Thursday, 1 February 2018

Episode 8. Para penjelajah cahaya


8. Para penjelajah cahaya


Entitas aku yang disebut jiwa, maka memahami entitas jiwa ini bila kita, mengerti ilmu pengetahuan modern tentang cahaya akan sangat mudah memahami dan juga akan sangat mengerti dengan semua paradoks dan juga sangat mengerti dengan kesulitannya karena entitas cahaya di alam ini memang demikian membingungkan. 

Era awal pengetahuan manusia menganggap cahaya adalah gelombang lalu berubah dianggap sebagai partikel lalu disadari memiliki dualitas partikel dan gelombang, lalu selanjutnya ternyata adalah paket-paket energy (kuanta/kuantum) tetapi juga ternyata adalah gelombang listrik dan gelombang magnet yaitu elektromagnetis atau secara kasarnya adalah partikel juga energy dan juga gelombang elektromagnetis yang berkesadaran yang bergerak.

Kesadaran yang mengamati cahaya dan cahaya yang diamati, saling berinteraksi dan terhubung, bila sang pengamat menyimpulkan sebagai partikel maka cahaya akan mengikuti ukum partikel dan bila sang pengamat menyimpulkan sebagai energy maka cahaya itupun berlaku sebagai paket energy (kuanta) dan demikian pula bila memperlakukan sebagai gelombang elektromagnetis maka juga akan mengikuti kelakuan dan sifat gelombangmaka sang pengamat menjadi penentu, maka dalam kajian inilah yang ingin diberikan titik pemahaman , sang aku, sang pengamat dari sang pengamat diri dan menjadi Sang Alam.

Kesadaran diri dan Kesadaran Alam, kajian ini sedemikian sulitnya karena kita tidak memiliki referensi atas akherat, kita tidak memiliki pengetahuan sama sekali, karena sedemikian berbelitnya maka simbol menjadi sebuah alternatif untuk memudahkan, sebagaimana akhli ilmu alam membuat formula atau rumus misalnya Newton, Enstein menjelaskan sebuah Hukum alam tanpa memiliki background atas simbol itu maka tidak ada gunanya.

Maka entitas cahaya yang membuat kita hidup, bergerak, berkesadaraan berfikir dan merasakan ini akan disebut dengan banyak nama, dengan banyak lambing, banyak istilah. Namun kita dengan sangat mudah membedakan entitas ini. Bila Entitas ini masih ada dalam raga, maka kita masih disebut makhluk hidup dan bila telah tidak ada maka hanya ada jasad atau mayat. Bila kita lambangkan dengan istilah sebelumnya kita sebut sebagai minruhi (MNRH), ksatria langit, Pengelana cahaya. Para penjelajah cahaya. Semua sesuai keadaan atau peristiwanya. Tetapi kita dengan mudah mengerti apa yang dimaksudkan.

Kali ini entitas hidup, sadar, cerdas dari langit atau entitas cahaya itu akan disebut ‘Pengelana cahaya, pemberi kabar nikmat Tuhan’. Entitas inilah yang menjadi sensor bagi rasa, sebagai detektor, reseptor, penerima sehingga mampu melihat, mendengar dan merasakan. Terutama indera perasa, panca indera raga dan tentu saja indera jiwa atau hati. Karena hatipun memiliki mata, telinga dan perasa sehingga mampu merasakan nikmat, senang, sedih, sakit, marah, kecewa, duka, derita, puas atau ridho. Inilah sensor rasa itu.

Juga telah dijelaskan secara symbol cahaya entitas cahaya ini ada dalam diri yaitu MNRH dan ada diluar diri yaitu RHMN. Keduanya baik yang di dalam maupun yang diluar mampu diindera dan dirasakan. Maka keduanya bisa dikatakan sebagai sumber rasa nikmat atau kepuasan. Bisa dikatakan bahwa sumber kenikmatan adalah MNRH bila ada di dalam jiwa dan bila di luar jiwa adalah RHMN. Tentu saja bisa diibaratkan yang di dalam seumpama segelas air dan yang di luar seluas danau atau samudra tak bertepi.

·       Sensor raga yaitu panca indera mampu merasakan semua rasa nikmat, yaitu nikmat makan, minum, nikmat udara segar, nikmat yang diterima oleh mata, telinga, kulit, hidung atau lidah. Sensor ini menimbulkan kenikmatan raga yang biasanya kita sebut ebagai kesenangan.
·       Sensor jiwa yaitu nafs juga memiliki serupa itu seumpama panca indera jiwa, yang mampu merasakan kesenangan lebih dalam lagi yaitu kenikmatan jiwa, perasaan, hubungan sesama manusia, cinta persahabatan dan lain-lainnya. Rasa nikmat inilah yang ingin disampaikan disini.
·       Sensor ruh,  MNRH inipun bisa terhubung dengan samudra sensor di luar yaitu RHMN sehingga mampu lebih peka dalam merasakan nikmat yang lebih tinggi. Nikmat bersama alam, dan nikmat berada dekat dengan Allah.

