Thursday, 1 February 2018

Episode 11. Membalik Kesadaran


11. Membalik Kesadaran, menyalakan api Tuhan


Sungguh sayang aku sering gagal mengajar berperilaku baik pada diriku
Tolonglah ajari aku bagaimana caranya mengajari diriku sendiri..
Bukan bagaimana cara mengajari orang lain
Karena kemampuan mengajar kepada orang lain akan menjadikanku sombong
Merasa menjadi guru
Aku merasa mengajar adalah bukanlah agar orang menjadi pengikut fahamku
Bukan agar orang memahami apa yang kusampaikan pula
Bagiku mengajar adalah bagaimana agar orang mau belajar pada dirinya sendiri
menjadi pengikut hati nuraninya

Bukan hanya untuk menjadikan orang pandai semata
Tetapi terutama untuk menjadikan orang untuk menghargai hidupnya sendiri
Maka bagaimana agar aku bisa melakukan itu
Tolonglah ajari aku…
Ajari aku melembutkan hatiku…memilih kata,..memperindah bahasa
Menyantunkan isi pembicaraan…menyampaikan pesan penuh kasih sayang
Mengisi kata dengan penuh Rahmah
Meliputi kalimat penuh kelembutan dan keindahan, keteduhan dan kedamaian


Cahaya Sang Pencerah

Energy apakah yang membuat seorang lelaki buta huruf (ummi) tak kenal baca tulis dari lembah nun jauh di daerah gurun tak banyak dikenal dunia menjadi seorang tokoh nomor satu dunia. Sang Perubah. Sang Pembaharu. Sang Pencerah. Cahaya yang mengusir kegelapan. Di dunia yang dikenal sebagai Dark Age, Abad kegelapan. Dunia yang sedemikian gelap total, seperti malam gelap yang panjang, berubah dengan kedatangan matahari pagi, seperti cahaya saat Duha di pagi hari.

Daya apakah yang membuat tulang dan daging di tubuh seorang lelaki seolah membaja dan seperti tahan oleh setiap gempuran sekuat dan sekeras apapun. Begitu kokoh kuat teguh lentur. Seteguh batu karang dihempas ombak kehidupan. Lentur seperti bambu dihempas angin tetap tegak. Seperti air yang ditebas dan dipotong akan kembali menyatu.
Daya hidup apakah itu?.

Entitas apakah yang membuat jiwa begitu indah lembut santun dipenuhi cinta kasih tak bertepi menembus zaman ruang waktu seperti matahari yang menyinari dunia?
Seperti kejutan yang tak terbayangkan?

Semangat apa yang seolah seperti api yang menerangi jiwa-jiwa yang dipenuhi kegelapan. Lalu setiap jiwa seolah memantulkan cahaya api yang sama. Kemanapun mereka pergi akan membawa kabar gembira dan kebahagiaan. Atau seolah air hujan penuh berkah dan rahmat. Dimanapun diturunkan akan menyuburkan tanah. Dimanapun dia pergi akan menyuburkan hati. Kekuatannya melintas batas ruang waktu. Menggetarkan langit.

Menggoyang bumi, menggegerkan alam gaib. Seolah alam dan penghuninya bergegas mendengar kedatangannya. Kekuatannya tetap memancar pada setiap penerus dan pengikutnya yang setia. Kekuatannya memancar dari wajah penuh keteguhan, keyakinan. Kepastian menempuh jalan hidup. Tiada rasa was-was dan tiada rasa takut.

Daya dan kekuatan seperti apakah yang mengukir dan menyempurnakan jiwa itu?.

Energy yang bagaimanakah yang mampu mengajak jiwa para pemalas menjadi seorang akhli yang rajin. Mengajak seorang pembangkang menjadi patuh. Seorang pembunuh menjadi pejuang. Seorang pemarah menjadi penyabar dan kasih sayang. Seorang yang hina dina menjadi mulia. Seorang hamba menjadi penguasa. Seorang lemah menjadi ksatria perang. Seorang budak menjadi pemimpin perkasa. Suku terasing menjadi penggenggam dunia.

Perjalanan di mulai di Gua Hira

Perjalanan panjang dimulai di saat memutuskan untuk berdiam diri, menyepi, duduk, diam bertahanut. Kalimat nan sederhana, maka kuiringi perjalanan ini dalam untaian kidung alam, senandung angin, kicau burung, heningnya malam, dan hangatnya sinar matahari pagi. Yang menjadi sebuah “buku alam semesta”. Seumpama lagu tanpa syair. Hanya menjadi nada dan irama, sebelum menjadi kata dan kalimat. Saat masih berupa denting nada, saat masih berupa lambang, symbol. Saat belum dimaknai apapun. Saat masih menjadi buta huruf, menjadi ummi, dalam kegelapan, dan saat datangnya cahaya yang membuka kesadaran.

