7. Jalan pulang Sang Pengelana cahaya
Aku tak
tahu apa yang kutuliskan, memang ada rencana apa yang ingin kutuliskan, namun
pada saat akan mengirimkan, selalu saja berubah total. Selalu ada perintah atau
keyakinan untuk mengirimkan ini saja. Maka tulisan ini terutama bukan untuk
orang lain. Terutama tulisan untuk diriku sendiri. Untuk memperbaiki diriku
sendiri. Sebuah kisah untuk meyakinanku sendiri. Bila ada cahaya yang mampu
menerangi di hati yang membaca maka cahaya itu bukan berasal dariku.
Memang betapa inginku ikut menyalakan
lilin atau api dalam jiwamu, siapapun adanya engkau yang membaca ini, namun
semua itu diluar kemampuanku, kecuali dirimu sendiri yang meletakkan api
(energy) ini yang menyalakan obor untuk menerangi jalan dan langkahmu. Semoga.
Masalah terbesar kita adalah tidak mampu
atau tidak bisa “berkomunikasi”
dengan Allah. Karena Allah “bicara” dari balik layar. Dari screen. Bila kita
ada di dalam layar komputer. Maka yang sebenarnya bicara dengan kita adalah yang
ada di dalam komputer. Karena kita tidak akan mampu mengerti bahasa langsung
dari Allah. Kita hanya mampu mengerti bahasa yang ada di dalam komputer.
Komputer alam inilah yang berbicara
dalam program, rencana. Ketentuan, ketetapan. Kesadaran yang ada di komputer
alam inilah yang bicara dengan ruh dalam diri. Micro dan makro. Alam kecil dan
alam semesta. Kesadaran alam mikro. Ketika bicara dengan alam makro.
Sederhananya dimisalkan kesadaran anak balita ketika bicara dengan orang
tuanya. Yang akhli Ilmu alam misalnya.
Bandingkan kepandaian balita dengan saintis yaitu orang tuanya. Anak itu hanya
berkata orang tuanya sangat pandai. Tapi tidak tahu sampai dimana kepandaian
orang tuanya itu. Maka untuk belajar kepandaian orang tuanya memerlukan proses
dan waktu. Demikian permisalan sederhana.
Perumpamaan lainnya, semisal seorang
pengarang kisah novel, dan bagaimanakah caranya tokoh di dalam kisah novel itu “berhubungan” dengan pengarang itu.
Bagaimanakah tokoh yang diciptakan
itu berkomunikasi dengan sang penciptanya?. Bagaimana bila tokoh yang jahat
berdoa ingin berganti peran?.
Bagaimana pula bila semua orang dalam
novelnya ingin kaya?.
Dan bagaimana pula semua tokohnya
memohon untuk baik dan sempurna?.
Bisakah tokoh di dalam kisah itu bisa
bicara dan mengenal sang pengarangnya?,
sang penciptanya, yang menghidupkan
dan mematikan hidupnya dalam novel itu?.
Bagaimana caranya keluar dari kisah
novel dan masuk ke dimensi sang pengarang?.
Apakah dimensi sang pengarang sama
dengan dimensi kisah dalam novel?.
Samakah wujud sang tokoh dengan sang
pengarang?.
Samakah bahasa sang tokoh itu dengan
bahasa penciptaannya?.
Sang tokoh dalam novel itu hanya bisa
mengenali sang pengarang novel bila mampu mengenali sebanyak mungkin
tanda-tanda yang ada di dalam novel itu yang membuktikan bahwa novel itu adalah
ciptaannya, perasaan sang pengarang, konsep cerita, renungan, bahasa, kata,
kalimat dan hal lainnya yang membuktikan novel itu ciptaannya.
Demikian perumpamaan demi perumpamaan
untuk memudahkan membayangkan hubungan atau komunikasi hamba dengan tuannya,
manusia dengan Tuhannya. Bagaimana memikirkan Allah, bagaimana mengenali Allah.
Bagaimana membuktikan keberadaan Allah. Bagaimana melihat kenyataan Allah,
bagaimana mengenali kegaiban Allah. Bagaimana memikirkan Allah.
