8.
Para penjelajah cahaya
Entitas
aku yang disebut jiwa, maka memahami entitas jiwa ini bila kita,
mengerti ilmu pengetahuan modern tentang cahaya akan sangat mudah memahami dan
juga akan sangat mengerti dengan semua paradoks dan juga sangat mengerti dengan
kesulitannya karena entitas cahaya di alam ini memang demikian
membingungkan.
Era awal pengetahuan manusia menganggap cahaya adalah gelombang lalu
berubah dianggap sebagai partikel lalu disadari memiliki dualitas partikel dan
gelombang, lalu selanjutnya ternyata adalah paket-paket energy (kuanta/kuantum)
tetapi juga ternyata adalah gelombang listrik dan gelombang magnet yaitu
elektromagnetis atau secara kasarnya adalah partikel juga energy dan juga
gelombang elektromagnetis yang berkesadaran yang bergerak.
Kesadaran yang mengamati cahaya dan cahaya yang diamati, saling
berinteraksi dan terhubung, bila sang pengamat menyimpulkan sebagai partikel
maka cahaya akan mengikuti ukum partikel dan bila sang pengamat menyimpulkan
sebagai energy maka cahaya itupun berlaku sebagai paket energy (kuanta) dan
demikian pula bila memperlakukan sebagai gelombang elektromagnetis maka juga
akan mengikuti kelakuan dan sifat gelombangmaka sang pengamat menjadi penentu,
maka dalam kajian inilah yang ingin diberikan titik pemahaman , sang aku,
sang pengamat dari sang pengamat diri dan menjadi Sang Alam.
Kesadaran diri dan Kesadaran
Alam, kajian ini sedemikian sulitnya karena kita tidak memiliki referensi
atas akherat, kita tidak memiliki pengetahuan sama sekali, karena sedemikian
berbelitnya maka simbol menjadi sebuah alternatif untuk memudahkan, sebagaimana
akhli ilmu alam membuat formula atau rumus misalnya Newton, Enstein menjelaskan
sebuah Hukum alam tanpa memiliki background atas simbol itu maka tidak ada
gunanya.
Maka entitas cahaya yang membuat kita hidup, bergerak, berkesadaraan
berfikir dan merasakan ini akan disebut dengan banyak nama, dengan banyak
lambing, banyak istilah. Namun kita dengan sangat mudah membedakan entitas ini.
Bila Entitas ini masih ada dalam raga, maka kita masih disebut makhluk hidup
dan bila telah tidak ada maka hanya ada jasad atau mayat. Bila kita lambangkan
dengan istilah sebelumnya kita sebut sebagai minruhi (MNRH), ksatria langit, Pengelana
cahaya. Para penjelajah cahaya. Semua sesuai keadaan atau peristiwanya. Tetapi
kita dengan mudah mengerti apa yang dimaksudkan.
Kali ini entitas hidup, sadar, cerdas dari langit atau entitas cahaya
itu akan disebut ‘Pengelana cahaya,
pemberi kabar nikmat Tuhan’. Entitas inilah yang menjadi sensor bagi rasa,
sebagai detektor, reseptor, penerima sehingga mampu melihat, mendengar dan
merasakan. Terutama indera perasa, panca indera raga dan tentu saja indera jiwa
atau hati. Karena hatipun memiliki mata, telinga dan perasa sehingga mampu
merasakan nikmat, senang, sedih, sakit, marah, kecewa, duka, derita, puas atau
ridho. Inilah sensor rasa itu.
Juga telah dijelaskan secara symbol cahaya entitas cahaya ini ada
dalam diri yaitu MNRH dan ada diluar diri yaitu RHMN. Keduanya baik yang di
dalam maupun yang diluar mampu diindera dan dirasakan. Maka keduanya bisa
dikatakan sebagai sumber rasa nikmat atau kepuasan. Bisa dikatakan bahwa sumber
kenikmatan adalah MNRH bila
ada di dalam jiwa dan bila di luar jiwa adalah RHMN. Tentu saja bisa
diibaratkan yang di dalam seumpama segelas air dan yang di luar seluas danau
atau samudra tak bertepi.
