9. Legenda Sang Pendekar dari Langit
Rahasia ahli kitab yang mampu
memindahkah kursi Ratu Bilkis sebagaimana di kisahkan Al qur an
hingga kini masih merupakan misteri. Menimbulkan tanda tanya besar dan
spekulasi tersendiri bagi kalangan umat Islam.
Seperti apakah kemampuan manusia sebenarnya?.
Kecerdasan yang
bagaimanakah yang mampu melakukan semua itu. Betapa
hebat dan luar biasanya manusia itu. Manusia yang super sakti bahkan lebih
hebat dari jin. Seperti sebuah kisah legenda Sang Pendekar dari negeri di atas
awan. Legenda yang hanya menjadi dongeng sebelum tidur.
Namun bila kemajuan manusia dewasa ini yang menciptakan
pesawat terbang, televisi dan lainnya, kisah ini diberitakan ke ummat manusia
seribu tahun yang lalu. Maka kisah yang biasa kita lakukan inipun akan menjadi
legenda bagi mereka. Inilah manusia yang luar biasa, manusia cerdas. Betapa
sempurnanya diri manusia, jika boleh diperumpamakan maka manusia semisal dengan
‘Superman’, yaitu sesosok makhluk dari dimensi lain yang memiliki
kemampuan, kecerdasan, dan ketangguhan yang sangat luar biasa. Maka karena
kemampuannya tersebut kepemimpinan dunia diserahkan kepada sosok yang satu ini.
Sayang sekali banyak sekali manusia yang tidak sadar
atas kemampuannya ini.Mereka tidak terbiasa menggunakan potensi ‘jatidiri’ mereka
yang sejati.
Maka entitas yang sesungguhnya
merupakan ‘jatidiri’ manusia itu
sendiri menjadi tertutup, tersimpan di bagian terdalam manusia itu sendiri.
Dari sejarah peradaban manusia, kita mengenal para nabi,
para kaum cerdik pandai, kaum arif, para ilmuan, para pemimpin, dan orang-orang
besar di setiap jamannya. Mengapakah mereka dapat menajdi orang yang ‘luar biasa’ itu?.
Bagaimanakah mereka mengoptimalkan potensi yang ada pada
diri mereka?.
Jika konsep ‘jatidiri’
itu benar, tentunya semua manusia akan mampu menjadi seperti mereka. Bahwa jika
manusia mampu menemukan siapakah hakekat ‘jatidiri’ mereka, sudah
dapat dipastikan mereka akan memiliki kemampuan sebagaimana orang-orang besar.
Namun ternyata menemukan ‘jatidiri’
manusia tidaklah semudah membalik tangan.
Banyak manusia yang gagal menemukan ‘jatidiri’ mereka sendiri. Mereka gamang dengan diri mereka
sendiri. Mereka tidak yakin diri, bahwa sesungguhnya entitas manusia itu
sesungguhnya adalah semisal ‘Superman’,
sosok entitas yang dimensi lain yang sangat luar biasa sekali. Semua manusia
dalam anggapan mereka masing-amsing atas siapakah hakekat diri mereka
masing-masing, semua manusia tidak sama dalam memaknai siapa dirinya. Begitulah
keadaannya.
Para kaum spiritualis,
filosofis, dan kaum agamawan, mereka meyakini bahwa dalam diri manusia
ditiupkan RUH . Sebagian
kaum lainnya memaknainya sebagai ‘Spirit’.
Apapun penamaan tersebut tidaklah menjadi soal, yang
penting semua manusia meyakini ada entitas lain dalam tubuh manusia yang
memiliki kemampuan luar biasa. Kita sepakat bahwa entitas tersebut memberikan
kontribusi lebih kepada kehidupan mereka.Inilah esensi yang ingin disampaikan
disini.
Manusia melupakan pencarian hakekat ‘jatidiri’ mereka. Maka semakin lama manusia semakin melupakan
siapakah sejatinya hakekat diri mereka sendiri. Meskipun kitab suci,
menyebutkannya, meskipun para nabi , para pemimpin dunia sudah membuktikannya.
Sayang sekali banyak dari kita yang tidak yakin atas kebenaran berita tersebut.