Ya sayangnya ketika berfikir tentang
Allah. Fikiran kita lebih banyak kosong. Kita sering tidak mampu merasa kalau
Allah itu hidup. Allah itu merasa. Allah itu mendengar. Allah itu melihat.
Allah itu berfikir. Allah itu berkehendak. Allah itu memiliki sifat. Allah
dalam gerak dan aktivitas. Fikiran kita selalu dalam angan tentang apa-apa yang
kita sendiri menganggap hampa atau mustahil. Tidak mungkin, atau kita sebut keraguan.
Maka ketika berkomunikasi kepada Allah. Biasanya kita hanya “bicara sendiri”. Dan tak pernah menangkap
apa yang dijawab oleh Allah.
Mengingat Allah…
Kalimat sederhana dan teramat
sederhana ini menjadi teoriris
Berpilin. Ruwet.. kompleks.. dan
sulit difahami..
Begitu carut marut.. dengan dogma..
dengan teori..
Dengan harus begini dan begitu..
Suatu hal yang teramat sangat
sederhana
Kita mengingat sebagaimana mengingat
biasanya
Berfikir sebagaimana biasanya
berfikir..
Lalu berproses terus menerus
Tergantung tingkat kesadaran
Atau tergantung ilmu yang dimilikinya
Meningkat dari SD, SMP, SMA..Universitas
dan seterusnya..
Tingkat kelas pengajaran Allah.
Maka apapun yang bisa dilakukan untuk
mengingat mari kita gunakan. Kita tidak bisa berenang. Hanya dengan membaca
kitab juara olimpiade renang. Kita harus mencari sungai atau kolam renang dan
mencoba berenang. Kita tidak bisa bersepeda, komputer. Dan lain-lain dengan hanya
membaca kisah saja. Belajar, berusaha. Kita tidak bisa mendapatkan gigi yang
bersih dan sehat. Dengan hanya meyakini sebuah metode gosok gigi terbaik saja.
Maka berusahalah gosok gigi. Belajarlah berenang. Berlatihlah naik sepeda.
Semisal itu berusahalah berfikir tentang Allah, apa saja. Terserah bagaimana metodenya.Yang penting
tetap tekun memikirkan Allah
Memikirkan alam dan ciptaanNya yang
lain.
Biar Allah yang menunjukkan jalan-jalannya.
Tentu saja bila ingin mengikuti salah satu jalan atau metode yang ditunjukkan.
Akan lebih baik karena lebih mudah dan lebih cepat. Seperti berlatih silat.
Dengan bertemu guru silat tentu saja akan lebih cepat. Karena tanpa guru memang
jauh lebih besar kemungkinan tersesat.
Mengingat Allah. Adalah proses
sederhana dan Mengenali Dzat yang Hidup.
Dzat yang pandai dan cerdas.
Dzat yang penuh gerak dan aktivitas. Selalu menjaga dan mencipta.
Dzat yang menyayangi. Dzat yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan olehNya.
Dzat yang memiliki sifat demikian ini. Menyebut nama dirinya dengan nama yang indah
Allah.
Maka ingatlah keindahannya dan
keindahan alam ciptaanNya saat mengingat Alam.
Mari kita mulai dengan yang paling
sederhana dan mudah.
Maka ingatlah kehebatanNya saat
mengingat keluarbiasaan dan kesempurnaan alam ciptaanNya. Maka ingatlah dan fikirkan apapun tentang
alam semesta ini. Lalu naikkan kesadaran sedikit saja. Bahwa semua itu dalam ketentuan dan aturan serta
liputan dan kekuasan Allah.
Maka berfikirlah. Lalu rasakan komunikasi itu
Rasakan saat Allah menjawab
Rasakan saat Allah mengajari
Rasakan saat Allah menyayangi
Rasakan saat Allah mencintai
Rasakan saat Allah menggerakkan
Rasakan saat Allah mengalirkan energy
Rasakan saat Allah meniupkan rasa
Rasakan saat Allah memberi kesadaran
Amati atas semua rasa. Saksikan
Saksikan dalam persaksian Maha suci Allah
Sesungguhnya semua ini Engkau
ciptakan tidak sia-sia..