· Sensor raga
yaitu panca indera mampu merasakan semua rasa nikmat, yaitu nikmat makan,
minum, nikmat udara segar, nikmat yang diterima oleh mata, telinga, kulit,
hidung atau lidah. Sensor ini menimbulkan kenikmatan raga yang biasanya kita
sebut ebagai kesenangan.
·
Sensor
jiwa yaitu nafs
juga memiliki serupa itu seumpama panca indera jiwa, yang mampu merasakan
kesenangan lebih dalam lagi yaitu kenikmatan jiwa, perasaan, hubungan sesama
manusia, cinta persahabatan dan lain-lainnya. Rasa nikmat inilah yang ingin
disampaikan disini.
· Sensor ruh, MNRH inipun bisa terhubung dengan samudra
sensor di luar yaitu RHMN sehingga mampu lebih peka dalam merasakan
nikmat yang lebih tinggi. Nikmat bersama alam, dan nikmat berada dekat dengan
Allah.
Rasa nikmat dalam RHMN ini sangat sulit difahami karena
ketiadaan referensi atau kesulitan mengerti yang mana sebetulnya nikmat itu.
Seumpama bayi berada di dalam Rahim (RHM). Semua serba ada, tersedia, makan,
minum, tempat tinggal, perlindungan dan lain-lainnya. Kenikmatan di alam ruh
inilah kenikmatan yang lebih tinggi yang dicari. Rasa nikmat yang dilimpahkan
dari atas yaitu dari RHMN. Kenikmatan yang berasal dari luar, dari
langit. Kenikmatan yang dibawa oleh cahaya.
Para penjelajah cahaya yang turun ke alam dunia ini bertujuan untuk
mengabarkan nikamt Tuhan yang dibawa oleh RHMN (rahman).
Maka tugas para penjelajah cahaya ini bertugas memberi kabar adanya nikmat ini.
Bertugas menyiarkan kabar berita ini. Tentu saja setelah diri sendiri mampu
merasakan nikmat ini.
Dari pembahasan sebelumnya sudah dikisahkan bahwa Huda atau petunjuk
itu bila diterima akan berwujud dalam bentuk nikmat. Atau relasi diterimanya
petunjuk itu adalah rasa nikmat. Dan rasa nikmat itu menimbulkan kepuasan atau
Ridho. Sehingga petunjuk atau Huda (HD) berwujud rido (RD).
Surah Al Lail dan Ad Duha ini menunjukkan relasi ‘antara Huda dan nikmat dan Rido’. Dan tugas bagi yang sudah
merasakan ini adalah memberi kabar tentang nikmat Tuhan ini kepada yang lain.
Sehingga tugas entitas jiwa ini adalah untuk ‘disempurnakan nikmat olehNya’.
Untuk merasakan nikmat yang lebih baik dan lebih baik lagi atau nikmat
yang lebih sempurna lagi. Dan semua yang sudah dirasakan ini harus dikabarkan
kepada yang belum mampu merasakannya.
Q.S Al Lail
(ayat 11-21)
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
11. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah
binasa.
12. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk
(huda)
13.dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.
14.Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.
15.Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
16.yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17.Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18.yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19.padahal tidak ada seorangpun
memberikan suatu ni'mat kepadanya yang harus dibalasnya,
20.tetapi (dia memberikan itu
semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
21.Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan (rido)
Q.S Duha (ayat
1-11).
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Demi waktu matahari sepenggalahan naik,”
2. dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),”
3. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula)
benci” kepadamu.
4. Dan sesungguhnya hari
kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
5. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu
(hati) kamu menjadi puas (rido).
6. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim,
lalu Dia melindungimu ?”
7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia
memberikan petunjuk.”
8. “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang
kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
9. “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu
berlaku sewenang-wenang.”
