Thursday, 1 February 2018

Episode 13. Kesadaran Pamungkas


13. Kesadaran Pamungkas


Kesadaran: Kata ini sedemikian sederhana, kita telah mendengar jutaan kali. Sedemikian mudah dan biasa kata ini. Sadar dan tidak sadar. Kita telah sedemikian mengenalnya dan kita bisa melihat bedanya setiap hari. Saat bangun tidur, saat melihat orang pingsan. Tidaklah perlu dijelaskan dengan begitu banyak kata dan teori. Coba saja lihat orang di sekitar kita saat tidur dan sesudah bangun. Lihat bedanya dan tuliskan definisinya. Ya demikianlah kesadaran itu. Tidak ada yang mampu menjelaskannya dan membuat kita puas dengan jawabannya itu. Tulisan tentang kesadaran telah sedemikian banyaknya, diulang dan diulangi lagi.

Disinipun telah ratusan bagian yang menjelaskan kesadaran ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Telah sedemikian lengkap, jelas komplit dari berbagai macam sisi dan sudut. Namun anehnya kitapun masih terus kebingungan. Kita seolah mengerti tapi di saat yang sama kitapun tidak tahu apa-apa. Ya memang demikian dualitas. Kita tahu dan saat bersamaan kitapun tidak tahu. Semakin kita tahu maka semakin sadar betapa sedikit pengetahuan kita.

Membahas kesadaran?…
Uuh..sungguh membosankan…
Ada berapa banyak yang mau
 Dalam sejuta orang ada seratus saja sudah untung.
Namun realitasnya, letupan satu kesadaran dari satu orang.
Bisa mempengaruhi umat manusia dari satu generasi.
Melintas zaman ke generasi selanjutnya.

Maka bagi sang sadar akan terus mengabarkan kesadarannya.
Entah itu baik atau buruk terus mengabarkan.
Mengabarkan berita gembira dan mewartakan berita.
Bagi yang mau mengamati fase kesadaran pada dirinya sendiri.
Dia berawal mula dari ketiadaan. Lalu mulailah fase pertama menjadi setitik zygot/nutfah.
Berkembang dan membentuk janin yang sempurna.
Akan berada pada sebuah tempat atau alam rahiem (sayang).
Dimana makanan berlimpah tak perlu dicari air mengalir.
Tempat tinggal yang kuat aman teduh seumpama syurga.
Karena “sebuah rencana” seumpama sang avatar.
Maka meluncurlah melalui lorong waktu ke alam lain.
Alam dunia dan dimulailah metamorfosa kesadaran.

Saat bayi kesadaran masih kesadaran ruh.
Tiada rasa atau emosi…tiada kehendak dan tiada dualitas rasa.
Lalu memasuki balita kesadaran memasuki fase jiwa atau gelombang.
Yaitu kesadaran makrokosmos,  kesadaran alam.
Berada dalam dualitas alam dan ingin menjangkau semua isinya.
Ingin memiliki apapun di alam ini. Keadaan kesadaran saat bayi akan sama.
Tiada bedanya baginya istana atau kolong jembatan.
Orang tua atau lingkungan telah membentuk dualitas.
Kaya miskin senang sedih dalam persepsi balita.
Yang akan membedakan dirinya dan alam.
Membedakan dirinya sebagai mikrokosmos dan alam yang makrokosmos.
Mengenalkan bahwa ini yang enak dan itu tidak.
Mengajarkan kaya itu nikmat dan miskin itu sengsara (misalnya).
Sehingga akhirnya sang diri menjadi semakin sempit.
Kesadaran semakin kerdil mengecil terpisah dari makrokosmos.
Dan sulit mengenali ruh.

Agama adalah metode(konsep/ajaran/cara/jalan) untuk kembali mengenali alam. Kembali ke alam dan akhirnya mengenal ruh. Pulang kembali ke rumah asalnya yaitu ruh (rohiem=RHM) dan (rohman=RHMN).

