10. Melacak Jejak ‘Kesadaran Kemenangan’
Jejak Kesadaran Langit
Kesadaran
seperti apakah yang diinginkan Rabul alamin, Tuhan seluruh alam
dimensi N
(alamin) alam semesta?. Kemenangan seperti apakah yang dijanjikan Rab Semesta
alam ini?. Bagaimanakah jejak langkah para pemenang itu?. Bagaimanakah Jejak
kesadaran para pemenang itu?. Kita bisa membaca jejak langkah itu dari
belakang, dari depan dan dari atas.
· Dari belakang adalah
jejak kesadaran yang tertulis dalam sejarah ummat-ummat terdahulu, kisah-kisah
orang atau bangsa yang meraih kemenangan.
· Dari depan, yaitu dengan menggunakan mata kesadaran
kita, melihat yang terjadi saat ini, menggunakan kesadaran mengamati
bangsa-bangsa yang unggul, melihat individu-individu yang sukses yang meraih
kemenangan.
· Dari atas,
yaitu membaca wahyu ilahi, membaca informasi langit, membaca apa yang telah
dijanjikan Rab Tuhan semesta alam, jejak kesadaran seperti apakah yang
dijanjikan untuk menjadi pemenang. Kesadaran yang bagaimanakah untuk menang, kriteria
seperti apakah para pemenang. Langkah demi langkah yang bagaimana dan bukti
kemenangan yang bagaimanakah ang mampu teramati
Jejak Kesadaran
Kemenangan yang dijanjikan langit, Kesadaran dari Langit yang dijanjikan.
Kesadaran Para Ksatria Langit. Kesadaran Para Pengelana Cahaya. Kesadaran Para
Penjelajah cahaya. Kesadaran Cahaya Langit yang sudah berada dalam dada manusia
bumi, Jejak langit yang mengisi rongga dada di bumi. Jejak langit yang telah
ada di bumi. Kesadaran langit yang merupakan potensi manusia bumi. Jejak
Kesadaran cahaya langit dan bumi.
Jejak Kesadaran cahaya samawa (SMW) dan ard (ARD).
Jejak kesadaran sang khalifah.
Mengikuti
jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An nur)
Entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi, menjadi khalifah
di bumi, mewakili kepentingan Rab di muka bumi.
Melacak jejak kesadaran sang
ksatria langit yang diturunkan ke bumi.
Jejak kesadaran sang khalifah awal yaitu ADAM dan Hawa.
Jejak kesadaran DM dan HW yang turun temurun. Jejak kesadaran yang
terus setia di jalan ini, di jalan kesadaran sang khalifah. Kesadaran para nabi
dan Rasul. Jejak kesadaran Adam (DM) dengan pasangannya Hawa (HW) yaitu jejak kesadaran ‘DM HW’ yang disempurnakan dalam
jejak kesadaran Muhammad (MHMD).
Sebuah perjalanan panjang untuk menyucikan hawa (HW). Pejalanan panjang para
penenmpuh jalan ini selangkah demi selangkah menyempurnakan HW
dalam dirinya. Sehingga HW melepaskan W dalam dirinya dan hanya
menggunakan H
menjadi MH.
Jejak penyempurnaan kesadaran M (Minda) mengikuti jejak kesadaran ilahi
sebuah kesadaran universal, kesadaran H, dalam rangkain MH. Dan membalik potenti DM,
menjadi MD.
Sebuah penyempurnaan kesadaran MHMD. Rangkaian perjalanan panjang ‘DM HW’
menjadi MHMD,
sebuah jejak kesadaran langit yang bisa kita pelajari dan fahami dalam
kisah-kisah orang-orang terpilih yang terdahulu yang dikisahkan dari langit,
wahyu dari langit. Itulah rencana langit, itulah kemenangan yang dijanjikan.
Jalan lurus menuju ‘Kemenangan yang
dijanjikan’
Allah memberikan perumpamaan dan permisalan demi permisalan untuk kita
berfikir, untuk memudahkan kita menerima pesan kesadaran. Untuk mendapat
pengetahuan dan mendapat petunjuk. Maka perumpamaan semacam inipun hanya akan
berguna bagi yang mau mencoba mengerti dan memahaminya.
