11.
Membalik Kesadaran, menyalakan api
Tuhan
Sungguh sayang aku sering
gagal mengajar berperilaku baik pada diriku
Tolonglah ajari aku bagaimana caranya mengajari diriku sendiri..
Bukan bagaimana cara mengajari orang lain
Karena kemampuan mengajar kepada orang lain akan menjadikanku sombong
Merasa menjadi guru
Aku merasa mengajar adalah bukanlah agar orang menjadi pengikut
fahamku
Bukan agar orang memahami apa yang kusampaikan pula
Bagiku mengajar adalah bagaimana agar orang mau belajar pada dirinya
sendiri
menjadi pengikut hati nuraninya
Bukan hanya untuk menjadikan orang pandai semata
Tetapi terutama untuk menjadikan orang untuk menghargai hidupnya
sendiri
Maka bagaimana agar aku bisa melakukan itu
Tolonglah ajari aku…
Ajari aku melembutkan hatiku…memilih kata,..memperindah bahasa
Menyantunkan isi pembicaraan…menyampaikan pesan penuh kasih sayang
Mengisi kata dengan penuh Rahmah
Meliputi kalimat penuh kelembutan dan keindahan, keteduhan dan
kedamaian
Cahaya
Sang Pencerah
Energy apakah yang membuat seorang lelaki buta huruf
(ummi) tak kenal baca tulis dari lembah nun jauh di daerah gurun tak banyak
dikenal dunia menjadi seorang tokoh nomor satu dunia. Sang Perubah. Sang
Pembaharu. Sang Pencerah. Cahaya yang mengusir kegelapan. Di dunia yang dikenal
sebagai Dark Age, Abad kegelapan. Dunia yang sedemikian
gelap total, seperti malam gelap yang panjang, berubah dengan kedatangan
matahari pagi, seperti cahaya saat Duha di pagi hari.
Daya apakah yang membuat tulang dan daging di tubuh
seorang lelaki seolah membaja dan seperti tahan oleh setiap gempuran sekuat dan
sekeras apapun. Begitu kokoh kuat teguh lentur. Seteguh batu karang dihempas
ombak kehidupan. Lentur seperti bambu dihempas angin tetap tegak. Seperti air yang
ditebas dan dipotong akan kembali menyatu.
Daya hidup
apakah itu?.
Entitas apakah yang membuat jiwa begitu indah lembut
santun dipenuhi cinta kasih tak bertepi menembus zaman ruang waktu seperti
matahari yang menyinari dunia?
Seperti kejutan yang tak terbayangkan?
Semangat apa yang seolah seperti api yang menerangi
jiwa-jiwa yang dipenuhi kegelapan. Lalu setiap jiwa seolah memantulkan cahaya
api yang sama. Kemanapun mereka pergi akan membawa kabar gembira dan
kebahagiaan. Atau seolah air hujan penuh berkah dan rahmat. Dimanapun
diturunkan akan menyuburkan tanah. Dimanapun dia pergi akan menyuburkan hati.
Kekuatannya melintas batas ruang waktu. Menggetarkan langit.
Menggoyang bumi, menggegerkan alam gaib. Seolah alam dan
penghuninya bergegas mendengar kedatangannya. Kekuatannya tetap memancar pada
setiap penerus dan pengikutnya yang setia. Kekuatannya memancar dari wajah
penuh keteguhan, keyakinan. Kepastian menempuh jalan hidup. Tiada rasa was-was
dan tiada rasa takut.
Daya dan
kekuatan seperti apakah yang mengukir dan menyempurnakan jiwa itu?.
Energy yang bagaimanakah yang mampu mengajak jiwa para
pemalas menjadi seorang akhli yang rajin. Mengajak seorang pembangkang menjadi patuh.
Seorang pembunuh menjadi pejuang. Seorang pemarah menjadi penyabar dan kasih
sayang. Seorang yang hina dina menjadi mulia. Seorang hamba menjadi penguasa.
Seorang lemah menjadi ksatria perang. Seorang budak menjadi pemimpin perkasa.
Suku terasing menjadi penggenggam dunia.
Perjalanan
di mulai di Gua Hira
Perjalanan panjang dimulai di saat
memutuskan untuk berdiam diri, menyepi, duduk, diam bertahanut. Kalimat nan
sederhana, maka kuiringi perjalanan ini dalam untaian kidung alam, senandung
angin, kicau burung, heningnya malam, dan hangatnya sinar matahari pagi. Yang
menjadi sebuah “buku alam semesta”. Seumpama lagu tanpa syair. Hanya menjadi
nada dan irama, sebelum menjadi kata dan kalimat. Saat masih berupa denting
nada, saat masih berupa lambang, symbol. Saat belum dimaknai apapun. Saat masih
menjadi buta huruf, menjadi ummi, dalam kegelapan, dan saat datangnya cahaya
yang membuka kesadaran.