Khabar bahwa sesungguh manusia itu adalah sosok entitas yang ‘luar biasa’ seakan hanya sebuah isapan
jempol belaka.
Kita sering merasa tidak pantas sebagai manusia yang
berhak mendapatkan kesuksesan itu. Kita sudah meremehkan diri kita sendiri. Sesungguhnya
inilah masalah terbesar umat manusia. Mereka memandang rendah diri mereka
sendiri.
Masalah terbesar manusia adalah diri mereka sendiri.
Kesalahan manusia adalah tidak pernah memperhatikan
potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Mereka sibuk melihat potensi orang
diluar sana dan melupakan bahwasanya semua manusia memiliki potensi yang sama. Bahan dasar
manusia adalah sama. Hanya kita sendirilah yang membuatnya berbeda. Bagaimana
mereka dalam mengelola potensi-potensi yang mereka miliki, itulah yang
membedakan satu dan lainnya.
Kalau boleh dengan bahasa yang lebih ekstrem,
sesungguhnya manusia itu makhluk cerdas dari dimensi lain yang diutus untuk
memimpin bumi ini, karenanya hakekatnya semua manusia adalah pemimpin. Hanya
yang membedakan adalah mau atau tidak menggunakan potensi tersebut. Kenalilah
diri kita sendiri, maka kita akan tahu bahwa sesungguhnya kita layak memimpin
dunia. Dalam diri kita ada potensi untuk itu, potensi yang ditiupkan oleh sang
Pencipta agar bersama entitas itu kita menjadi pemimpin dunia.
Pemimpin untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan,
kelompok, bangsa, Negara, bahkan alam semesta itu sendiri.Potensi tersebut ada
pada diri setiap manusia. Entitas tersebut mampu menghantarkan manusia untuk
menembus dimensi-dimensi dan juga ilmu pengetahuan. Pemahaman ini
akan menghantarkan kepada kita, bagaimanakah cara mengenali entitas tersebut.
Kita akan mampu menemukan ‘entitas’
tersebut yang letaknya memang sangat tersebunyi di dalam hati
manusia. Dialah entitas yang selama ini sering kita abaikan.
Orang sering menyepelekannya, orang sering
menafikkannya, menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pernah ada. Entitas
inilah yang dewasa ini telah terlupakan oleh manusia.Manusia telah melupakan
siapakah hakekat ‘jatidiri’nya. Maka
kita bisa melihat bagaimana peradaban manusia dibangun tanpa melibatkan entitas
ini. Banyak sekali yang tidak percaya bahwa sesungguhnya entitas ini memiliki
kekuatan yang luar biasa, memiliki kecerdasan yang menakjubkan. Mereka keliru,
para pemimpin dunia sudah memberikan contoh atas hal ini.
Kesuksesan mereka menjadi pemimpin dunia karena didukung oleh kekuatan
ini.
Entitas
yang luar biasa
Untuk memahami istilah dasar
yang sangat umum yaitu yaitu aku, diri, istilah atau konsep tentang ini sering semakin membingungkan.
Maka akan dicoba memulai dari istilah yang baru, konsep awal denngan
menggunakan lambang. Konsep lambang untuk memudahkan.
Lambang bukanlah memastikan, bukan pula menterjemahkan. Lambang
hanyalah sebuah cara yang ditujukan mengulangi dari dasar berdasarkan batasan
yang ingin disampaiakn. Jadi siapapun boleh mengganti lambang dan boleh
mengubahnya. Lambang hanyalah huruf yang perlu digabungkan dan bisa difahami
bagi yang menggunakan lambang tersebut. Seperti lambang F=ma, atau lambang H2O
atau lambang DNA, atau lambang BANDARA atau apapun lambang itu, bisa difahami
bila kita mau mencoba mengerti.
Bila ada yang tertarik dengan lambang, karena lambang bisa lebih
memudahkan bagi yang berfikir dan mungkin bisa bermain-main mencari hubungan
dan mendapatkan pemahaman yang lebih. Seumpama manusia ada raga, jiwa, ruh, akal, hati dan masih banyak
istilah lainnya yang satu dan lainnya bisa saja membingungkan karena berbeda.
