Thursday, 1 February 2018

Ep 13.1 Kesadaran ingat Allah


Kesadaran ingat Allah


Seseorang bertanya: “suka bingung dalam mengingat Alloh ..”

Pertanyaan atau pernyataan sedemikian sederhana itu. Tapi siapakah yang bisa menjelaskannya?. Seribu orang ditanya maka ada seribu jawaban. Dan tidak ada satupun yang bisa menjawabnya. Semisal seorang bertanya apa rasa air putih itu?. Atau orang bertanya yang mana nafas itu. Yang mana udara?. Atau orang bertanya bagaimana warna dasar dasar danau?.

Semua pertanyaan semacam itu sedemikian sederhana dan hanya perlu menikmatinya dan merasakannya. Hanya perlu dituntun dan diberikan arahan. Misalnya air putih, hanya perlu segelas air putih dan meminumnya. Atau hanya perlu menghirup nafas dan sebagainya.

Kita semua tahu bedanya antara Sadar dan tidur, seperti siang dan malam, sedemikian jelasnya. Begitulah sesungguhnya keadaan kita ini. SADAR dan TIDUR dua hal yang berbeda. Sangat berbeda, orang dengan mudah mampu mengenali dua keadaan ini. Namun jikalau kita tanyakan kepada mereka adakah mereka INGAT bagaimana keadaan diri mereka saat SADAR?.  Kemudian kepada mereka diminta untuk mendeskrepsikan keadaan tersebut.

Mampukah mereka?.
Walaupun mereka mengatakan keadaan mereka sedang SADAR namun mereka akan sulit sekali mendeskrepsikan makna SADAR itu sendiri. Sebab pada keadaan SADAR yang dimaksudkan yang dimaksudkan justru ‘keadaan dalam tidak ada RASA INGAT’.

Kita merasa sadar saat ada ingatan. Tanpa ada ingatan maka kita merasa tidak sadar. Ingatan inilah yang sering kita maknai dengan sadar. Bila kejadian tadi malam kita lupa semua, maka kita tidak tahu apakah kita sadar ataukah tidur. Dan dijelaskanpun akan cukup sulit saat menuangkan dalam kalimat. Mungkin dengan contoh yang lebih jelas yaitu “Kesadaran akan cinta”. Bagaimana kita tahu kita mencintai seseorang?.

Kita baru sadar kalau kita cinta kepada seorang gadis atau pemuda saat ingatan kita sering terpaut oleh dirinya. Secara sadar atau tidak sadar ingatan tentangnya itu muncul dan muncul. Maka kita baru sadar kalau kita jatuh cinta. Kita mencintainya.

Ketika pertama kali seseorang jatuh cinta tentulah dia bingung atas rasanya, kok begini atau kok begitu. Rasa inilah yang bisa kita maknai. Bisa kita yakini bahwa kita mengingatnya, ada rasa rindu, ada rasa kangen, ada rasa marah, kecewa, dan berjuta rasanya, namun dari semua rasa itu, seolah “ingatan” akan si dia terus melekat dan tak pernah hilang dengan segala macam perubahan rasa. Rasa apapun yang muncul kita tahu bahwa kita sedang “ingat” si dia.

Kita sadar bawa kita ingat dia. Ada ingatan yang melekat pada si dia. Ada Kesadaran ingat si dia. Walaupun ada berjuta rasa mengaduk, berubah-ubah, tapi kita tahu, kita sadar semua berasal dari satu hal yaitu “ingatan” akan si dia. Saat ingatan itu hilang, maka semua rasa akan hilang juga. Sesuatu yang melekat yang disadari sebagai rasa di atas rasa, inilah yang sering dimaknai ‘Kesadaran ingat Allah’ atau dimaknai sebagai Khusyu atau ingat Allah atau dzikrullah.

