13. Kesadaran Pamungkas
Kesadaran: Kata ini sedemikian sederhana, kita telah mendengar jutaan kali.
Sedemikian mudah dan biasa kata ini. Sadar dan tidak sadar. Kita telah
sedemikian mengenalnya dan kita bisa melihat bedanya setiap hari. Saat bangun tidur,
saat melihat orang pingsan. Tidaklah perlu dijelaskan dengan begitu banyak kata
dan teori. Coba saja lihat orang di sekitar kita saat tidur dan sesudah bangun.
Lihat bedanya dan tuliskan definisinya. Ya demikianlah kesadaran itu. Tidak ada
yang mampu menjelaskannya dan membuat kita puas dengan jawabannya itu. Tulisan
tentang kesadaran telah sedemikian banyaknya, diulang dan diulangi lagi.
Disinipun telah ratusan bagian yang menjelaskan
kesadaran ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Telah sedemikian
lengkap, jelas komplit dari berbagai macam sisi dan sudut. Namun anehnya
kitapun masih terus kebingungan. Kita seolah mengerti tapi di saat yang sama
kitapun tidak tahu apa-apa. Ya memang demikian dualitas. Kita tahu dan saat
bersamaan kitapun tidak tahu. Semakin kita tahu maka semakin sadar betapa
sedikit pengetahuan kita.
Membahas kesadaran?…
Uuh..sungguh membosankan…
Ada berapa banyak yang mau
Dalam sejuta orang ada seratus saja sudah
untung.
Namun realitasnya, letupan
satu kesadaran dari satu orang.
Bisa mempengaruhi umat manusia dari
satu generasi.
Melintas zaman ke generasi
selanjutnya.
Maka bagi sang sadar akan
terus mengabarkan kesadarannya.
Entah itu baik atau buruk terus
mengabarkan.
Mengabarkan berita gembira dan
mewartakan berita.
Bagi yang mau mengamati fase
kesadaran pada dirinya sendiri.
Dia berawal mula dari ketiadaan.
Lalu mulailah fase pertama menjadi setitik zygot/nutfah.
Berkembang dan membentuk janin yang
sempurna.
Akan berada pada sebuah tempat atau
alam rahiem (sayang).
Dimana makanan berlimpah tak perlu
dicari air mengalir.
Tempat tinggal yang kuat aman teduh
seumpama syurga.
Karena “sebuah rencana” seumpama
sang avatar.
Maka meluncurlah melalui lorong
waktu ke alam lain.
Alam dunia dan
dimulailah metamorfosa kesadaran.
Saat bayi kesadaran masih kesadaran
ruh.
Tiada rasa atau emosi…tiada
kehendak dan tiada dualitas rasa.
Lalu memasuki balita kesadaran
memasuki fase jiwa atau gelombang.
Yaitu kesadaran makrokosmos, kesadaran alam.
Berada dalam dualitas alam dan
ingin menjangkau semua isinya.
Ingin memiliki apapun di alam ini.
Keadaan kesadaran saat bayi akan sama.
Tiada bedanya baginya istana atau
kolong jembatan.
Orang tua atau lingkungan telah
membentuk dualitas.
Kaya miskin senang sedih dalam
persepsi balita.
Yang akan membedakan dirinya dan
alam.
Membedakan dirinya sebagai
mikrokosmos dan alam yang makrokosmos.
Mengenalkan bahwa ini yang enak dan
itu tidak.
Mengajarkan kaya itu nikmat dan miskin
itu sengsara (misalnya).
Sehingga akhirnya sang diri menjadi
semakin sempit.
Kesadaran semakin kerdil mengecil terpisah dari
makrokosmos.
Dan sulit mengenali ruh.
Agama adalah
metode(konsep/ajaran/cara/jalan) untuk kembali mengenali alam. Kembali ke alam
dan akhirnya mengenal ruh. Pulang kembali ke rumah asalnya yaitu ruh
(rohiem=RHM) dan (rohman=RHMN).
Dan inilah kesadaran diri manusia.
Kesadaran fitrah. Bashiroh.
Kesadaran Pamungkas.
Ketika seorang manusia telah lelah
dengan pemikirannya.
Ketika telah jenuh dengan akalnya.
Ketika dia telah meng explore
dengan segala daya upaya.