Untaian kisah ini tentunya tidak untuk mengajari seperti bait pembuka kataku, untaian ini terutama hanya untuk membaca apa yang ada dalam diri sendiri. Tulisan apapun setelah dibaca maka lupakan, setelah mampu merasakan lambang, atau rasa atau ruh dalam tulisan ini. Lupakan kata, lupakan kalimat, tetapi endapkan rasanya, dan lihatlah cahaya (ruh)nya, yang mungkin akan menerangi sisi-sisi gelap dalam diri. Bila ada kehendak tentunya. Tetapi tentu saja tulisan ini terutama ditujukan untuk mengajari diriku sendiri. Memaknai perjalanan sang sahabat dan mengambil hikmah bagiku sendiri. Dan hikmah ini akan menjadi kisah yang kuhantarkan. Apapun makna bagi yang membaca adalah keputusan dan keyakinan dalam diri sendiri tentunya. Silahkan memaknainya apa saja.

Perjalanan menemukan cahaya (Ruh) dari Mekah ke Gua Hira, perjalanan mendaki lagi sukar, berulang kali, intensif, naik dan turun. Naik ke Hira (HR) dan turun lagi ke Mekah (MKH). Sebuah perjalanan yang melambangkan perjalanan jiwa untuk menemukan cahaya Tuhan. Perjalanan mendaki, perjalanan yang harus menjadi Ummi, melepas kesadaran, menemukan potensi diri. Menerima rencana Tuhan bagi dirinya. Menerima perintah Tuhan. Menemukan Rab. Inilah perjalanan pertama dan utama yaitu menemui Rabul Alamin.

Sebuah proses mengenali kesadaran N (akhlaq yang disempurnakan), atau N yang diinginkan Rabul alamin, Potensi N (nafs). Menerima turunnya N (nun) penyempurna yaitu kalam ilahi. Proses iterative menemukan N ini secara sejarah dapat kita telusuri dari sejarah turunnya Al Quran (yang menerangkan berbagai jenis sifat nafs N), yaitu saat Rasulullah bertahanut dan menyepi, bertafakur dari Mekah ke Gua Hiro. Hal itu beliau lakukan berulang kali, dan seterusnya sampai turunnya Malaikat Jibril membawa Al Quran (NuR). 
Proses iterative dan berulang-ulang terus menerus.

MEKAH-HIRO-MEKAH-HIRO
         
 MK-HR-MK-HR
                  MKHR
                                     M=Kesadaran akal (Minda)
                                            K= tabir, layar, cover, screen, penutup, hijab
                                    H= Kesadaran ilahiah, kesadaran ruh, kesadaran akherat
                                    R= Ketetapan, urusan, takdir, ketentuan, program, hukum alam
                                   N= kesadaran budi/jiwa/hati, yaitu ego, rasa, kesadaran nafs
                                                                                                                                                                                                                                Maka proses iterative ini adalah untuk membuka penutup K agar cahaya yang dibawa RH itu diterima. Apakah cahaya yang dibawa RH?. Cahaya adalah NUR=NR. Cahaya yang dibawa akan membuka penutup (K). Sehingga nampaklah N, namun N bersama R, hanyalah nampak sebagai cahaya=NR=nur. Maka menerima N berarti haruslah menerima R=urusan dari H.

“Berarti proses membuka hijab K adalah proses menerima cahaya NR, penerimaan ini berupa penerimaan urusan Tuhan RH”.

Proses turunnya Al Quran (N) bagi setiap jiwa adalah proses membuka penutup (K=cover) jiwa. Sehingga cahaya=nur=NR mengisi kesadaran maka diri M akan selalu dalam proses menuju N.

Bagi setiap kesadaran diri (M) maka proses MK-HR adalah proses iterative inversion dengan referensi Model N. Model ini akan selalu di update dalam setiap proses, dan di proses iterative selanjutnya yang disempurnakan dengan model yang lebih baik. Lebih baik dan lebih baik lagi.

Maka tahapan dari tahap ke tahap yang lain adalah menyempurnakan atau meng-update sifat N (nafs), sehingga memperoleh sifat N yang terbaru bagi jiwa kita. Sifat N (nafs) disempurnakan dan selalu up to date. Kesadaran N terbaru inilah yang akan menjadi referensi pribadi sebagai acuan saat ini yang seharusnya meningkat dari dari hari sebelumnya atau bulan yang lalu  dan seterusnya.

MKHR yaitu membuka cover sehingga turunlah update terbaru dari N bagi diri pribadi sebagai referensi atau acuan Kesadaran minda M menuju kesadaran ilahiah H. 