==================================
Surah Al Fatihah (Pembukaan) ayat 6-7
[6]Tunjukilah kami jalan yang lurus,
[7](yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada
mereka, bukan(jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
(QS. Al Fatihah)
==================================
Setiap nabi membawa kurikulum
pelajaran yang diberikan kepada mereka dari Rabul alamin. Pelajaran demi
pelajaran yang diturunkan disempurnakan dan terus disempurnakan. Inilah jalan
lurus, jalan penghubung para nabi. Jalan yang sama yang ditempuh para nabi, jalan
kesadaran D menuju kesadaran N, jalan DieN, jalan lurus.
Dan inti pengajaran para nabi yang
penting dari mereka tertulis dalam kitab yang disempurnakan yaitu Al Quran.
Itulah jalan mereka yang telah diberi kesadaran
N dan kesadaran
M. Kesadaran
NM (anam/nikmat). Sebuah jalan orang yang telah
diberi nikmat. Jejak kesadaran mereka tertuang dalam
perpindahan ‘jejak kesadaran M membawa D menuju N mengikuti kehendak H’. Jejak
kesadaran MDNH. Inilah jejak kesadaran hijrah Madinah (MDNH).
Jejak kesadaran M(minda) mengikuti
kesadaran ilahi atau kesadaran H adalah
mengikuti jalan kesadaran DN. Jalan
kesadaran DN adalah jalan kesadaran Dien. Atau Jalan kesadaran Dien, jalan lurus. Secara teramat sangat sederhana kita bisa
menuliskan kesadaran MDNH ini adalah:
MDNH
M=Kesadaran akal (Minda)
D= Kesadaran
ketubuhan, panca indera, kesadaran alam materi
N= kesadaran
budi/jiwa/hati, yaitu ego, rasa, kesadaran nafs
H= Kesadaran
ilahiah, kesadaran ruh, kesadaran akherat
Secara symbol, maka kesadaran
akal kita harus mampu menempuh jalan yang membawa raga menuju entitas jiwa dan menuju
entitas ruh. Inilah perjalanan Hijrah. Perjalanan MDNH. Kesadaran M adalah kuncinya, kesadaran akal
yang mampu menuju kesadaran yang meliputi seluruh diri manusia. Untuk menempuh
jalan lurus, menempuh DN (DieN).
Untuk menempuh kesadaran DN, manusia diajarkannya doa
kepada mereka agar senantiasa memohon kepada Tuhannya.
“Tunjukanlah kami jalan yang
lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat “.
Pertanyaannya adalah:
Maukah manusia mengikuti jalannya
orang yang diberikan nikmat-Nya?.
Tetapi ketika manusia di tunjukkan
jalan-Nya orang yang diberi nikmat.
Mereka justru meragukan jalan
tersebut, mengingkari, mendustakannya.
==================================
Surah Al Fath (Kemenangan) ayat 1-3
[1]. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,
[2]. Supaya Allah memberi ampunan
kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu
kepada jalan yang lurus,
[3]. dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang
kuat (banyak).
==================================
Melacak jejak kesadaran ‘Kemenangan yang
dijanjikan’
Kemenangan yang dijanjikan Allah atau “kriteria” kemenangan menurut Allah
bisa kita amati atau buktikan dengan melihat
tanda-tanda yang diberikan di akhir surah Al Fath ayat 48. Di titik inilah atau
di posisi inilah “Kesuksesan Rasulullah”.
Real Victory, kemenangan yang nyata menurut Allah.
Kemenangan saat mampu “menaklukkan “jiwa”.
Kemenangan yang terlihat saat kita melihat orang-orang
yang bersamanya keras terhadap kafir (teguh dalam pendirian), tidak gentar dan
tidak pula takut. Berkasih sayang sesama mereka. Dan mampu melihat ‘raut
wajah’ yang menampakkan "sifat"
ketundukan, kepatuhan sumpah setia atas arahan Rasulullah.
Kemenangan jiwa
adalah kemenangan yang sebenarnya menurut kriteria Allah dalam surah Al Fath
ayat 48.
Kemenangan ini seperti halnya setiap nabi sebelum Nabi
Muhammad, setiap nabi yang mampu membawa sahabatnya ke posisi kemenangan ini
maka itulah saat kemenangan yang dijanjikan. Dan ini pula janji Allah kepada Nabi
Muhammad di perjanjian Hudaibiyah, bahwa suatu ketika beliau akan melihat para
sahabatnya ruku dan sujud mengharap ridho Allah, yaitu di hari-hari terakhir
menjelang kematian beliau.