Untaian kisah ini tentunya tidak untuk mengajari seperti
bait pembuka kataku, untaian ini terutama hanya untuk
membaca apa yang ada dalam diri sendiri. Tulisan apapun setelah dibaca maka
lupakan, setelah mampu merasakan lambang, atau rasa atau ruh dalam tulisan ini.
Lupakan kata, lupakan kalimat, tetapi endapkan rasanya, dan lihatlah cahaya
(ruh)nya, yang mungkin akan menerangi sisi-sisi gelap dalam diri. Bila ada
kehendak tentunya. Tetapi tentu saja tulisan ini terutama ditujukan untuk
mengajari diriku sendiri. Memaknai perjalanan sang sahabat dan mengambil hikmah
bagiku sendiri. Dan hikmah ini akan menjadi kisah yang kuhantarkan. Apapun
makna bagi yang membaca adalah keputusan dan keyakinan dalam diri sendiri
tentunya. Silahkan memaknainya apa saja.
Perjalanan menemukan cahaya (Ruh) dari Mekah ke Gua
Hira, perjalanan mendaki lagi sukar, berulang kali, intensif, naik dan turun.
Naik ke Hira (HR) dan turun lagi ke Mekah (MKH). Sebuah perjalanan yang melambangkan perjalanan jiwa untuk
menemukan cahaya Tuhan. Perjalanan mendaki, perjalanan yang harus menjadi Ummi,
melepas kesadaran, menemukan potensi diri. Menerima rencana Tuhan bagi dirinya.
Menerima perintah Tuhan. Menemukan Rab.
Inilah perjalanan pertama dan utama yaitu menemui Rabul Alamin.
Sebuah proses mengenali kesadaran N (akhlaq yang disempurnakan), atau N yang diinginkan Rabul alamin,
Potensi N (nafs). Menerima turunnya N (nun) penyempurna yaitu kalam ilahi. Proses iterative menemukan N ini secara sejarah dapat kita
telusuri dari sejarah turunnya Al Quran (yang menerangkan berbagai jenis sifat
nafs N), yaitu saat Rasulullah bertahanut dan menyepi, bertafakur dari
Mekah ke Gua Hiro. Hal itu beliau lakukan berulang kali, dan
seterusnya sampai turunnya Malaikat Jibril membawa Al Quran (NuR).
Proses
iterative dan berulang-ulang terus menerus.
MEKAH-HIRO-MEKAH-HIRO
MK-HR-MK-HR
MKHR
M=Kesadaran akal (Minda)
K= tabir, layar, cover, screen, penutup,
hijab
H= Kesadaran ilahiah, kesadaran ruh,
kesadaran akherat
R= Ketetapan, urusan, takdir, ketentuan, program,
hukum alam
N= kesadaran budi/jiwa/hati, yaitu ego,
rasa, kesadaran nafs
Maka
proses iterative ini adalah untuk membuka penutup K agar cahaya yang dibawa RH itu diterima. Apakah cahaya yang
dibawa RH?. Cahaya adalah NUR=NR. Cahaya yang dibawa akan membuka penutup (K). Sehingga nampaklah N, namun N bersama R, hanyalah nampak sebagai cahaya=NR=nur. Maka menerima N berarti
haruslah menerima R=urusan dari H.
“Berarti proses membuka hijab K
adalah proses menerima cahaya NR, penerimaan ini berupa penerimaan
urusan Tuhan RH”.
Proses turunnya Al Quran (N)
bagi setiap jiwa adalah proses membuka penutup (K=cover) jiwa. Sehingga cahaya=nur=NR mengisi kesadaran maka diri M akan selalu dalam proses menuju N.
Bagi setiap kesadaran diri (M) maka proses MK-HR adalah proses iterative
inversion dengan referensi Model N. Model ini
akan selalu di update dalam setiap proses, dan di proses iterative selanjutnya
yang disempurnakan dengan model yang lebih baik. Lebih baik dan lebih baik
lagi.
Maka tahapan dari tahap ke tahap yang lain adalah
menyempurnakan atau meng-update sifat N (nafs), sehingga memperoleh sifat N yang terbaru bagi jiwa kita. Sifat N (nafs) disempurnakan dan selalu up to date. Kesadaran N terbaru inilah yang akan menjadi referensi pribadi sebagai acuan
saat ini yang seharusnya meningkat dari dari hari sebelumnya atau bulan yang
lalu dan seterusnya.
MKHR yaitu membuka
cover K sehingga turunlah update terbaru dari N bagi diri pribadi sebagai referensi atau acuan Kesadaran
minda M menuju kesadaran ilahiah H.
