Kesadaran ingat Allah
Seseorang bertanya: “suka bingung dalam mengingat Alloh ..”
Pertanyaan atau pernyataan sedemikian sederhana itu.
Tapi siapakah yang bisa menjelaskannya?. Seribu orang ditanya maka ada seribu
jawaban. Dan tidak ada satupun yang bisa menjawabnya. Semisal seorang bertanya
apa rasa air putih itu?. Atau orang bertanya yang mana nafas itu. Yang mana
udara?. Atau orang bertanya bagaimana warna dasar dasar danau?.
Semua pertanyaan semacam itu sedemikian sederhana dan
hanya perlu menikmatinya dan merasakannya. Hanya perlu dituntun dan diberikan
arahan. Misalnya air putih, hanya perlu segelas air putih dan meminumnya. Atau
hanya perlu menghirup nafas dan sebagainya.
Kita semua tahu bedanya antara Sadar dan tidur, seperti
siang dan malam, sedemikian jelasnya. Begitulah sesungguhnya keadaan kita ini. SADAR dan TIDUR
dua hal yang berbeda. Sangat berbeda, orang dengan mudah mampu mengenali dua
keadaan ini. Namun jikalau kita tanyakan kepada mereka adakah mereka INGAT
bagaimana keadaan diri mereka saat SADAR?. Kemudian kepada mereka diminta
untuk mendeskrepsikan keadaan tersebut.
Mampukah mereka?.
Walaupun mereka mengatakan keadaan mereka sedang SADAR
namun mereka akan sulit sekali mendeskrepsikan makna SADAR itu sendiri. Sebab
pada keadaan SADAR yang dimaksudkan yang dimaksudkan justru ‘keadaan
dalam tidak ada RASA INGAT’.
Kita merasa
sadar saat ada ingatan. Tanpa ada ingatan maka
kita merasa tidak sadar. Ingatan inilah
yang sering kita maknai dengan sadar. Bila kejadian tadi malam kita lupa
semua, maka kita tidak tahu apakah kita sadar ataukah tidur. Dan dijelaskanpun
akan cukup sulit saat menuangkan dalam kalimat. Mungkin dengan contoh yang
lebih jelas yaitu “Kesadaran akan
cinta”. Bagaimana kita tahu kita mencintai seseorang?.
Kita baru sadar kalau kita cinta kepada seorang gadis
atau pemuda saat ingatan kita sering terpaut oleh dirinya. Secara sadar atau
tidak sadar ingatan tentangnya itu muncul dan muncul. Maka kita baru sadar
kalau kita jatuh cinta. Kita mencintainya.
Ketika pertama kali seseorang jatuh cinta tentulah dia
bingung atas rasanya, kok begini atau kok begitu. Rasa inilah yang bisa kita
maknai. Bisa kita yakini bahwa kita mengingatnya, ada rasa rindu, ada rasa
kangen, ada rasa marah, kecewa, dan berjuta rasanya, namun dari semua rasa itu,
seolah “ingatan” akan si dia
terus melekat dan tak pernah hilang dengan segala macam perubahan rasa. Rasa
apapun yang muncul kita tahu bahwa kita sedang “ingat” si dia.
Kita sadar bawa
kita ingat dia. Ada ingatan yang melekat pada si
dia. Ada Kesadaran ingat si dia. Walaupun ada berjuta rasa mengaduk,
berubah-ubah, tapi kita tahu, kita sadar semua berasal dari satu hal yaitu “ingatan” akan si dia. Saat ingatan itu
hilang, maka semua rasa akan hilang juga. Sesuatu
yang melekat yang disadari sebagai rasa di atas rasa, inilah yang sering dimaknai
‘Kesadaran ingat Allah’ atau dimaknai sebagai Khusyu atau ingat Allah
atau dzikrullah.
Ingatan itu melekat bisa dengan berfikir mengingat atau tanpa
berfikir mengingat.
Bisa menyengaja untuk ingat dan tanpa menyengaja berfikir untuk
mengingat.