10. “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu
menghardiknya.”
11. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka
hendaklah kamu siarkan.”
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?,
sebuah pertanyaan yang diulangi dan
diulangi dan diulangi, sebuah nikmat?,
kata sederhana ini sedemikian
sulitnya dimengerti!.
Nikmat ini sedemikian privacy atau
pribadi. Suatu nikmat bagi seseorang bisa berarti musibah bagi yang lain. Nimat
kelahiran seorang anak yang telah ditunggu puluhan tahun, bisa merupakan
musibah bagi seorang yang tidak menginginkannya yang hidup serba kekurangan dan
sudah memiliki sepuluh anak misalnya. Atau musibah bagi seotrang gadis yang
belum bersuami.
Nikmat segarnya air putih di hari
panas terik bisa saja biasa saja di hari yang lain. Nikmat makanan bisa merupakan musibah bagi
seorang yang alergy terhadap makanan tersebut. Maka
kata nikmat ini sedemikian asingnya.
Sayangnya sesuatu yang tidak
menimbulkan nikmat tidak selalu mudah dikerjakan dan sebaliknya sesuatu yang
menimbulkan rasa nikmat maka semua orang akan melakukan pengejaran. Pengejaran
untuk merasakan rasa puas atas nikmat itu. Rasa
puas setelah menikmati makanan yang lezat, rasa
puas setelah menikmati pertunjukan, rasa
nikmat kebutuhan jasmani yang lainnya, semua
yang menimbulkan nikmat inilah yang akan dilakukan secara sukarela oleh raga,
karena inilah yang diterima oleh sensor raga.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
Yang menguasai di hari Pembalasan, Hanya Engkaulah
yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta
pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang
yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula
jalan) mereka yang sesat.
Rasa nikmat yang sama seperti yang
dialami raga ini ketika mengikuti Huda. Rasa nikmat ini akan dirasakan jiwa dan
dirasakan oleh raga bahkan melebihinya. Rasa
nikmat saat beribadah, sholat, zakat, puasa atau perbuatan menolong, berbuat
baik, berlaku ramah, sopan santun, menyantuni, memberi nasehat, membimbing dan
perbuatan yang lainnya. Perbuatan yang mengikuti Huda dan menimbulkan
rasa nikmat.
Dibawah bimbingan Huda akan ada rasa
nikmat sebagaimana orang-orang terdahulu yang selalu dalam rasa nikmat. Bila "merasa"
sudah dalam Huda tetapi belum ada rasa nikmat, maka coba maknai surah Al
Fatihah lagi, apakah ayatnya yang salah ataukah diri kita yang salah?. Bila sudah merasakan rasa nikmat, maka
undanglah lingkungan di sekitar kita, istri, suami, anak, saudara, teman untuk
datang dan merasakan nikmat itu. Seperti kita membuat makanan yang nikmat maka
kita mengundang datang ke rumah untuk mencoba makanan kita.
Sering kali kita menyalahkan orang
lain, menyalahkan makanan orang tidak enak, jorok, tidak sehat dan sebagainya,
dan hanya menyatakan makanannya yang terbaik. Tetapi tidak pernah mengundang
untuk datang dan menyajikan makanan yang enak tersebut. Seringkali justru masih
dalam angan-angan belaka.
Tugas Sang Penjelajah cahaya justru
sangat sederhana yang merasakan nikmat dan semakin sempurnanya nikmat yang akan
dirasakan lalu mengabarkan, menyiarkan pengalaman tentang rasa nikmat itu.
Mengundang siapa saja untuk merasakan rasa nikmat yang sudah dirasakan.
Huda atau petunjuk adalah cahaya,
seperti cahaya matahari pagi, bila ada maka semua akan nampak jelas, semua hal
terlihat baik buruk, indah atau tak teratur. Maka tentu saja bisa memilih yang
paling indah, paling nikmat dari yang nampak itu. Ilmu atau pengetahuan adalah
Huda atau petunjuk dalam memilih jalan hidup. Tentu saja semua ini harus
menggunakan Akal. Belajar, mendengarkan menggunakan akalnya untuk mendapatkan
Huda.