Proses turunnya N bersama R yaitu dalam bentuk cahaya
surga=NR yang turun ke bumi di
bawa oleh para ruh=RH bagi setiap diri yang membuka kesadaran minda M. Bagi yang berfikir, bagi yang
bertafakur, bagi yang menggunakan fikiran, bagi yang menggunakan akalnya, bagi
yang menggunakan kesadaran Mnya.
Proses iterasi mengenali MNRH yaitu dilakukan dengan membuka cover diri (K) dalam proses MKHR dengan proses iterative
inversion dengan referensi N yang selalu disempurnakan
dalam setiap proses iterasi yang dilakukan.
Menyalakan
api Tuhan (Ruhani).
Sebuah catatan penting dalam proses berdiam diri
di HR, atau di Gua Hira. Kita
harus membayangkan kondisi Gua Hira. Suatu posisi yang tertutup di belakang,
kanan dan kiri, hanya bisa melihat ke depan dan atas serta bawah, posisi di
atas bukit yaitu di dalam posisi kegelapan. Dan keadaan ini disimbolkan pula dengan
kesadaran UMMI. Suatu keadaan yang diminta menggunakan kesadaran Minda atau
akal. Lambang huruf hijaiyah Mim bila kita baca ada dua M yang mengapit I. Yaitu M I M.
Dualitas M inilah yang sering kita maksudkan dengan kesadaran akal
dan hati. Kesadaran material (akal biologis) dan akal ruhani (bathin). Kesadaran M nyata dan kesadaran M gaib. Kesadaran M dalam diri dan M yang ada di alam semesta.
Karena M ini juga berada dalam symbol huruf
Hijaiyah Lam. Dalam symbol huruf Lam, di dalamnya ada symbol kesadaran M. Sehingga di dalam symbol ‘Alif Lam Lam Ha’. Meliputi dua
kesadaran M. Meliputi dua Lam (alam), yaitu alam gaib dan alam
dhahir. Alam Bathin, dan alam nyata.
UMMI
M=Kesadaran akal (Minda), disini mulai
dipisahkan dengan
dualitas
kesadaran akal biologis dan kesadaran akal ruhani.
U=Potensi
I=Ilmu (pantulan dari Alif).
Ummi secara lambang adalah berada pada posisi
potensi U suatu keadaan seperti computer
setelah reboot, kondisi siap pakai dan belum ada program yang aktif. Inilah
posisi kesadaran akal biologis M dan masuk ke kesadaran akal ruhani M untuk memasuki alam
informasi I. Potensi
Kesadaran akal biologis material (akal biologis) dan akal ruhani. Posisi
kesadaran M berada
dalam potensi atau kesiapan menerima Informasi dalam kesadaran ruhani M.
Posisi Ummi, Kesadaran M inilah menerima cahaya kesadaran NR dari kesadaran ilahi H. Sebuah proses mengenali MNRH. Proses
ummi adalah proses berada pada maqom atau keadaan minruhi atau
MNRH, yang siap menjadi receiver atau receptor bagi RHMN. Inilah proses membalik kesadaran diri berpindah
menjadi MNRH=minruhi menjadi RHMN, atau proses menerima
cahaya RHMN.
Membalik kesadaran MNRH – RHMN
Proses memasuki alam Ruhani, proses mengenali Dzat yang
Rahman dan Rahim (RHM N RHM). Proses menerima
cahaya NR. Sebuah serah terima tugas Amanah (MNH) yang harus diterima.
Sebuah Amr (MR), ketentuan yang bisa diterima oleh Kesadaran M. Kalimat demi kalimat “memang biasa” dan teramat sangat biasa bagi semua
orang yang telah memutuskan sebuah pilihan atas anggapan bahwa “kalimat ini hanya kalimat biasa” namun kalimat
demi kalimat yang ditulis penuh perasaan tulus ikhlas kepada Tuhan Sang
Pencipta alam penuh kesungguhan hati di hadapan Tuhan akan terasa “sangat luar biasa” bagi siapa saja yang mau dengan “tulus ikhlas” menempatkan Allah dalam poros fikiran (Kesadaran M) dan merelakan Allah yang memilihkan rasa (Kesadaran N), rasa “lai ilaha ilallah”.
Rasa ingat, rasa terhubung
dan tersambung sehingga rasa itu akan saling terhubung dengan jiwa yang lain yang tengah
mengingat Allah (Kesadaran RH) dan menuangkan rasa itu dalam
kalimat disini. Seperti
menyalakan api Tuhan, sebuah kesadaran RH, kesadaran ruhani, api
Tuhan yang merupakan potensi kesadaran yang tersembunyi di dalam setiap dada
manusia. Api
ruhani. Kesadaran ruhani, potensi kesadaran RHN yang ada dalam dada kita.