Disini akan coba dipisahkan dengan lambang yang lebih mendasar lagi,
semisal JIWA adalah J W, Ruh adalah RH dan
hati adalah HT, semisal itu, agar kita terbesar dari pemikiran yang
sudah ada sebelumnya.
Kita mulai dengan perumpamaan,
misalnya ada sebuah campuran minuman yang bernama susu telur madu jahe
dan ditambahkan dengan air dan gula. Kita buat lambang:
Susu=S Telor=T Madu=M Jahe=J dan Gula dilambangkan G dan airnya dengan lambang A. Minuman ini kita sebutSTMJ. Kita
tidak pernah tahu masing-masing bahannya, dan hanya pernah meminum STMJ. Bisakah kita membayangkan rasa
masing-masing entitas bahannya. Dari
lambang itu kita bisa buat kombinasi. AG yaitu air Gula. Lalu AGJ= Air Gula Jahe atau AGSJ= Air Gula Susu Jahe dan kombinasi
dan kombinasi lainnya. Demikian pula kita bisa menambahkan kopi atau the dalam
campuran itu. Tentu saja penambahan setiap bahan baru bisa merubah rasa
termasuk jumlahnya juga, semakin banyak yang ditambahkan bisa mengurangi rasa
yang lain. Misalnya Gula yang sangat banyak akan menghilangkan rasa yang lain.
Atau air yang banyak. Permisalan
ini akan digunakan untuk entitas yang ada dalam raga, bila raga kita umpamakan
gelas dan jiwa kita umpamakan minuman STMJ dan
juga bisa ditambah dengan K (kopi).
Perumpamaan lambang ini bisa kita urut dari Nabi Adam. Kita sebagai
Bani Adam. Secara lambang kita tuliskan sebagai BN ADM, dan setiap Bani
ADAM ditiupkan MinRuhi atau MNRH. Maka entitas dasar yang ada dalam tubuh
ini adalah BN ADM MNRH. Bila
kita mampu mengenali setiap entitas dasar ini secara individu maka akan
memudahkan mengenali kombinasi. Seperti STMJ mampu mengenali apa itu S lalu T M
dan J juga mengenali A. Pengenalan setiap entitas ini akan sangat memudahkan
memahami setiap entitas yang ada dalam tubuh kita.
Atau
kita secara lambang:
Bani
Adam = BN ADM
Min Ruhi
= MNRH
Kita
mengenal entitas pendamping yang disebut QoRiN (QRN) juga kita mengenali
entitas BaSiRoH
(BSRH), juga QolBu (QLB) dan juga Akal (AQL), lalu ada JiN (JN) dan
banyak lagi istilah entitas yang mempengaruhi raga kita.
Basiroh = BSRH
Qolbu = QLB
Akal (aql) = QL
Jadi dalam tubuh
bisa kita kita dapatkan entitas dasar B, N, A, D, M (bani adam) lalu M, N, R, H (min ruhi) Q, L (aql),
lalu Q,
L, B (Qolbu), B, S R, H (basiroh), lalu N, A, F, S (nafs)
dan seterusnya, maka bisa kita urtutkan menjadi lambang dari A sampai ke Z,
yaitu misalnya A, B, D, M, N dll.
Jadi secara lambang kita bisa melacak dari yang paling basic dan meningkat
ke lambang yang lainnya, maka kita bisa mengenali entitas gabungannya. Walaupun
kadang entitas gabungan itu bisa saja berubah total dengan efek lain yang
mempengaruhi. Misalnya Air dan telor pada temperature panas bukannya menjadi
minuman telor justru akan memadatkan telur menjadi telur rebus.
Bahasa lambang ini seperti mempelajari bahasa sandi, sangat menarik
dan bisa mengira-ira. Sayangnya kita tidak tahu makna setiap lambang ini
sehingga sangat sulit mengerti yang sebenarnya. Makna setiap lambang ini bisa
diperbaiki dan disempurnakan setiap saat.