Ingatan itu melekat bisa dengan berfikir mengingat atau tanpa berfikir mengingat.
Bisa menyengaja untuk ingat dan tanpa menyengaja berfikir untuk mengingat.
Seperti syair lagu:
Aku mau makan ingat kamu
Aku mau tidur ingat kamu

Dalam keadaan apapun selalu saja ingatan itu tak mau hilang, tak mau lepas dari kesadaran. Kita tahu kalau kita ingat. Kita sadar kalau kita teringat. Kita mengerti benar ada ingatan yang selalu muncul. Bagi orang yang pernah jatuh cinta pasti mengerti benar apa yang saya maksudkan itu. Atau seorang yang memiliki binatang kesayangan. Pasti sering sekali ingatan ini muncul. Demikian pula dengan seorang yang memiliki hobby tertentu, ingatan tentang kegiatan itu sering muncul. Atau seorang yang jauh dari kampong halaman, ingatan tentang kampong halaman ini sering kali muncul. Ingatan yang dimaksudkan ini yang dimaksudkan tentunya adalah “rasa ingat”. Perasaan yang melekat pada ingatan.

Menjawab pertanyaan:
“suka bingung dalam mengingat Alloh ..”

Kita sering rancu dalam membedakan antara berfikir tentang Allah dan mengingat Allah. Atau berfikir dan ingatan. Berfikir adalah arah fikiran atau arah geraknya dan ingatan adalah rasa atau posisi rasa yang bisa berasal dari hasil berfikir tetapi bisa juga berasal dari hal yang lain. Dalam diri ada sesuatu “yang tahu” saat kita berfikir. Aku tahu bahwa aku sedang memikirkan hutang, aku tahu saat aku tengah membayangkan wanita, aku tahu aku saat ini sedang menulis dan lain sebagainya.

Saat kita berfikir tentang Allah, kita tahu tengah berfikir tentang Allah, dan saat beberapa menit kemudian ada bayangan tubuh wanita cantik dalam fikiran atau lintasan kekhawatiran tentang hutang. Kita tahu. Dan ketika fikiran kita berubah-ubah sekalipun ada ratusan perubahan kita tahu setiap perubahan. Inilah yang disebut Kesadaran. Kita tahu perubahan lintasan fikiran ini.

Proses mengingat Allah saat untuk saat awal sebelum sampai tahap “jatuh cinta” maka adalah mengarahkan fikiran kembali menuju Allah. Bila kita tengah berfikir kepada Allah dan mendadak kita memikirkan hal lain, dan kita sadar, lalu kesadaran itu mengarahkan kembali untuk ingat Allah. Saat ada lintasan bayangan wanita cantik dalam khayalan dan kita sadar kita membayangkan itu. Lalu secara sadat kita memikirkan Allah.

Proses secara “Menyengaja” untuk kembali memikirkan Allah inilah yang kita sebut sadar atau kesadaran atau tahu. Kita tahu kita sedang berfikir tentang Allah. Rasa tahu inilah yang disebut kesadaran. Kesadaran ingat Allah.

Jadi sederhananya misalnya kita sedang membaca Al Quran dan kita sadar proses membaca itu adalah ingat Allah, itulah kesadaran yang dimaksud. Saat kita puasa dan kita sadar tidak boleh makan, melihat makanan yang bagaimanapun kita sadar bahwa kita puasa. Kita tidak boleh makan. Pengetahuan atau kesadaran inilah yang dimaksudkan Kesadaran.

Kesadaran, ingatan, atau rasa ingat ini bisa dihasilkan dengan berfikir. Proses berfikir akan bisa menghasilkan ingatan dan sampai kepada pengetahuan dan akhirnya mengendap menjadi rasa tahu. Dan dengan terus menerus maka ingatan ini akan mengendap dan melekat terus. Dan seolah akan teringat selalu. Sesuatu yang indah dan menyenangkan akan dengan mudah melekat dalam ingatan. Ingatan akan pemandangan yang indah. Ingatan akan kebaikan hati seseorang, atau ingatan akan kecantikan wajah yang menawan hati. Ingatan ini akan melekat. Inilah kesadaran akan mengingat sesuatu. Bisa pemandangan, harta, wanita atau materi lainnya.