Namun akal tidak mampu sampai menuju
rasa, arah fikiran dan rasa seperti ketidakpastian Heisenberg yang tidak bisa
dipastikan. Kita bisa menentukan arah fikiran tetapi tidak mampu menentukan
rasanya. Sedangkan bila menentukan rasa maka tidak bisa mengarahkan fikiran.
Arah fikiran seperti saat kita memukul bola golf dan rasa seperti posisi saat
bola itu sampai ditanah. Kita bisa menetukan arah memukul tapi tidak bisa
menetukan di titik mana bola itu akan turun. Dan bila kita sudah berada di
titik yang dimaksud. Bila ada ribuan bola maka kitapun tidak mampu menentukan
dari arah mana bola itu berasal.
Kita sederhanakan saja dengan lambang.
Bila
M= arah fikiran (akal)
N=
posisi rasa
Bila arah fikiran M menuju Allah maka N akan berasa nikmat, maka
inilah IMAN.
Langkah demi langkah M
menuju N
ini seperti dalam Al Fatehah.
Secara sederhana, posisi M
dan N
adalah sebagaimana posisi ayat dimana akhiran ketujuh ayat tersebut adalah M
(mim) dan N
(nun).
Misalnya
posisi pertama adalah Bismillahi rohmani rohim. Inilah posisi arah kesadaran
pertama yang menuju Allah yaitu Yang Rahman dan Rohiem.
Posisi Rohman Rohim secara lambang bisa kita tuliskan RHMN RHM.
Kita bila tuliskan RHM N RHM, Posisi rasa N harus berada di dalam RHM.
Inilah posisi rasa nikmat yaitu selau berada di dalam RHM
(rahiem).
Dengan bahasa lainnya posisi rasanya ada dalam liputan Rahim.
inilah posisi dzikrullah secara otomatis, karena selalu diliputi
Rahim.
Rasa nikmat atau NM (anam) atau nikmatullah
Nikmat ALLAH, rasa nikmat yang berasal langsung (dekat) dari Allah, karena nikmat itu bisa berasal dari raga atau materi
(tidak langsung atau hanya pantulan). Selanjutnya
nikmat demi nikmat ini Allah menginginkan untuk disampaikan, dikabarkan,
disyiarkan. Bila ingin rasa nikmat ini bertambah, dilipatgandakan atau
disempurnakan. Bila tidak mau, maka nikmat inipun
akan ditunda, atau akan dihilangkan. Karena demikianlah tugas Sang Pengelana
cahaya.
Siapapun engkau yang tengah dalam
nikmat Allah ini. Nikmat Islam, nikmat Iman, nikmat Ihsan atau nikmat Allah
yang lainnya. Bertugas untuk mengundang orang di sekitarnya, berbagi nikmat
yang dirasakannya, berbagi kebahagiaan, berbagi ketenangan, berbagi kedamaian.
Berbagi keindahan, berbagi ilmu pengetahuan, berbagi kesadaran atas nikmat yang
telah Allah berikan.
Sebetulnya semua ini sangat
sederhana, sedemikian sederhananya tetapi saling berkaitan sehingga sulit untuk
dikisahkan sepotong-sepotong. Sedemikian
mudahnya dan tidak perlu berfikir banyak, hanya satu arah fikiran, yaitu
mengingat Allah. Apapun cara metode untuk mengingat Allah. Sedikit demi sedikit lama-lama akan sampai,
naik sedikit sedikit, bertambah akan sampai juga. Semoga
kebahagiaan meliputi kita, ketenangan, kedamaian, kesejahteraan. Kenikmatan yang akan Allah limpahkan.
⏩ Bersambung ke Episode 9:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-9-legenda-sang-pendekar-dari.html
No comments:
Post a Comment