Dan inilah kesadaran diri manusia.
Kesadaran fitrah. Bashiroh. Kesadaran Pamungkas.
Ketika seorang manusia telah lelah dengan pemikirannya.
Ketika telah jenuh dengan akalnya.
Ketika dia telah meng explore dengan segala daya upaya.
Dan tak menemukan jawabnya…untuk apa dia ada di dunia.
Maka saat itulah  saatnya dia pulang. Kembali mengenali titik awal kesadaran.
Titik DNA dalam diri. Titik awal mula buka keberadaan diri dari ketiadaan.
Dimana saat itu tiada rasa, tiada emosi, tiada akal.
Dia berada di atas semua itu kesadaran sejati.
Kesadaran ruh karena itulah jati diri, itulah hakekat kesadaran.

Maka proses pulang adalah proses kebalikan atau proses pembalikan kesadaran (kembali menuju alam ruh).
Yaitu kembali menjadi balita kesadaran, kembali ke makrokosmos.
Dan bermetamorfose ke alam ruh… di atas segala rasa.
Namun untuk kesini harus menggunakan akal, menggunakan ilmu, menggunakan pengetahuan, sebuah dualitas yang mungkin agak membingungkan.

Maka ketika itu tercapai. Tiada lagi bedanya apapun takdir raga yang terjadi pada dirinya. Kaya miskin…senang sedih. Semua rasa ada dalam kumpulan segala rasa.
Seumpama warna yang berasal dr cahaya polikromatis.
Apapun warnanya berasal dari sumber semua frequency yaitu cahaya putih…
sumber sinar alam The original light of universe yaitu sinar putih semesta yang berasal langsung dari Alif.
Maka berada di cahaya putih  (Alif) akan terbebas dari tarikan warna warni dunia…

Kesadaran fitrah, kesadaran Bashiroh, Kesadaran ruhKu, Kesadaran Min ruhi, atau  ‘KESADARAN PAMUNGKAS’,  yang biasa kita singkat dengan sebutan KESADARAN inilah yang akan menjadi daya dorong utama dalam kehidupan kita sehari-hari guna meraih ‘Jiwa tenang, puas dan ridho’.  Kita mungkin dibingungkan dengan banyak sekali istilah, tetapi anggaplah semua itu membicarakan satu hal yang sama yaitu entitas gaib yang cerdas yang belajar, yang tahu dalam diri kita.

Allah telah menurunkan Islam sebagai teologi yang sempurna; yang  akan  mampu menyempurnakan Jiwa, sebagaimana tuntutan jamnnya, terutama dalam menghadapi situasi sulit sekarang ini dan dalam menangkal ekses negatif peradaban manusia. Bahkan Allah sendiri telah bersumpah    “Demi Jiwa dan penyempurnaannya. … “(QS. As Syams:7-8). 

Sebagai contoh kesempurnaan Jiwa, ~Nabi Muhammad saw, adalah salah satu manusia paripurna, sebagai teladan kesempurnaan Jiwa~. Manusia yang mampu   men-sinergi entitas materi dan anti materi , entitas Jiwa dan Raga,  menjadi entitas Manusia seutuhnya, sebagai sang khalifah. Sinergi ini menghasil resultan gaya yang begitu hebat. Islam telah menyempurnakan ajarannya, untuk kesempurnaan Jiwa manusia. Semua disempurnakan dalam Islam.

 “Dan Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al qur’an) sebagaimana kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimatnya . Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”(QS;006;115).

Berbeda dengan teknik di luar Islam yang mengandalkan kemampuan Jiwa sendiri untuk mencapai ketenangan. Islam menggunakan methode sebaliknya, methode kepasrahan Jiwa kepada kehendak Tuhannya. Islam mengajarkan agar umatnya memasrahkan diri hanya  kepada Allah (ber-Islam) secara total. Agar Allah-lah yang membersihkan Jiwa mereka. Dalam Islam raga bersifat fatalis pasrah, sebagaimana langit dan bumi asal atom tubuh mereka. Jiwa-lah yang harus tunduk pasrah kepada kehendak tersebut

“Sekiranya kami turunkan Al qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk  terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan- perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir”  (Al Hasyr ; 21).

⏩ Bersambung ke 
Episode 13.1:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/ep-131-kesadaran-ingat-allah.html

No comments:

Post a Comment

SAMUDRA SIMBOL

SAMUDRA SIMBOL 3 - BAHASA CAHAYA ======================================================================== Pengantar: https://samudrasimb...