Dan aku yang pertama-tama berserah
diri. Dalam perlindunganMu
Melanjutkan langkah yang sudah dimulai dengan
mengikuti surah Al Fatihah
Dengan menyebut
nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan,
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada
Engkaulah kami meminta pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula
jalan) mereka yang sesat.(QS. Al
Fatihah)
Mengikuti
jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An nur)
Entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi,
menjadi khalifah di bumi, mewakili kepentingan dan Rab di muka bumi.
Allah memberikan perumpamaan dan permisalan demi permisalan untuk kita
berfikir, untuk memudahkan kita menerima pesan kesadaran. Untuk mendapat
pengetahuan dan mendapat petunjuk. Maka perumpamaan inipun hanya akan berguna
bagi yang mau mencoba mengerti dan memahaminya.
Dalam berkisah inipun akan selalu menggunakan perumpamaan demi
perumpamaan. Mungkin salah satu atau lebih perumpamaan ada yang mampu
memahaminya tergantung tingkat pengetahuan yang memberi cobtoh (diriku) dan
juga tergantung yang membaca. Karena begitu sederhananya yang ingin disampaikan
tetapi sedemikian rumitnya untuk disampaikan.
Sebagai contoh sederhana, bila saya ingin mencoba memberi pengertian
tentang “rasa buah persimon”. Sangat
mudah bila saya hanya memberikan buah itu dan orang memakannya. Tetapi
bagaimana caranyapun saya menyampaikan maka teramat sangat sulit kecuali saya
membuat perumpamaan. Misalnya, itu seumpama buah kesemek rasanya, dan orang
yang sudah pernah makan buah itu akan mampu mendekati rasanya, sehingga suatu
saat bila dia menemukan buah persimon yang sebenarnya, dia akan mampu meyakini
bahwa itulah buah persimon yang saya coba katakan.
Masalahnya bila orang itu belum pernah makan buah kesemek, maka diapun
akan kebingungan, maka saya akan memudahkan lagi dengan contoh yang agak lebih
jauh yaitu buah apel. Tetapi sekalipun apel orang masih akan berdebat, apakah
apel malang, apel yang ini atau apel yang itu. Tetapi semuanya tetap salah,
sampai dia mampu menemukan buah persimon seperti yang digambarkan dan
memakannya. Namun bisa jadi saat makan buah persimon, dia akan memiliki
persepsi yang berbeda, ada yang berkata enak, atau tidak enak, ada yang berkata
sangat beda dan lainnya.
Mengikuti
jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An nur)
Entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi,
menjadi khalifah di bumi, mewakili kepentingan dan Rab di muka bumi.
Allah memberikan perumpamaan tentang cahaya dalam Al Quran dalam surah
yang berjudul Cahaya. Sebuah perumpamaan yang sangat sederhana, tetapi juga teramat
sangat sulit dan luar biasa. Karena makna cahaya yang menurut sains itu
sedemikian dalam dan luar biasa. Sedemikan hebat rumit dan luar biasa makna
cahaya ini. Ummat manusia atau akhli ilmu alam telah bergabung, berlomba-lomba
mencoba mengerti makna cahaya ini. Sedemikan banyak dana dan waktu yang telah
diusahakan. Berkumpul begitu banyak manusia cerdas dan mencurahkan seluruh
waktu dan hidupnya untuk mengerti tentang cahaya ini.
Kemajuan makna cahaya ini telah membawa ummat manusia ke era yang tak
terbayangkan, era technology yang luar biasa. Kemajuan yang tak terbayangkan,
seolah mimpi. Kita mampu melihat “hal-hal
ajaib” bahkan saat kita masih kecil tak terbayangkan sekalipun dalam mimpi.
