Thursday, 1 February 2018

Episode 10. Melacak Jejak ‘Kesadaran Kemenangan’


10. Melacak Jejak ‘Kesadaran Kemenangan’


Jejak Kesadaran Langit

Kesadaran seperti apakah yang diinginkan Rabul alamin, Tuhan seluruh alam dimensi N (alamin) alam semesta?. Kemenangan seperti apakah yang dijanjikan Rab Semesta alam ini?. Bagaimanakah jejak langkah para pemenang itu?. Bagaimanakah Jejak kesadaran para pemenang itu?. Kita bisa membaca jejak langkah itu dari belakang, dari depan dan dari atas.

·     Dari belakang adalah jejak kesadaran yang tertulis dalam sejarah ummat-ummat terdahulu, kisah-kisah orang atau bangsa yang meraih kemenangan.
· Dari depan, yaitu dengan menggunakan mata kesadaran kita, melihat yang terjadi saat ini, menggunakan kesadaran mengamati bangsa-bangsa yang unggul, melihat individu-individu yang sukses yang meraih kemenangan.
·   Dari atas, yaitu membaca wahyu ilahi, membaca informasi langit, membaca apa yang telah dijanjikan Rab Tuhan semesta alam, jejak kesadaran seperti apakah yang dijanjikan untuk menjadi pemenang. Kesadaran yang bagaimanakah untuk menang, kriteria seperti apakah para pemenang. Langkah demi langkah yang bagaimana dan bukti kemenangan yang bagaimanakah ang mampu teramati

Jejak Kesadaran Kemenangan yang dijanjikan langit, Kesadaran dari Langit yang dijanjikan. Kesadaran Para Ksatria Langit. Kesadaran Para Pengelana Cahaya. Kesadaran Para Penjelajah cahaya. Kesadaran Cahaya Langit yang sudah berada dalam dada manusia bumi, Jejak langit yang mengisi rongga dada di bumi. Jejak langit yang telah ada di bumi. Kesadaran langit yang merupakan potensi manusia bumi. Jejak Kesadaran cahaya langit dan bumi.
Jejak Kesadaran cahaya samawa (SMW) dan ard (ARD).
Jejak kesadaran sang khalifah.


Mengikuti jalan cahaya sebagaimana yang disebutkan dalam surah cahaya (An nur)

Entitas cahaya (ksatria) langit diturunkan ke bumi, menjadi khalifah di bumi, mewakili kepentingan Rab di muka bumi.

Melacak jejak kesadaran sang ksatria langit yang diturunkan ke bumi.
Jejak kesadaran sang khalifah awal yaitu ADAM dan Hawa.
Jejak kesadaran DM dan HW yang turun temurun. Jejak kesadaran yang terus setia di jalan ini, di jalan kesadaran sang khalifah. Kesadaran para nabi dan Rasul. Jejak kesadaran Adam (DM) dengan pasangannya Hawa (HW) yaitu jejak kesadaran ‘DM HW’ yang disempurnakan dalam jejak kesadaran Muhammad (MHMD).

Sebuah perjalanan panjang untuk menyucikan hawa (HW). Pejalanan panjang para penenmpuh jalan ini selangkah demi selangkah menyempurnakan HW dalam dirinya. Sehingga HW melepaskan W dalam dirinya dan hanya menggunakan H menjadi MH.

Jejak penyempurnaan kesadaran M (Minda) mengikuti jejak kesadaran ilahi sebuah kesadaran universal, kesadaran H, dalam rangkain MH. Dan membalik potenti DM, menjadi MD. Sebuah penyempurnaan kesadaran MHMD. Rangkaian perjalanan panjang ‘DM HW’ menjadi MHMD, sebuah jejak kesadaran langit yang bisa kita pelajari dan fahami dalam kisah-kisah orang-orang terpilih yang terdahulu yang dikisahkan dari langit, wahyu dari langit. Itulah rencana langit, itulah kemenangan yang dijanjikan.

Jalan lurus menuju ‘Kemenangan yang dijanjikan’

Allah memberikan perumpamaan dan permisalan demi permisalan untuk kita berfikir, untuk memudahkan kita menerima pesan kesadaran. Untuk mendapat pengetahuan dan mendapat petunjuk. Maka perumpamaan semacam inipun hanya akan berguna bagi yang mau mencoba mengerti dan memahaminya.