Seperti syair lagu:
Aku mau makan ingat kamu
Aku mau tidur ingat kamu
Dalam keadaan apapun selalu saja ingatan itu tak mau
hilang, tak mau lepas dari kesadaran. Kita tahu kalau kita ingat. Kita sadar
kalau kita teringat. Kita mengerti benar ada ingatan yang selalu muncul. Bagi orang yang
pernah jatuh cinta pasti mengerti benar apa yang saya maksudkan itu. Atau
seorang yang memiliki binatang kesayangan. Pasti sering sekali ingatan ini
muncul. Demikian pula dengan seorang yang memiliki hobby tertentu, ingatan
tentang kegiatan itu sering muncul. Atau seorang yang jauh dari kampong
halaman, ingatan tentang kampong halaman ini sering kali muncul. Ingatan yang dimaksudkan ini yang
dimaksudkan tentunya adalah “rasa ingat”.
Perasaan yang melekat pada ingatan.
Menjawab pertanyaan:
“suka bingung dalam mengingat Alloh ..”
Kita sering rancu dalam membedakan antara “berfikir tentang Allah” dan “mengingat Allah”. Atau berfikir dan ingatan. Berfikir
adalah arah fikiran atau arah geraknya dan ingatan adalah rasa atau posisi rasa
yang bisa berasal dari hasil berfikir tetapi bisa juga berasal dari hal yang
lain. Dalam diri ada sesuatu “yang tahu” saat kita berfikir. Aku tahu bahwa aku sedang memikirkan
hutang, aku tahu saat aku tengah membayangkan wanita, aku tahu aku saat ini
sedang menulis dan lain sebagainya.
Saat kita berfikir tentang Allah, kita tahu tengah
berfikir tentang Allah, dan saat beberapa menit kemudian ada bayangan tubuh
wanita cantik dalam fikiran atau lintasan kekhawatiran tentang hutang. Kita
tahu. Dan ketika fikiran kita berubah-ubah sekalipun ada ratusan perubahan kita
tahu setiap perubahan. Inilah yang disebut Kesadaran. Kita
tahu perubahan lintasan fikiran ini.
Proses mengingat Allah saat untuk saat awal sebelum
sampai tahap “jatuh cinta” maka adalah mengarahkan fikiran kembali menuju Allah. Bila kita
tengah berfikir kepada Allah dan mendadak kita memikirkan hal lain, dan kita
sadar, lalu kesadaran itu mengarahkan kembali untuk ingat Allah. Saat ada
lintasan bayangan wanita cantik dalam khayalan dan kita sadar kita membayangkan
itu. Lalu secara sadat kita memikirkan Allah.
Proses secara “Menyengaja” untuk kembali memikirkan Allah inilah yang kita sebut sadar
atau kesadaran atau tahu. Kita tahu kita sedang berfikir tentang Allah. Rasa
tahu inilah yang disebut kesadaran. Kesadaran ingat Allah.
Jadi sederhananya misalnya kita sedang membaca Al Quran
dan kita sadar proses membaca itu adalah ingat Allah, itulah kesadaran yang
dimaksud. Saat kita puasa dan kita sadar tidak boleh makan, melihat makanan
yang bagaimanapun kita sadar bahwa kita puasa. Kita tidak boleh makan.
Pengetahuan atau kesadaran inilah yang dimaksudkan Kesadaran.
Kesadaran, ingatan, atau rasa ingat ini bisa dihasilkan
dengan berfikir. Proses berfikir akan bisa menghasilkan ingatan dan sampai
kepada pengetahuan dan akhirnya mengendap menjadi rasa tahu. Dan dengan terus
menerus maka ingatan ini akan mengendap dan melekat terus. Dan seolah akan
teringat selalu. Sesuatu yang indah dan menyenangkan akan dengan mudah melekat
dalam ingatan. Ingatan akan pemandangan yang indah. Ingatan akan kebaikan hati
seseorang, atau ingatan akan kecantikan wajah yang menawan hati. Ingatan ini
akan melekat. Inilah kesadaran akan mengingat sesuatu. Bisa pemandangan, harta,
wanita atau materi lainnya.
Kesadaran ini akan cukup sulit saat ingatan itu
ditujukan untuk mengingat Allah. Karena kita tidak memiliki “referensi” apapun tentang
Allah. Apapun tentang Allah maka tidaklah seperti itu. Bukan seperti itu. Tidak
seperti itu. Maka Kesadaran ingat Allah ini sedemikian sulit dan luar biasa
berbelitnya. Tetapi juga sedemikian mudahnya, teramat sangat mudah, karena
memang tidak perlu membayangkan, tidak ada wujud, tidak ada bentuk dan rupanya.