Proses turunnya N bersama R yaitu dalam bentuk cahaya surga=NR yang turun ke bumi di bawa oleh para ruh=RH bagi setiap diri yang membuka kesadaran minda M. Bagi yang berfikir, bagi yang bertafakur, bagi yang menggunakan fikiran, bagi yang menggunakan akalnya, bagi yang menggunakan kesadaran Mnya.

Proses iterasi mengenali MNRH yaitu dilakukan dengan membuka cover diri (K) dalam proses MKHR dengan proses iterative inversion dengan referensi N yang selalu disempurnakan dalam setiap proses iterasi yang dilakukan.


Menyalakan api Tuhan (Ruhani).

Sebuah catatan penting dalam proses berdiam diri di HR, atau di Gua Hira. Kita harus membayangkan kondisi Gua Hira. Suatu posisi yang tertutup di belakang, kanan dan kiri, hanya bisa melihat ke depan dan atas serta bawah, posisi di atas bukit yaitu di dalam posisi kegelapan. Dan keadaan ini disimbolkan pula dengan kesadaran UMMI. Suatu keadaan yang diminta menggunakan kesadaran Minda atau akal. Lambang huruf hijaiyah Mim bila kita baca ada dua M yang mengapit I. Yaitu M I M.

Dualitas M inilah yang sering kita maksudkan dengan kesadaran akal dan hati. Kesadaran material (akal biologis) dan akal ruhani (bathin). Kesadaran M nyata dan kesadaran M gaib. Kesadaran M dalam diri dan M yang ada di alam semesta. Karena M ini juga berada dalam symbol huruf Hijaiyah Lam. Dalam symbol huruf Lam, di dalamnya ada symbol kesadaran M. Sehingga di dalam symbol ‘Alif Lam Lam Ha’. Meliputi dua kesadaran M. Meliputi dua Lam (alam), yaitu alam gaib dan alam dhahir. Alam Bathin, dan alam nyata.

UMMI
M=Kesadaran akal (Minda), disini mulai dipisahkan dengan
dualitas kesadaran akal biologis dan kesadaran akal ruhani.
U=Potensi
I=Ilmu (pantulan dari Alif).

Ummi secara lambang adalah berada pada posisi potensi U suatu keadaan seperti computer setelah reboot, kondisi siap pakai dan belum ada program yang aktif. Inilah posisi kesadaran akal biologis M dan masuk ke kesadaran akal ruhani M untuk memasuki alam informasi I. Potensi Kesadaran akal biologis material (akal biologis) dan akal ruhani. Posisi kesadaran M berada dalam potensi atau kesiapan menerima Informasi dalam kesadaran ruhani M.

Posisi Ummi, Kesadaran M inilah menerima cahaya kesadaran NR dari kesadaran ilahi H. Sebuah proses mengenali MNRHProses ummi adalah proses berada pada maqom atau keadaan minruhi atau MNRH, yang siap menjadi receiver atau receptor bagi RHMN. Inilah proses membalik kesadaran diri berpindah menjadi MNRH=minruhi menjadi RHMN, atau proses menerima cahaya RHMN.
                        Membalik kesadaran MNRH – RHMN

Proses memasuki alam Ruhani, proses mengenali Dzat yang Rahman dan Rahim (RHM N RHM). Proses menerima cahaya NR. Sebuah serah terima tugas Amanah (MNH) yang harus diterima.

Sebuah Amr (MR), ketentuan yang bisa diterima oleh Kesadaran M. Kalimat demi kalimat “memang biasa” dan teramat sangat biasa bagi semua orang yang telah memutuskan sebuah pilihan atas anggapan bahwa “kalimat ini hanya kalimat biasa” namun kalimat demi kalimat yang ditulis penuh perasaan tulus ikhlas kepada Tuhan Sang Pencipta alam penuh kesungguhan hati di hadapan Tuhan akan terasa “sangat luar biasa” bagi siapa saja yang mau dengan “tulus ikhlas” menempatkan Allah dalam poros fikiran (Kesadaran M) dan merelakan Allah yang memilihkan rasa (Kesadaran N), rasa “lai ilaha ilallah”.

Rasa ingat, rasa terhubung dan tersambung sehingga rasa itu akan saling terhubung dengan jiwa yang lain yang tengah mengingat Allah (Kesadaran RH) dan menuangkan rasa itu dalam kalimat disini. Seperti menyalakan api Tuhan, sebuah kesadaran RH, kesadaran ruhani, api Tuhan yang merupakan potensi kesadaran yang tersembunyi di dalam setiap dada manusia. Api ruhani. Kesadaran ruhani, potensi kesadaran RHN yang ada dalam dada kita.