Sangat sulit menjelaskan apa yang ingin saya kisahkan dengan kata ini
karena kesadaran kolektif kita telah demikian carut marutnya, memaknai ini
dan begitu banyak tabir tabu dan larangan untuk tidak boleh dilanggar, termasuk
mempermudah dengan pola rumus matematika atau fisika ini, semua lambang
ini hanya untuk mencoba menyederhanakan, apa yang ada di dalam dan apa yang
ada di luar ini dengan simbol karena akan mudah sekali dikenali.
Allah berfirman meniupkan sesuatu yang dekat dariNya
atau sesuatu yang berasal dariNya ke dalam diri kita yaitu min ruhi atau kita
simbolkan dengan MNRH, inilah yang ada
dalam diri kita, sedangkan yang ada dialam semesta adalah ruh=RH dan ada Rahiem=RHM sifat Allah serta yang ada adalah Rahman=RHMN.
RHMN bila dibalik menjadi MNRH, maka bila kita mampu membalik kesadaran MNRH kitapun mampu memiliki sifat kesadaran RHMN
Saat RHMN ini kitapun
akan mampu merasa bersama dengan sifat RHMN
dari alam semesta, kitapun mampu berada dalam kesadaran ruh alam RHM atau
kitapun bisa berada di dimensi RH, sebuah dimensi ruhani atau alam ruh yang
tidak kita kenal sebelumnya. Dimensi api Tuhan yang bisa sangat berbahaya
karena kita akan mudah terbakar bila tidak berada dalam tabir (K) yang meliputinya.
Membara
di api Tuhan
Nun, di atas sana di pucak sebuah bukit gersang. Dibukit batu
berbatu, dalam kegelapan malam, diam sendiri dalam hening. Mencari
sepercik api untuk memandang kejauhan, mengharap bintang turun menerangi. Atau rembulan
bersinar membuka pandangan, namun kegelapan itu bukan apa yang Nampak di
hadapannya, justru kegelapan itu ada dalam dirinya, kegelapan dalam hatinya. Kegelapan yang
seolah mimpi, ketiadaan, ketidakmengertian, ketidaktahuan, ketidakperdulian,
ketiadaan rasa, rasa emphaty, rasa belas kasih, rasa cinta, rasa keadilan, rasa
menyayangi. Rasa tenang, rasa damai, rasa puas dalam hidup dan rasa tanya
yang memenuhi seluruh rongga dada. Begitu penuh, sesak, penat, dalam tanya, ruang diam itu
begitu sunyi, tapi fikiran itu sedemikian ramainya.
Rasa itu begitu sepi dan sendiri, sementara hasrat dan
keinginan sedemikian ramainya dengan hawa yang demikian asingnya memenuhi dada. Ketika waktu
tiada berarti, saat awal bertemu akhir. Ketika cahaya datang dan tidak tahu
lagi yang mana kegelapan. Ketika kedamaian mengalir bersama kehidupan. Bersama
datangnya ruh alam semesta. Dalam hening. Menerima rencana Tuhan yang akan ditugaskan. Bagi hambaNya
yang telah suka rela, bersiap sedia. Melakukan sebuah rencana yang teramat khusus. Yang hanya
diperuntukkan bagi diriNya. Sebuah janji setia. Sebuah jalinan yang khusus
yang sangat pribadi. Sebuah jalan terbentang sebagaimana jalan yang telah terpilih. Dari para pendahulu.
“JALAN ORANG YANG TELAH DIKARUNIAI NIKMATNYA”.
Sebuah proses mengaktifkan dualitas Kesadaran M untuk menyempurnakan N, sehingga meniupkan api Tuhan RH. MNRH. Api Tuhan ini berguna saat kegelapan tiba. Tapi bila cahaya
matahari RHMN tiba, maka ada atau tidaknya api tuhan dalam diri MNRH menjadi tidak perlu.
Maka api Tuhan MNRH berguna saat gelap tiba,
saat tiada cahaya matahari RHMN, sehingga masih tetap mampu
berjalan meskipun di kegelapan malam. Menunggu kembalinya cahaya matahari pagi RHMN. Saat itu semua jelas dan nyata, maka akan mudahlah mencari
jalan, dan tetap berjalan di bawah cahaya matahari RHMN. Api Tuhan MNRH adalah percikan api
matahari Tuhan RHMN. Keduanya adalah entitas yang sama, berasal dekat dari sisi
Rabul alamin.
⏩ Bersambung ke Episode 12:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-12-langkah-sang-khalifah-syurga.html
No comments:
Post a Comment