Komputer, robot, pesawat terbang, televisi, mobile phone adalah hal sehari-hari
yang biasa kita lihat. Tetapi bila kita bawa ke 50 tahun yang lalu maka kita
akan menjadi makhluk aliens yang ajaib. Bayangkan kita dating dengan pesawat
terbang ke tahun 1900 membawa televisi, hp, dll, mungkin kita dianggap dewa,
dan bila kisah itu dikisahkan ke anak cucunya maka akan menjadi legenda para
dewa.
Para akhli yang menekuni cahaya ini memang sudah mampu menguak
sebagian kecil makna cahaya itu, tetapi masih begitu banyak misteri cahaya yang
tak terpecahkan. Para akhli masih tetap “tidak
tahu” apa itu cahaya. Seperti sesuatu itu bias dikatakan sebagai tumbuhan,
tetapi juga hewan, atau bias dikatakan sebagai hidup tetapi juga tidak hidup.
Bisa dikatakan sebagai materi, tetapi gelombang dan juga sebagai energy.
Al Quran membuat perumpamaan yang diberikan kepada manusia sekitar
1500 tahun yang lalu di padang pasir yang terbelakang, dan bisa difahami oleh
manusia di jaman itu dan di tempat itu. Dan tetapi juga bias difahami manusia
di jaman ini, dimanapun tempatnya berada.
Perumpaannya
adalah berikut:
Allah (Pemberi) cahaya (kepada)
langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misbah (lubang
yang tak tembus), yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca
(dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang
dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun
yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat
(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh
api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya
siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An nur 35)
Aku tidak mencoba menjelaskan ayat demi ayat dalam surah ini, silahkan
dimaknai dan silahkan mencoba bertanya kepada akhlinya. Yang akan kuceritakan
adalah membuat perumpamaan atau contoh atau permisalan berdasarkan surah itu
tentu saja berdasarkan kefahaman saja. Mungkin ada yang bias mengambil hal yang
sederhana ini.
1.
Seorang akhli robot sedang berusaha menciptakan
dan menyempurnakan robot. Lalu akhli robot itu merencanakan membuat taman di
sebuah hutan yang jauh dari rumahnya. Dia mengirimkan robot-robotnya untuk
membangun taman dan perumahan yang indah di hutan itu. Setiap robot dengan
tugas dan desain khusus. Dan setiap robot terprogram untuk menemukan jalan
pulang. Dan robot itu terhubung dengan remote control dengan sang pencipta
robot itu. Sang robot adalah robot cerdas namun dikirim dengan kondisi “baru”
kosong dan siap menerima program, hanya terisi operating system, namun program
aplikasinya harus diinstal setelah tiba di tempat.
Program demi program akan diinstal dari jarak jauh bila robot itu
telah terkoneksi dengan server utamanya. Robot yang baik pasti mampu
menghidupkan saluran frekuensi “wifi” nya sehingga selalu terhubung dengan
pusat pemancar. Dengan wifi ini mampu menghubungi web pusat. Dan tentunya harus
memilih program yang sesuai dengan peruntukannya. Sehingga mampu membangun
taman bermain ini. Bila tugasnya selesai maka mampu menerima petunjuk jalan
pulang ke tempat penciptanya. Dan sang pencipta tahu mana robot yang sempurna.
Bagi robot yang gagal maka tentu akan di daur ulang, masuk keranjang sampah.
Sang pencipta akan memilih robot-robot yang berhasil dengan tugasnya.
2. Perumpamaan
kedua, bila seandainya robot ini berasal dari dimensi lain, dan robot ini
berupa cahaya. Seperti ksatria langit atau entitas cahaya langit. Kita sebut
saja robot ini dengan istilah robot RH (ruh) yang berasal dari jutaan atau
milyaran robot RH di langit. Robot RH yang terpilih oleh sang pencipta robot RH
untuk disempurnakan, untuk menyempurnakannya robot ini dikirimkan kea lam lain
yaitu dunia untuk menjalankan tugas dari sang pencipta dan juga untuk
menentukan mana robot RH yang terbaik. Bersama robot RH ini, sang
pencipta menciptakan operating system yang kita istilahkan dengan M
(semisal unix atau semacam itu) dan juga menciptakan program tugas di dunia
yang diistilahkan dengan N (semisal Microsoft office atau yang lebih
hebat lagi, program membuat rumah, program membuat jembatan, membangun bandara
atau yang lebih hebat semisal membuat pesawat terbang, tv, hp dll).