==================================
Surah Al Fatihah (Pembukaan) ayat 6-7
 [6]Tunjukilah kami jalan yang lurus,
[7](yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan(jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
(QS. Al Fatihah)
==================================

Setiap nabi membawa kurikulum pelajaran yang diberikan kepada mereka dari Rabul alamin. Pelajaran demi pelajaran yang diturunkan disempurnakan dan terus disempurnakan. Inilah jalan lurus, jalan penghubung para nabi. Jalan yang sama yang ditempuh para nabi, jalan kesadaran D menuju kesadaran N, jalan DieN, jalan lurus.

Dan inti pengajaran para nabi yang penting dari mereka tertulis dalam kitab yang disempurnakan yaitu Al Quran. Itulah jalan mereka yang telah diberi kesadaran N dan kesadaran M. Kesadaran NM (anam/nikmat). Sebuah jalan orang yang telah diberi nikmat. Jejak kesadaran mereka tertuang dalam perpindahan ‘jejak kesadaran M membawa D menuju N mengikuti kehendak H’. Jejak kesadaran MDNH. Inilah jejak kesadaran hijrah Madinah (MDNH).

Jejak kesadaran M(minda) mengikuti kesadaran ilahi atau kesadaran H adalah mengikuti jalan kesadaran DN. Jalan kesadaran DN adalah jalan kesadaran Dien. Atau Jalan kesadaran Dien, jalan lurus. Secara teramat sangat sederhana kita bisa menuliskan kesadaran MDNH ini adalah:

MDNH
                        M=Kesadaran akal (Minda)
                        D= Kesadaran ketubuhan, panca indera, kesadaran alam materi
                        N= kesadaran budi/jiwa/hati, yaitu ego, rasa, kesadaran nafs
                        H= Kesadaran ilahiah, kesadaran ruh, kesadaran akherat

Secara symbol, maka kesadaran akal kita harus mampu menempuh jalan yang membawa raga menuju entitas jiwa dan menuju entitas ruh. Inilah perjalanan Hijrah. Perjalanan MDNH. Kesadaran M adalah kuncinya, kesadaran akal yang mampu menuju kesadaran yang meliputi seluruh diri manusia. Untuk menempuh jalan lurus, menempuh DN (DieN).

Untuk menempuh kesadaran DN, manusia diajarkannya doa kepada mereka agar senantiasa memohon kepada Tuhannya

“Tunjukanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat “

Pertanyaannya adalah:
Maukah manusia mengikuti jalannya orang yang diberikan nikmat-Nya?.
Tetapi ketika manusia di tunjukkan jalan-Nya orang yang diberi nikmat.
Mereka justru meragukan jalan tersebut, mengingkari, mendustakannya. 

==================================
Surah Al Fath (Kemenangan) ayat 1-3
[1]. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,
[2]. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,
[3]. dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).
==================================

Melacak jejak kesadaran ‘Kemenangan yang dijanjikan’

Kemenangan yang dijanjikan Allah atau “kriteria” kemenangan menurut Allah bisa kita amati atau buktikan dengan melihat tanda-tanda yang diberikan di akhir surah Al Fath ayat 48. Di titik inilah atau di posisi inilah “Kesuksesan Rasulullah”. 
Real Victory, kemenangan yang nyata menurut Allah. 
Kemenangan saat mampu “menaklukkan “jiwa”.

Kemenangan yang terlihat saat kita melihat orang-orang yang bersamanya keras terhadap kafir (teguh dalam pendirian), tidak gentar dan tidak pula takut. Berkasih sayang sesama mereka. Dan mampu melihat ‘raut wajah’ yang menampakkan "sifat" ketundukan, kepatuhan sumpah setia atas arahan Rasulullah.

Kemenangan jiwa adalah kemenangan yang sebenarnya menurut kriteria Allah dalam surah Al Fath ayat 48.

Kemenangan ini seperti halnya setiap nabi sebelum Nabi Muhammad, setiap nabi yang mampu membawa sahabatnya ke posisi kemenangan ini maka itulah saat kemenangan yang dijanjikan. Dan ini pula janji Allah kepada Nabi Muhammad di perjanjian Hudaibiyah, bahwa suatu ketika beliau akan melihat para sahabatnya ruku dan sujud mengharap ridho Allah, yaitu di hari-hari terakhir menjelang kematian beliau.