Sangat sulit menjelaskan apa yang ingin saya kisahkan dengan kata ini karena kesadaran kolektif kita telah demikian carut marutnya, memaknai ini dan begitu banyak tabir tabu dan larangan untuk tidak boleh dilanggar, termasuk mempermudah dengan pola rumus matematika atau fisika ini, semua lambang ini hanya untuk mencoba menyederhanakan, apa yang ada di dalam dan apa yang ada di luar ini dengan simbol karena akan mudah sekali dikenali.

Allah berfirman meniupkan sesuatu yang dekat dariNya atau sesuatu yang berasal dariNya ke dalam diri kita yaitu min ruhi atau kita simbolkan dengan MNRH, inilah yang ada dalam diri kita, sedangkan yang ada dialam semesta adalah ruh=RH dan ada Rahiem=RHM sifat Allah serta yang ada adalah Rahman=RHMN.

RHMN bila dibalik menjadi MNRH, maka bila kita mampu membalik kesadaran MNRH kitapun mampu memiliki sifat kesadaran RHMN

Saat RHMN ini kitapun akan mampu merasa bersama dengan sifat RHMN dari alam semesta, kitapun mampu berada dalam kesadaran ruh alam RHM atau kitapun bisa berada di dimensi RH, sebuah dimensi ruhani atau alam ruh yang tidak kita kenal sebelumnya. Dimensi api Tuhan yang bisa sangat berbahaya karena kita akan mudah terbakar bila tidak berada dalam tabir (K) yang meliputinya.


Membara di api Tuhan

Nun, di atas sana di pucak sebuah bukit gersang. Dibukit batu berbatu, dalam kegelapan malam, diam sendiri dalam hening. Mencari sepercik api untuk memandang kejauhan, mengharap bintang turun menerangi. Atau rembulan bersinar membuka pandangan, namun kegelapan itu bukan apa yang Nampak di hadapannya, justru kegelapan itu ada dalam dirinya, kegelapan dalam hatinya. Kegelapan yang seolah mimpi, ketiadaan, ketidakmengertian, ketidaktahuan, ketidakperdulian, ketiadaan rasa, rasa emphaty, rasa belas kasih, rasa cinta, rasa keadilan, rasa menyayangi. Rasa tenang, rasa damai, rasa puas dalam hidup dan rasa tanya yang memenuhi seluruh rongga dada. Begitu penuh, sesak, penat, dalam tanya, ruang diam itu begitu sunyi, tapi fikiran itu sedemikian ramainya.

Rasa itu begitu sepi dan sendiri, sementara hasrat dan keinginan sedemikian ramainya dengan hawa yang demikian asingnya memenuhi dada. Ketika waktu tiada berarti, saat awal bertemu akhir. Ketika cahaya datang dan tidak tahu lagi yang mana kegelapan. Ketika kedamaian mengalir bersama kehidupan. Bersama datangnya ruh alam semesta. Dalam hening. Menerima rencana Tuhan yang akan ditugaskan. Bagi hambaNya yang telah suka rela, bersiap sedia. Melakukan sebuah rencana yang teramat khusus. Yang hanya diperuntukkan bagi diriNya. Sebuah janji setia. Sebuah jalinan yang khusus yang sangat pribadi. Sebuah jalan terbentang sebagaimana jalan yang telah terpilih. Dari para pendahulu.

“JALAN ORANG YANG TELAH DIKARUNIAI NIKMATNYA”.

Sebuah proses mengaktifkan dualitas Kesadaran M untuk menyempurnakan N, sehingga meniupkan api Tuhan RH. MNRH. Api Tuhan ini berguna saat kegelapan tiba. Tapi bila cahaya matahari RHMN tiba, maka ada atau tidaknya api tuhan dalam diri MNRH menjadi tidak perlu.

Maka api Tuhan MNRH berguna saat gelap tiba, saat tiada cahaya matahari RHMN, sehingga masih tetap mampu berjalan meskipun di kegelapan malam. Menunggu kembalinya cahaya matahari pagi RHMN. Saat itu semua jelas dan nyata, maka akan mudahlah mencari jalan, dan tetap berjalan di bawah cahaya matahari RHMN. Api Tuhan MNRH adalah percikan api matahari Tuhan RHMN. Keduanya adalah entitas yang sama, berasal dekat dari sisi Rabul alamin.


⏩ Bersambung ke 
Episode 12:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-12-langkah-sang-khalifah-syurga.html

No comments:

Post a Comment

SAMUDRA SIMBOL

SAMUDRA SIMBOL 3 - BAHASA CAHAYA ======================================================================== Pengantar: https://samudrasimb...