Progam MN
inilah yang akan diberikan sedikit demi sedikit disempurnakan untuk robot RH.
Sang Pencipta robot RH ini ingin menyempurnakan RH ini sesuai dengan rencananya.
Inilah MNRH
yang kita sebut sebagai ksatria langit yang diturunkan ke alam dunia ini yaitu MNRH (MiN RuHi)
yang terpilih dan berasal dari jutaan atau milayaran RHMN di alam lain atau dari RHMN
(RaHMaN). MN
RH ini setelah selesai menjalankan tugasnya di bumi ini harus mampu
kembali pulang ke alamnya yaitu ke RHMN atau kembali ke Entitas Rahman.
3. Petunjuk
bagi Ksatria langit MNRH selama di alam dunia ini adalah Huda atau
koneksi internet. Ksatria langit adalah cahaya. Cahaya adalah entitas dari
entitas langit karena keberadaan cahaya inilah yang membuat entitas di alam ini
terlihat dan nyata. Begitu entitas langit ini masuk ke raga, maka ada cahaya
dalam diri raga ini yang membuat raga ini tahu, membuat raga ini mendengar,
melihat, juga merasakan, ada entitas yang bekerja di telinga, mata dan hati.
Ksatria langit ini akan berbentuk pas dengan apapun yang raganya tempati.
Entitas ini seperti pelita yang berasal dari minyak zaitun yang siap dinyalakan
untuk menerangi alam di sekitarnya.
Entitas
ini semisal sang raga memiliki lampu senter yang menggunakan solar cell, atau
cahaya matahari. Bila siang hari maka tidak perlulah menyalakan lampu center
ini. Tetapi sayangnya sejak awal kita berasal di dalam ruang gelap atau ruang
ketidaktahuan sama sekali, ruang tanpa cahaya saat bayi, dan mulai terbuka
sedikit demi sedikit ada cahaya demi cahaya, namun ada yang tetap tertutup.
Tetapi dalam diri selalu ada lampu senter yang siap dinyalakan agar kita mampu
mencari jalan menuju jalan terang atau sumber cahaya. Kita bayangkan kita
berada dalam terowongan yang gelap total namun kita “seolah melihat dalam
angan-angan”, padahal kita tidak melihat yang sebenarnya. Kita perlu menyalakan
lampu senter kita untuk mencari jalan agar keluar ke tempat terbuka dimana ada
sinar matahari. Lampu Center inilah MNRH dan cahaya Matahari inilah seperti RHMN.
Entitas
langit (MNRH/minruhi)
yang berada di dalam diri seumpama cahaya mata, dengan mata inilah kita bias
melihat dunia nyata asalkan ada cahaya di luar yaitu bulan, matahari, bintang
atau pelita. Entitas langit (RHMN/rahman) yang berada di luar diri adalah
semua yang ada di luar diri semisal cahaya matahari. Bila ada cahaya matahari
maka semua akan terlihat.
MNRH (minruhi) yang mampu terhubung dengan RHMN (rahman) adalah koneksi yang kuat, terhubung
dengan kuat. Sehingga mampu download program, download peta, mendapat petunjuk. Cahaya MN atau ruh
MN
adalah cahaya iMaN
(MN) atau ruh (RH) iMaN atau RHMN. Cahaya Iman yang berada di cahaya
Rahman. MNRH
yang pulang kembali ke RHMN, seperti cahaya kecil berada di siang
matahari. Selama berada di cahaya matahari maka jelaslah semuanya. Semua nyata,
jelas dan tampak.
Petunjuk cahaya Matahari
inilah yang diperlukan untuk agar mampu berjalan, mampu membangun, mampu
melakukan tugas, bekerja, membangun dan apapun program yang harus dilakukan.