Kemenangan Rasulullah bukan pada kemenangan peperangan
atau penaklukan. Tetapi pada: ‘ketundukan, kepasrahan, dan baiat, sumpah setia
kepada Rasulullah’. Pada saat mereka semua bersumpah setia menjadi shahabat
karena Allah. Mengikuti perintah Rasulullah dan bertekad sehidup semati. Inilah
puncak kemenangan Rasulullah. Demikian pula jejak kemenangan para nabi
sebelum beliau yang tercatat dalam Taurat dan Injil.
Surah Al Fath (Kemenangan) ayat 48
[48]. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang
yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi
berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari
karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka
dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat
mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas
itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di
atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
Mengamati jejak kesadaran ini diumpamakan atau
dimisalkan seorang petani yang mengamati benih yang ditanamnya. Inilah
perumpamaan yang indah sekali. Perumpamaan mengamati benih kesadaran. Mengamati
jejak-jejak kesadaran yang tumbuh di lingkungannya. Di hati para sahabat.
Mengamati jejak kesadaran M dan kesadaran N yang tumbuh. Mengamati tumbuhnya kesadaran M yang semakin besar dan kuat.
Jejak kesadaran Minda atau akal yang semakin berilmu, semakin memahami, semakin
besar dan berilmu pengetahuan.
Mengamati jejak kesadaran N, mengamati sifat-sifat,
mengamati karakter N, mengamati akhlak yang semakin
kuat dan indah, melihat daun yang hijau merimbun, melihat bunga-bunga yang
tumbuh dan melihat bulir-bulir buah yang mulai muncul. Di saat itulah sang
petani mulai membayangkan hasil panen yang luar biasa. Buah hasil panen,
mungkin itu padi, atau apel, ataukah buah-buahan lain yang begitu menjanjikan.
Buah kesadaran N yang
diumpamakan dengan rasa atau budi pekerti atau akhlak yang mulia. Kesadaran
yang membuahkan akhlakul karimah.
Kesadaran MN atau kesadaran IMAN. Kesadaran (ilmu) dalam akal/Minda
(M) yang membuat energy atau komintment (A) menuju akhlaq atau budi (N). Inilah kesadaran IMAN yang mampu menuju jalan lurus. Sebuah
keteguhan, ketundukan, kepasrahan,
totalitas dari kesadaran akal/minda (M) dan kesadaran budi (N).
Mari kita sadari jejak kesadaran seperti apakahyang kita
lakukan dan juga hasilnya. Dalam ayat ke 48 Surat Al Fath, dinyatakan dengan
sebuah ketegasan sebagai “orang yang
bersama” Rasulullah berkasih sayang, bukan hanya terhadap orang beriman
saja. Tetapi orang yang bersama Rasulullah atau orang Muslim. Sifat
kesadaran N (atau Rahman) ini
ditujukan kepada semua Muslim, yaitu orang yang bersahadat atau bersama
Rasulullah, demikian jejak kesadaran ini disampaikan, apapun madzab, apapun
golongannya. Sekalipun tidak sefaham, biar dia menganut wahdatul wujud, nur
Muhammad atau konsep apapun. Bila dia berada dalam payung shahadat maka kita
wajib memberikan payung kasih sayang, lemah lembut dan penjagaan. Bukan
mengejek, menyalahkan, mencaci, menghakimi, mencela.
Sebuah kesadaran penuh kasih sayang inilah kesadaran MN bagi para penempuh jalan penuh nikmat,
yaitu mengundang siapapun untuk datang menikmati kenikmatan yang sudah
dirasakan, bukan mencela atau merasa benar sendiri, atau yag paling baik
sendiri , atau dalam arogansi spiritual. Sebuah sikap menyalahkan orang lain untuk membuktikan bahwa
dirinyalah yang benar.
Kebenaran itu adalah antara
dirinya dan Rab Tuhan semesta alam. Dia yang lebih tahu manakah yang benar
menurut ketentuan diriNya.
Kebenaran yang tidak sempurna yang difahami anak kecil dan dijalankan
sepenuh hati tentu lebih berarti dari kebenaran yang lebih baik dari akhli yang
tidak dilaksanakan. Seperti ilmu gosok gigi yang difahami akhli gigi tapi tidak
dilaksanakan, tentu masih lebih bermanfaat metode gosok gigi anak TK yang
alakadarnya tetapi patuh dan rajin menggosok gigi.