Dan tak menemukan jawabnya…untuk
apa dia ada di dunia.
Maka saat itulah saatnya dia pulang. Kembali mengenali titik
awal kesadaran.
Titik DNA dalam diri. Titik awal
mula buka keberadaan diri dari ketiadaan.
Dimana saat itu tiada rasa, tiada
emosi, tiada akal.
Dia berada di atas semua itu kesadaran
sejati.
Kesadaran ruh karena itulah
jati diri, itulah hakekat kesadaran.
Maka proses pulang adalah proses
kebalikan atau proses pembalikan kesadaran (kembali menuju alam ruh).
Yaitu kembali menjadi balita
kesadaran, kembali ke makrokosmos.
Dan bermetamorfose ke alam ruh… di
atas segala rasa.
Namun untuk kesini harus
menggunakan akal, menggunakan ilmu, menggunakan pengetahuan, sebuah dualitas
yang mungkin agak membingungkan.
Maka ketika itu tercapai. Tiada
lagi bedanya apapun takdir raga yang terjadi pada dirinya. Kaya miskin…senang
sedih. Semua rasa ada dalam kumpulan segala rasa.
Seumpama warna yang berasal dr
cahaya polikromatis.
Apapun warnanya berasal dari sumber
semua frequency yaitu cahaya putih…
sumber sinar alam The original light
of universe yaitu sinar putih semesta yang berasal langsung dari Alif.
Maka berada di cahaya putih
(Alif) akan terbebas dari tarikan warna warni dunia…
Kesadaran
fitrah, kesadaran Bashiroh, Kesadaran ruhKu, Kesadaran Min
ruhi, atau ‘KESADARAN
PAMUNGKAS’, yang biasa kita singkat dengan
sebutan KESADARAN inilah yang
akan menjadi daya dorong utama dalam kehidupan kita sehari-hari guna
meraih ‘Jiwa tenang, puas dan ridho’. Kita mungkin dibingungkan
dengan banyak sekali istilah, tetapi anggaplah semua itu membicarakan satu hal
yang sama yaitu entitas gaib yang cerdas yang belajar, yang tahu dalam diri
kita.
Allah telah menurunkan Islam sebagai teologi yang
sempurna; yang akan mampu menyempurnakan Jiwa, sebagaimana tuntutan
jamnnya, terutama dalam menghadapi situasi sulit sekarang ini dan dalam
menangkal ekses negatif peradaban manusia. Bahkan Allah sendiri telah
bersumpah “Demi Jiwa dan penyempurnaannya. … “(QS. As
Syams:7-8).
Sebagai contoh
kesempurnaan Jiwa, ~Nabi Muhammad saw, adalah salah satu manusia paripurna,
sebagai teladan kesempurnaan Jiwa~. Manusia yang mampu men-sinergi entitas materi dan anti materi ,
entitas Jiwa dan Raga, menjadi entitas Manusia seutuhnya, sebagai sang
khalifah. Sinergi ini menghasil resultan gaya yang begitu hebat. Islam
telah menyempurnakan ajarannya, untuk kesempurnaan Jiwa manusia. Semua
disempurnakan dalam Islam.
“Dan Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al
qur’an) sebagaimana kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat
mengubah-ubah kalimatnya . Dan Dia Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui”(QS;006;115).
Berbeda dengan teknik di luar Islam yang mengandalkan
kemampuan Jiwa sendiri untuk mencapai ketenangan. Islam menggunakan methode
sebaliknya, methode kepasrahan Jiwa kepada kehendak Tuhannya. Islam
mengajarkan agar umatnya memasrahkan diri hanya kepada Allah (ber-Islam)
secara total. Agar Allah-lah yang membersihkan Jiwa mereka. Dalam Islam raga bersifat fatalis pasrah,
sebagaimana langit dan bumi asal atom tubuh mereka. Jiwa-lah yang harus tunduk pasrah
kepada kehendak tersebut.
“Sekiranya kami turunkan Al qur’an ini kepada sebuah
gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut
kepada Allah. Dan perumpamaan- perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir” (Al Hasyr ; 21).
⏩ Bersambung ke Episode 13.1:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/ep-131-kesadaran-ingat-allah.html
No comments:
Post a Comment