Rasa nikmat dalam RHMN ini sangat sulit difahami karena ketiadaan referensi atau kesulitan mengerti yang mana sebetulnya nikmat itu. Seumpama bayi berada di dalam Rahim (RHM). Semua serba ada, tersedia, makan, minum, tempat tinggal, perlindungan dan lain-lainnya. Kenikmatan di alam ruh inilah kenikmatan yang lebih tinggi yang dicari. Rasa nikmat yang dilimpahkan dari atas yaitu dari RHMN. Kenikmatan yang berasal dari luar, dari langit. Kenikmatan yang dibawa oleh cahaya.

Para penjelajah cahaya yang turun ke alam dunia ini bertujuan untuk mengabarkan nikamt Tuhan yang dibawa oleh RHMN (rahman). Maka tugas para penjelajah cahaya ini bertugas memberi kabar adanya nikmat ini. Bertugas menyiarkan kabar berita ini. Tentu saja setelah diri sendiri mampu merasakan nikmat ini.

Dari pembahasan sebelumnya sudah dikisahkan bahwa Huda atau petunjuk itu bila diterima akan berwujud dalam bentuk nikmat. Atau relasi diterimanya petunjuk itu adalah rasa nikmat. Dan rasa nikmat itu menimbulkan kepuasan atau Ridho. Sehingga petunjuk atau Huda (HD) berwujud rido (RD).

Surah Al Lail dan Ad Duha ini menunjukkan relasi ‘antara Huda dan nikmat dan Rido’. Dan tugas bagi yang sudah merasakan ini adalah memberi kabar tentang nikmat Tuhan ini kepada yang lain. Sehingga tugas entitas jiwa ini adalah untuk ‘disempurnakan nikmat olehNya’.

Untuk merasakan nikmat yang lebih baik dan lebih baik lagi atau nikmat yang lebih sempurna lagi. Dan semua yang sudah dirasakan ini harus dikabarkan kepada yang belum mampu merasakannya.

Q.S Al Lail (ayat 11-21)
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
11. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.
12. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk (huda)
13.dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.
14.Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.
15.Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
16.yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17.Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18.yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19.padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni'mat kepadanya yang harus dibalasnya,
20.tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
21.Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan (rido)

Q.S Duha (ayat 1-11).
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1.    Demi waktu matahari sepenggalahan naik,”
2.    dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),”
3.    Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci” kepadamu.
4.    Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
5.    Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas (rido).
6.    Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ?”
7.    Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.”
8. “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
9.    “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”
10.  “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.”
11.  “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” 

Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?,
sebuah pertanyaan yang diulangi dan diulangi dan diulangi, sebuah nikmat?,
kata sederhana ini sedemikian sulitnya dimengerti!.

Nikmat ini sedemikian privacy atau pribadi. Suatu nikmat bagi seseorang bisa berarti musibah bagi yang lain. Nimat kelahiran seorang anak yang telah ditunggu puluhan tahun, bisa merupakan musibah bagi seorang yang tidak menginginkannya yang hidup serba kekurangan dan sudah memiliki sepuluh anak misalnya. Atau musibah bagi seotrang gadis yang belum bersuami.

Nikmat segarnya air putih di hari panas terik bisa saja biasa saja di hari yang lain. Nikmat makanan bisa merupakan musibah bagi seorang yang alergy terhadap makanan tersebut. Maka kata nikmat ini sedemikian asingnya.

Sayangnya sesuatu yang tidak menimbulkan nikmat tidak selalu mudah dikerjakan dan sebaliknya sesuatu yang menimbulkan rasa nikmat maka semua orang akan melakukan pengejaran. Pengejaran untuk merasakan rasa puas atas nikmat itu. Rasa puas setelah menikmati makanan yang lezat, rasa puas setelah menikmati pertunjukan, rasa nikmat kebutuhan jasmani yang lainnya, semua yang menimbulkan nikmat inilah yang akan dilakukan secara sukarela oleh raga, karena inilah yang diterima oleh sensor raga.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan, Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; 
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Rasa nikmat yang sama seperti yang dialami raga ini ketika mengikuti Huda. Rasa nikmat ini akan dirasakan jiwa dan dirasakan oleh raga bahkan melebihinya. Rasa nikmat saat beribadah, sholat, zakat, puasa atau perbuatan menolong, berbuat baik, berlaku ramah, sopan santun, menyantuni, memberi nasehat, membimbing dan perbuatan yang lainnya. Perbuatan yang  mengikuti Huda dan menimbulkan rasa nikmat.

Dibawah bimbingan Huda akan ada rasa nikmat sebagaimana orang-orang terdahulu yang selalu dalam rasa nikmat. Bila "merasa" sudah dalam Huda tetapi belum ada rasa nikmat, maka coba maknai surah Al Fatihah lagi, apakah ayatnya yang salah ataukah diri kita yang salah?. Bila sudah merasakan rasa nikmat, maka undanglah lingkungan di sekitar kita, istri, suami, anak, saudara, teman untuk datang dan merasakan nikmat itu. Seperti kita membuat makanan yang nikmat maka kita mengundang datang ke rumah untuk mencoba makanan kita. 