Kemenangan Rasulullah bukan pada kemenangan peperangan atau penaklukan. Tetapi pada: ‘ketundukan, kepasrahan, dan baiat, sumpah setia kepada Rasulullah’. Pada saat mereka semua bersumpah setia menjadi shahabat karena Allah. Mengikuti perintah Rasulullah dan bertekad sehidup semati. Inilah puncak kemenangan Rasulullah. Demikian pula jejak kemenangan para nabi sebelum beliau yang tercatat dalam Taurat dan Injil.

Surah Al Fath (Kemenangan) ayat 48
 [48]. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.


Mengamati jejak kesadaran ini diumpamakan atau dimisalkan seorang petani yang mengamati benih yang ditanamnya. Inilah perumpamaan yang indah sekali. Perumpamaan mengamati benih kesadaran. Mengamati jejak-jejak kesadaran yang tumbuh di lingkungannya. Di hati para sahabat. Mengamati jejak kesadaran M dan kesadaran N yang tumbuh. Mengamati tumbuhnya kesadaran M yang semakin besar dan kuat. Jejak kesadaran Minda atau akal yang semakin berilmu, semakin memahami, semakin besar dan berilmu pengetahuan.

Mengamati jejak kesadaran N, mengamati sifat-sifat, mengamati karakter N, mengamati akhlak yang semakin kuat dan indah, melihat daun yang hijau merimbun, melihat bunga-bunga yang tumbuh dan melihat bulir-bulir buah yang mulai muncul. Di saat itulah sang petani mulai membayangkan hasil panen yang luar biasa. Buah hasil panen, mungkin itu padi, atau apel, ataukah buah-buahan lain yang begitu menjanjikan. Buah kesadaran N yang diumpamakan dengan rasa atau budi pekerti atau akhlak yang mulia. Kesadaran yang membuahkan akhlakul karimah.

Kesadaran MN atau kesadaran IMAN. Kesadaran (ilmu) dalam akal/Minda (M) yang membuat energy atau komintment (A) menuju akhlaq atau budi (N). Inilah kesadaran IMAN yang mampu menuju jalan lurus. Sebuah keteguhan, ketundukan, kepasrahan, totalitas dari kesadaran akal/minda (M) dan kesadaran budi (N).

Mari kita sadari jejak kesadaran seperti apakahyang kita lakukan dan juga hasilnya. Dalam ayat ke 48 Surat Al Fath, dinyatakan dengan sebuah ketegasan sebagai “orang yang bersama” Rasulullah berkasih sayang, bukan hanya terhadap orang beriman saja. Tetapi orang yang bersama Rasulullah atau orang Muslim. Sifat kesadaran N (atau Rahman) ini ditujukan kepada semua Muslim, yaitu orang yang bersahadat atau bersama Rasulullah, demikian jejak kesadaran ini disampaikan, apapun madzab, apapun golongannya. Sekalipun tidak sefaham, biar dia menganut wahdatul wujud, nur Muhammad atau konsep apapun. Bila dia berada dalam payung shahadat maka kita wajib memberikan payung kasih sayang, lemah lembut dan penjagaan. Bukan mengejek, menyalahkan, mencaci, menghakimi, mencela.

Sebuah kesadaran penuh kasih sayang inilah kesadaran MN bagi para penempuh jalan penuh nikmat, yaitu mengundang siapapun untuk datang menikmati kenikmatan yang sudah dirasakan, bukan mencela atau merasa benar sendiri,  atau yag paling baik sendiri , atau dalam arogansi spiritual. Sebuah sikap menyalahkan orang lain untuk membuktikan bahwa dirinyalah yang benar. 

Kebenaran itu adalah antara dirinya dan Rab Tuhan semesta alam. Dia yang lebih tahu manakah yang benar menurut ketentuan diriNya.

Kebenaran yang tidak sempurna yang difahami anak kecil dan dijalankan sepenuh hati tentu lebih berarti dari kebenaran yang lebih baik dari akhli yang tidak dilaksanakan. Seperti ilmu gosok gigi yang difahami akhli gigi tapi tidak dilaksanakan, tentu masih lebih bermanfaat metode gosok gigi anak TK yang alakadarnya tetapi patuh dan rajin menggosok gigi.