Semua konsep ilmu dari kesadaran Minda atau akal tak akan membawa
langsung manfaat. Perlu komitmen untuk melakukannya. Melaksanakannya dengan
sepenuh rasa kesungguhan, keteguhan, atau adanyanya komitmen yang sesungguhnya.
Maka karena inilah Kesadaran Minda harus meliputi kesadaran hati.
Hati kecil (akal/minda) harus sudah mampu menguasai hati, sehingga
hati kecil (hati nurani) akan membesar menguasai seluruh hati atau Qolbu,
sehingga hati tak lagi terbolak-balik.
Inilah Kesadaran M meliputi
kesadaran N. Inilah
Ilmu (I) yang
difahami oleh Minda (M) yang
sudah menguasai hati (N) menjadi komitmen
menjadi sifat/karakter/akhlak. Inilah IMAN.
Perumpamaan dalam Al Fath
adalah seumpama petani yang menanam benih.
Inilah perumpamaan para
penempuh jalan ini bersama orang di sekelilingnya.
Ketika mereka menanam benih kesadaran
ilmu (M) dan kesadaran budi pekerti (N), maka seumpama benih di dalam hati
mereka. Kita hanya perlu menyiraminya, mungkin ada salah satu diantara benih
ini yang tumbuh. Kita tidak tahu benih mana yang akan hidup dan benih mana yang
akan mati. Kita hanya perlu komitmen dan keteguhan
hati untuk terus menyirami benih M dan N ini
menjadi benih IMAN. Rab
yang akan menumbuhkannya menjadi tunas, lalu menguatkannya menjadi batang dan
akhirnya tumbuh besar dan berbuah. Dan kita layaknya petani yang selalu setia
menjaga tunas ini tumbuh dan tumbuh dan terus tumbuh. Tidak pernah tahu tunas
mana yang akan tumbuh dan akan berbuah banyak nantinya.
Jejak kesadaran MN yang akan membawa kepada kemenangan yang
dijanjikan mampu kita amati dari seri wajah mereka yang penuh pancaran cahaya Rahman.
Pancaran cahaya kesadaran MN yang
berasal dari Ruh (RH).
Mereka yang telah mampu membalik kesadaran MNRH menjadi RHMN. Melihat alam akherat lebih
nyata daripada alam dunia. Melihat Rab dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi Rab
sebagai Raja dan diri sebagai pelayan atau budak atau abdi. Tiada kehendak
dirinya selain kehendak Rabnya. Inilah seri wajah mereka.
Dan melihat dalam realitas mereka akan ruku dan sujud bersama-sama.
Maka saat kemenangan yag dijanjikan akan tiba. Saat mampu melihat kasih sayang
diantara mereka. Dan kuat teguh menjalani kehidupan.
Sebuah jejak kesadaran Kemanangan yang dijanjikan.
Wallahu
alam.
Demikian kesadaran yang berasal dari atas, kesadaran langit yang
dikisahkan dalam Al Fath. Sebuah jejak kesadaran wahyu ilahi bagi kaum yang
mengimaninya. Kaum yang menggunakan minda (akal/fikiran), menggunakan kesadaran M. Kaum yag berkasih sayang, berbudi
pekerti. Kaum yang menggunakan kesadaran M.
Kaum yang menggunakan kesadaran N.
Kesadaran MN. Kaum yang beriman. Kesadaran IMAN.
Dan semua ini hanyalah usaha menuliskan apa yang difahami dalam bahasa
yang mungkin bisa dimengerti. Karena inipun hanyalah konsep pribadi maka
janganlah dipercayai tetapi cobalah jangan pula tidak dipercayai. Gunakan Minda atau
akal untuk membaca, mencoba mengerti. Dari siapapun informasi itu berasal,
sekalipun seorang bodoh, sekalipun dari anak kecil, atau sekalipun seorang yang
tidak berpengetahuan. Buka tutup gelas Minda untuk mendengarkan bisa jadi ada
sedikit kebaikan disana. Atau paling tidak bisa untuk direnungkan bila
senggang.
Tetapi seandainya tidak ada sedikitpun dariku yang bisa diterima akal,
maka cuplikan ayat Tuhan, semoga tercuplik dengan benar. Setidaknya telah
kusampaikan ayat Tuhanku dengan sepenuh perasaanku.
⏩ Bersambung ke Episode 11:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-11-membalik-kesadaran.html
No comments:
Post a Comment