Kesadaran ini akan cukup sulit saat ingatan itu ditujukan untuk mengingat Allah. Karena kita tidak memiliki “referensi” apapun tentang Allah. Apapun tentang Allah maka tidaklah seperti itu. Bukan seperti itu. Tidak seperti itu. Maka Kesadaran ingat Allah ini sedemikian sulit dan luar biasa berbelitnya. Tetapi juga sedemikian mudahnya, teramat sangat mudah, karena memang tidak perlu membayangkan, tidak ada wujud, tidak ada bentuk dan rupanya. Maka kesadaran ingat Allah ini adalah kesadaran yang teramat mudah. Paling mudah, sedemikian mudahnya di antara yang termudah.

Kesadaran ingat Allah ini dikisahkan dengan secara sederhana dan indah dalam proses pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim. Kesadaran beliau hanya ingat bahwa Bintang, bulan dan matahari bukanlah Tuhan. Yang menciptakan Bintang Bulan dan Matahari adalah Tuhan. Kesadaran akan Sang Pencipta. Maka kemanapun beliau melihat sebuah “ciptaan”, beliau sadar ada Sang Pencipta. Kesadaran yang sangat sederhana. Kita melihat apapun lalu sadar ada pencipta dan kita memujinya.
Adakah kesadaran yang lebih sederhana?.

Inilah Kesadaran yang meliputi, inilah Yang Tahu.
Inilah Bashiroh. Sesuatu yang sadar. Inilah Kesadaran Pamungkas.
Bila kita mengenali entitas ini maka kita akan mengerti, kita berpengetahuan.

Kesadaran ini meliputi kesadaran akal, kesadaran hati, kesadaran ruh dan kesadaran raga. Kesadaran ini meliputi keseluruhan.

Kita bisa sadar menggunakan tangan kita, kita bisa sadar menggunakan mata, kita bisa sadara menghirup nafas. Kita bisa sadar jantung sedang berdetak. Kita bisa sadar kita tengah berfikir. Kita bisa sadar kita merasa sedih, merasa marah, merasa kecewa, merasa tertekan dan apapun dalam tubuh bisa kita sadari.

Al-Qur’an telah menyeru kepada seluruh manusia untuk berpikir,

“Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah swt (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad).” (Qs. Saba’ [34]: 46).

Dalam ayat lain, Allah swt swt juga menyuruh manusia berpikir tentang kosmologi, bentuknya, penciptaannya, dan pengaturan peredarannya. Allah swt juga menyuruh manusia mempelajari sunatullah dalam segala bentuk ilmu pengetahuan. Allah swt swt berfirman,

“Katakanlah, ‘Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah swt menciptakan (manusia) dari permulaannya’.”(Qs. al-‘Ankabūt [29]: 20).

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.”(Qs. al-Ḥajj [22]: 46).

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah swt?”(Qs. al-A’rāf [7]: 185).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mengajak manusia memikirkan apa yang ada dalam alam semesta ini.

 Ayat-ayat tersebut merupakan sebuah seruan yang jelas untuk melihat, menganalisis, dan mengkaji secara ilmiah tentang semua makhluk, dan tentang semua fenomena kosmologi. Al-Qur’an tidak hanya menyuruh manusia untuk berpikir dan mengkaji secara ilmiah tentang fenomena alami, tetapi juga untuk berpikir tentang rahasia pembentukan dirinya secara biologis dan kejiwaan. Dengan kata lain, al-Qur’an mengajak manusia untuk sering mengkaji ilmu biologi, psikologi, kedokteran, dan kejiwaan.

Dari sini bisa kita tarik sebuah tali atau benang yang kuat proses “Mengingat Allah”, harus dimulai dengan BERFIKIR. Lalu berlanjut ke “pemikiran yang dalam”.
Yang akan mengantarkan masuk ke FaHM, pengetahuan yang lebih luas dan mendalam.

Sehingga masuk ke gerbang Hikmah.
Pemahaman konsep ilahi dalam keterbatasan pengetahuannya yang diperlukan saat ini disini.

Penjelasasan secara lambang mungkin akan lebih memudahkan di bagian selanjutnya.


⏩ Bersambung ke 
Episode 13.2:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/132-membalik-kesadaran.html

No comments:

Post a Comment

SAMUDRA SIMBOL

SAMUDRA SIMBOL 3 - BAHASA CAHAYA ======================================================================== Pengantar: https://samudrasimb...