Dan juga mampu kembali pulang. Tetapi bila tetap berada dalam kegelapan maka
sulit sekali melakukan tugas dan juga sulit kembali pulang. Seolah sangat sulit
menjelaskan ini, karena menjelaskan cahaya memang sangat sulit, tetapi juga
sangat sederhana. Sesederhana membuka mata atau menyalakan api MNRH saat gelap. Dan bila saat siang hari dimana
berlimpah RHMN
maka cahaya api kecil dalam diri ini memang tidak diperlukan.
Mengenali entitas “Cahaya
langit” dalam diri ini sangat mudah, sedemikian mudah dan sederhananya,
tetapi juga sedemikian sulit dan luar biasanya. Sama persis dengan mengenali
cahaya matahari. Anak umur satu tahun bisa dan mampu mengerti makna cahaya ini
namun bisa disangkal oleh semua orang lain, dan juga setiap tingkat selanjunya
memahami cahaya, tingkat demi tingkat, sd, smp, sma, kuliah dan lebih lanjut.
Semakin mengenali cahaya dan semakin dalam dan semangin mengerti. Semakin luas
dia melihat alam dalam kesadarannya. Sampai misalnya menjadi doctor Fisika yang
mengenali cahaya. Apakah bedanya pengetahuan anak satu tahun dengan Sang doktor
Fisika itu saat berkata, aku tahu cahaya itu.
Mengenali entitas sang aku, mengenali sang diri, mengenali diri
sendiri yang sebenarnya adalah mengenali entitas cahaya yang ada di dalam raga
kita. Entitas yang diturunkan dari AND dan untuk menjalankan tugas di bumi dan
untuk disempurnakan dan diminta pulang kembali ke AND lagi.
Apakah tugas utama ksatria
langit atau MNRH
ini?,
atau apakah Amanah (MNH) yang dibebankan untuk MNRH ini?.
Tugasnya adalah untuk disempurnakan atau proses menyempurnakan (Q) MN menjadi NM, atau menyempurnakan anam atau nikmat
Allah. Atau menyempurnakan nikmat Allah. Inilah rencana (R) Allah, inilah Hukum Allah,
inilah program universal (R) dari Allah. Program untuk menyempurnakan (Q) ini adalah program aplikasi yang diawal
diistilahkan dengan N. Sehingga program aplikasi untuk
menyempurnakan ini adalah QRN atau Quran.
Quran adalah program aplikasi yang harus di download untuk
menyempurnakan diri dan juga untuk mampu kembali pulang. MNRH (minruhi) untuk kembali ke RHMN
(rahman). Inilah proses membalik kesadaran MNRH menjadi RHMN. Membalik kesadaran kita
melihat yang gaib. Melihat Rahman.
Mata realitas
kita melihat cahaya yang nyata yaitu MNRH,
sedangkan entitas langit melihat yang gaib yaitu RHMN. MNRH membalik RHMN.
Perumpamaan ini hanyalah perumpamaan, istilah dan istilah seperti saya
mengumpakan engkau berani seperti singa yang perkasa. Perumpamaan ini untuk
memudahkan atau menyerupakan, tetapi tidak ada satupun yang serupa. Maka
perumpamaan lambing inipun hanya untuk menyerupakan. Agar mau berfikir, agar
mau melihat secara lebih mudah.
Apakah
sama seorang tuli dengan seorang yang mendengar?
Apakah
sama seorang buta dengan seorang yang mampu melihat?
Apakah
sama seorang yang berada di ruang yang gelap total dengan seorang yang di bawah
sinar matahari?
Apakah
sama seorang yang hatinya terang benderang oleh cahaya dengan seorang yang
hatinya sempit, tertekan, gelap gulita, dengki, iri, marah kecewa dan tanpa
petunjuk?.
Memahami
apa yang kutuliskan ini semudah anak satu tahun memahami cahaya
Tetapi
bisa jadi lebih sulit dibanding seorang akhli alam memahami cahaya
Tetapi
apapun itu tergantung kesadaran, maukah kita melihat alam semesta ini?
Maukah
berada dibawah cahaya matahari?
⏩ Bersambung ke Episode 8:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-8-para-penjelajah-cahaya.html
No comments:
Post a Comment