Maka kesadaran ingat Allah ini adalah kesadaran yang teramat mudah. Paling
mudah, sedemikian mudahnya di antara yang termudah.
Kesadaran ingat
Allah ini dikisahkan dengan secara sederhana dan indah dalam
proses pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim. Kesadaran beliau hanya ingat bahwa
Bintang, bulan dan matahari bukanlah Tuhan. Yang menciptakan Bintang Bulan dan
Matahari adalah Tuhan. Kesadaran akan Sang Pencipta. Maka kemanapun beliau
melihat sebuah “ciptaan”, beliau sadar ada Sang Pencipta. Kesadaran yang sangat
sederhana. Kita melihat apapun lalu sadar ada pencipta dan kita memujinya.
Adakah
kesadaran yang lebih sederhana?.
Inilah Kesadaran yang meliputi,
inilah Yang Tahu.
Inilah Bashiroh. Sesuatu yang
sadar. Inilah Kesadaran Pamungkas.
Bila kita mengenali entitas ini
maka kita akan mengerti, kita berpengetahuan.
Kesadaran ini meliputi kesadaran
akal, kesadaran hati, kesadaran ruh dan kesadaran raga. Kesadaran ini meliputi
keseluruhan.
Kita bisa sadar menggunakan tangan
kita, kita bisa sadar menggunakan mata, kita bisa sadara menghirup nafas. Kita
bisa sadar jantung sedang berdetak. Kita bisa sadar kita tengah berfikir. Kita
bisa sadar kita merasa sedih, merasa marah, merasa kecewa, merasa tertekan dan
apapun dalam tubuh bisa kita sadari.
Al-Qur’an telah menyeru kepada seluruh manusia
untuk berpikir,
“Sesungguhnya aku hendak
memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah swt
(dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan
(tentang Muhammad).” (Qs. Saba’ [34]: 46).
Dalam ayat lain, Allah swt swt juga menyuruh manusia berpikir tentang
kosmologi, bentuknya, penciptaannya, dan pengaturan peredarannya. Allah swt
juga menyuruh manusia mempelajari sunatullah dalam segala bentuk ilmu
pengetahuan. Allah swt swt berfirman,
“Katakanlah, ‘Berjalanlah di (muka)
bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah swt menciptakan (manusia) dari
permulaannya’.”(Qs. al-‘Ankabūt [29]: 20).
“Maka apakah mereka tidak berjalan
di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami
atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena
sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada
di dalam dada.”(Qs. al-Ḥajj [22]: 46).
“Dan apakah mereka tidak
memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah
swt?”(Qs. al-A’rāf [7]: 185).
Dan masih banyak lagi
ayat-ayat yang mengajak manusia memikirkan apa yang ada dalam alam semesta ini.
Ayat-ayat
tersebut merupakan sebuah seruan yang jelas untuk melihat, menganalisis, dan
mengkaji secara ilmiah tentang semua makhluk, dan tentang semua fenomena
kosmologi. Al-Qur’an tidak hanya menyuruh manusia untuk berpikir dan mengkaji
secara ilmiah tentang fenomena alami, tetapi juga untuk berpikir tentang
rahasia pembentukan dirinya secara biologis dan kejiwaan. Dengan kata lain,
al-Qur’an mengajak manusia untuk sering mengkaji ilmu biologi, psikologi,
kedokteran, dan kejiwaan.
Dari sini bisa
kita tarik sebuah tali atau benang yang kuat proses “Mengingat Allah”, harus
dimulai dengan BERFIKIR. Lalu berlanjut ke “pemikiran yang dalam”.
Yang akan
mengantarkan masuk ke FaHM, pengetahuan yang lebih luas dan mendalam.
Sehingga masuk ke gerbang Hikmah.
Pemahaman konsep ilahi dalam keterbatasan pengetahuannya yang diperlukan
saat ini disini.
Penjelasasan secara lambang mungkin
akan lebih memudahkan di bagian selanjutnya.
⏩ Bersambung ke Episode 13.2:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/132-membalik-kesadaran.html
No comments:
Post a Comment