Sering kali kita menyalahkan orang lain, menyalahkan makanan orang tidak enak, jorok, tidak sehat dan sebagainya, dan hanya menyatakan makanannya yang terbaik. Tetapi tidak pernah mengundang untuk datang dan menyajikan makanan yang enak tersebut. Seringkali justru masih dalam angan-angan belaka.

Tugas Sang Penjelajah cahaya justru sangat sederhana yang merasakan nikmat dan semakin sempurnanya nikmat yang akan dirasakan lalu mengabarkan, menyiarkan pengalaman tentang rasa nikmat itu. Mengundang siapa saja untuk merasakan rasa nikmat yang sudah dirasakan.

Huda atau petunjuk adalah cahaya, seperti cahaya matahari pagi, bila ada maka semua akan nampak jelas, semua hal terlihat baik buruk, indah atau tak teratur. Maka tentu saja bisa memilih yang paling indah, paling nikmat dari yang nampak itu. Ilmu atau pengetahuan adalah Huda atau petunjuk dalam memilih jalan hidup. Tentu saja semua ini harus menggunakan Akal. Belajar, mendengarkan menggunakan akalnya untuk mendapatkan Huda.

Namun akal tidak mampu sampai menuju rasa, arah fikiran dan rasa seperti ketidakpastian Heisenberg yang tidak bisa dipastikan. Kita bisa menentukan arah fikiran tetapi tidak mampu menentukan rasanya. Sedangkan bila menentukan rasa maka tidak bisa mengarahkan fikiran. Arah fikiran seperti saat kita memukul bola golf dan rasa seperti posisi saat bola itu sampai ditanah. Kita bisa menetukan arah memukul tapi tidak bisa menetukan di titik mana bola itu akan turun. Dan bila kita sudah berada di titik yang dimaksud. Bila ada ribuan bola maka kitapun tidak mampu menentukan dari arah mana bola itu berasal.

Kita sederhanakan saja dengan lambang.
Bila
M= arah fikiran (akal)
N= posisi rasa

Bila arah fikiran M menuju Allah maka N akan berasa nikmat, maka inilah IMAN.
Langkah demi langkah M menuju N ini seperti dalam Al Fatehah.
Secara sederhana, posisi M dan N adalah sebagaimana posisi ayat dimana akhiran ketujuh ayat tersebut adalah M (mim) dan N (nun).

Misalnya posisi pertama adalah Bismillahi rohmani rohim. Inilah posisi arah kesadaran pertama yang menuju Allah yaitu Yang Rahman dan Rohiem.

Posisi Rohman Rohim secara lambang bisa kita tuliskan RHMN RHM.
Kita bila tuliskan RHM N RHM, Posisi rasa N harus berada di dalam RHM.
Inilah posisi rasa nikmat yaitu selau berada di dalam RHM (rahiem).
Dengan bahasa lainnya posisi rasanya ada dalam liputan Rahim. 
inilah posisi dzikrullah secara otomatis, karena selalu diliputi Rahim.

Rasa nikmat atau NM (anam) atau nikmatullah Nikmat ALLAH, rasa nikmat yang berasal langsung (dekat) dari Allah, karena nikmat itu bisa berasal dari raga atau materi (tidak langsung atau hanya pantulan). Selanjutnya nikmat demi nikmat ini Allah menginginkan untuk disampaikan, dikabarkan, disyiarkan. Bila ingin rasa nikmat ini bertambah, dilipatgandakan atau disempurnakan. Bila tidak mau, maka nikmat inipun akan ditunda, atau akan dihilangkan. Karena demikianlah tugas Sang Pengelana cahaya.

Siapapun engkau yang tengah dalam nikmat Allah ini. Nikmat Islam, nikmat Iman, nikmat Ihsan atau nikmat Allah yang lainnya. Bertugas untuk mengundang orang di sekitarnya, berbagi nikmat yang dirasakannya, berbagi kebahagiaan, berbagi ketenangan, berbagi kedamaian. Berbagi keindahan, berbagi ilmu pengetahuan, berbagi kesadaran atas nikmat yang telah Allah berikan.

Sebetulnya semua ini sangat sederhana, sedemikian sederhananya tetapi saling berkaitan sehingga sulit untuk dikisahkan sepotong-sepotong. Sedemikian mudahnya dan tidak perlu berfikir banyak, hanya satu arah fikiran, yaitu mengingat Allah. Apapun cara metode untuk mengingat Allah. Sedikit demi sedikit lama-lama akan sampai, naik sedikit sedikit, bertambah akan sampai juga. Semoga kebahagiaan meliputi kita, ketenangan, kedamaian, kesejahteraan. Kenikmatan yang akan Allah limpahkan.


⏩ Bersambung ke 
Episode 9:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-9-legenda-sang-pendekar-dari.html

No comments:

Post a Comment

SAMUDRA SIMBOL

SAMUDRA SIMBOL 3 - BAHASA CAHAYA ======================================================================== Pengantar: https://samudrasimb...