta dengan seorang yang mampu melihat?
Apakah sama seorang yang berada di ruang yang gelap total dengan seorang yang di bawah sinar matahari?
Apakah sama seorang yang hatinya terang benderang oleh cahaya dengan seorang yang hatinya sempit, tertekan, gelap gulita, dengki, iri, marah kecewa dan tanpa petunjuk?.
Memahami apa yang kutuliskan ini semudah anak satu tahun memahami cahaya
Tetapi bisa jadi lebih sulit dibanding seorang akhli alam memahami cahaya
Tetapi apapun itu tergantung kesadaran, maukah kita melihat alam semesta ini?
Maukah berada dibawah cahaya matahari?

⏩ Bersambung ke 
Episode 8:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-8-para-penjelajah-cahaya.html


No comments:

Post a Comment

SAMUDRA SIMBOL

SAMUDRA SIMBOL 3 - BAHASA CAHAYA ======================================================================== Pengantar: https://samudrasimb...