Semua konsep ilmu dari kesadaran Minda atau akal tak akan membawa langsung manfaat. Perlu komitmen untuk melakukannya. Melaksanakannya dengan sepenuh rasa kesungguhan, keteguhan, atau adanyanya komitmen yang sesungguhnya. Maka  karena inilah Kesadaran Minda harus meliputi kesadaran hati

Hati kecil (akal/minda) harus sudah mampu menguasai hati, sehingga hati kecil (hati nurani) akan membesar menguasai seluruh hati atau Qolbu, sehingga hati tak lagi terbolak-balik. 

Inilah Kesadaran M meliputi kesadaran N. Inilah Ilmu (I) yang difahami oleh Minda (M) yang sudah menguasai hati (N) menjadi komitmen menjadi sifat/karakter/akhlak. Inilah IMAN.

Perumpamaan dalam Al Fath adalah seumpama petani yang menanam benih.
Inilah perumpamaan para penempuh jalan ini bersama orang di sekelilingnya.

Ketika mereka menanam benih kesadaran ilmu (M) dan kesadaran budi pekerti (N), maka seumpama benih di dalam hati mereka. Kita hanya perlu menyiraminya, mungkin ada salah satu diantara benih ini yang tumbuh. Kita tidak tahu benih mana yang akan hidup dan benih mana yang akan mati. Kita hanya perlu komitmen dan keteguhan hati untuk terus menyirami benih M dan N ini menjadi benih IMAN. Rab yang akan menumbuhkannya menjadi tunas, lalu menguatkannya menjadi batang dan akhirnya tumbuh besar dan berbuah. Dan kita layaknya petani yang selalu setia menjaga tunas ini tumbuh dan tumbuh dan terus tumbuh. Tidak pernah tahu tunas mana yang akan tumbuh dan akan berbuah banyak nantinya.

Jejak kesadaran MN yang akan membawa kepada kemenangan yang dijanjikan mampu kita amati dari seri wajah mereka yang penuh pancaran cahaya Rahman. Pancaran cahaya kesadaran MN yang berasal dari Ruh (RH). Mereka yang telah mampu membalik kesadaran MNRH menjadi RHMN. Melihat alam akherat lebih nyata daripada alam dunia. Melihat Rab dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi Rab sebagai Raja dan diri sebagai pelayan atau budak atau abdi. Tiada kehendak dirinya selain kehendak Rabnya. Inilah seri wajah mereka.

Dan melihat dalam realitas mereka akan ruku dan sujud bersama-sama. Maka saat kemenangan yag dijanjikan akan tiba. Saat mampu melihat kasih sayang diantara mereka. Dan kuat teguh menjalani kehidupan.

Sebuah jejak kesadaran Kemanangan yang dijanjikan.

Wallahu alam.

Demikian kesadaran yang berasal dari atas, kesadaran langit yang dikisahkan dalam Al Fath. Sebuah jejak kesadaran wahyu ilahi bagi kaum yang mengimaninya. Kaum yang menggunakan minda (akal/fikiran), menggunakan kesadaran M. Kaum yag berkasih sayang, berbudi pekerti. Kaum yang menggunakan kesadaran M. Kaum yang menggunakan kesadaran N. 
Kesadaran MN. Kaum yang beriman. Kesadaran IMAN.

Dan semua ini hanyalah usaha menuliskan apa yang difahami dalam bahasa yang mungkin bisa dimengerti. Karena inipun hanyalah konsep pribadi maka janganlah dipercayai tetapi cobalah jangan pula tidak dipercayai. Gunakan Minda atau akal untuk membaca, mencoba mengerti. Dari siapapun informasi itu berasal, sekalipun seorang bodoh, sekalipun dari anak kecil, atau sekalipun seorang yang tidak berpengetahuan. Buka tutup gelas Minda untuk mendengarkan bisa jadi ada sedikit kebaikan disana. Atau paling tidak bisa untuk direnungkan bila senggang.

Tetapi seandainya tidak ada sedikitpun dariku yang bisa diterima akal, maka cuplikan ayat Tuhan, semoga tercuplik dengan benar. Setidaknya telah kusampaikan ayat Tuhanku dengan sepenuh perasaanku.


⏩ Bersambung ke 
Episode 11:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-11-membalik-kesadaran.html

No comments:

Post a Comment

SAMUDRA SIMBOL

SAMUDRA SIMBOL 3 - BAHASA CAHAYA ======================================================================== Pengantar: https://samudrasimb...