Kita bisa melakukan pendekatan dari makna yang
kita tidak tahu dari makna yang telah kita tahu. Misalnya akal kita tuliskan dengan lambang QL sedangkan
Qolbu kita tuliskan sebagai QLB. Maka secara lambang kita bisa melihat
bahwa QL ada
di dalam QLB
atau (QL)B atau QL itu di dalam B. Kita tahu bahwa QL
adalah akal, lalu B itu apa?.
Bisa kita sederhanakan B=koordinat ruang-waktu di alam semesta.
Atau seperti huruf Ba dalam Bismillah. Bisa dikatakan Al Fatehah
bisa diringkas ke Bismillah. Dan Bismillah diringkas menjadi B.
Maka B adalah kerangka atau koordinat ruang waktu di alam semesta ini. Bisa di
luar dan ada di dalam raga kita. Macrokosmos dan microkosmos.
QLB = QL (B)
QL
(akal), yang berarti QL dalam QLB atau akal ada dalam Qolbu. Inilah mata hati
yang disebut akal. Mata hati atau mata qolbu adalah akal. Mata dari B.
Kita sudah pula mengenali R sebelum
ini sebagai grand desain rencana terbentuknya alam semesta, formula, rumus,
Hukum alam dll.
Maka kita bisa membayangkan gabungan R dan B adalah seluruh kekuatan hukum,
program, rencana, desain di ruang-waktu alam semesta ini. Maka inilah RaB.
Sehingga ada di macrocosmos dan microcosmos. Maka kitapun bisa lebih
mengetahui makna Rab secara lebih detail dan bisa jadi lebih detail lagi bila
kita mampu mengenali entitas R dan B secara lebih baik lagi.
Bagaimana kita bisa mengenali entitas RB yang ada di dalam raga kita.
Yaitu bila kita menguraikan entitas dasar yaitu NB ADM (diambil
entitas B) dan MNRH (diambil entitas R) dan menggabungkan RB,
maka kita akan mengenali entitas RB yang ada dalam diri kita. Sehingga
kita mampu berkata siapa yang mengenali entitas BN ADM
dan MNRH maka
bisa menyaring dari entitas tersebut dan mengambil entitas RAB.
Dengan lambang secara mudah kita bisa
menyimpulkan
bahwa siapa saja yang mampu mengenali BN ADM dan MNRH akan
mudah mengenali RAB.
Yang disebut diri adalah Bani Adam (BN ADM) yang diliputi minruhi (MNRH). Maka siapa yang mengenali
dirinya akan mengenali Rab (Tuhan) nya.
“Kita bisa mengatakan Akal (AQL)
berada di dalam hati (Qolbu) atau QL berada di QLB”
Tentu saja lambang ini terutama
ditujukan untuk memudahkan mengingat makna yang ingin disampaikan. Misalnya QL dan QLB yang beda adalah
B. Semacam bahan Q dan L dicampur dengan B.
Keuntungannya bila kita tidak tahu rasa suatu campuran namun kita bisa jadi bisa
membayangkan. Misalnya QLB
ditambah dengan N, menjadi QLBN yaitu Qolbun, bila kita tahu setiap
entitasnya maka kita bisa memperkirakan apa jadinya yang dimaksudkan.
Mengapa lambang ini disajikan?.
Karena untuk menjelaskan sesuatu yang
belum ada referensinya.
Misalnya kita mengerti symbol Huda
yaitu HD, bila kita balik menjadi DH maka kita bisa membayangkan pula, yaitu semisal Cahaya yaitu
Duha. Kitapun bisa mencampur dengan HD dan N menjadi HDN (hudan) dan bisa membayangkan maknanya.
MNRH - Para
penjelajah cahaya
pemberi kabar nikmat Tuhan, secara lambang bisa kita
tuliskan
Para penjelajah cahaya=MNRH
Nikmat=an am=NM
Tuhan=Rab=RB
MN yang
bisa kita amati adalah rasa Iman
Dan rasa iman yang dirasakan RH (ruh)
adalah nikmat (atau NM)
Secara lambang ketika ber Iman maka
kita mengenali lambang MN
Yang dirasakan ruh adalah pembalikan dari MN menjadi NM (anam)
Secara lambang kita
tuliskan MNRH memberi kabar tentang NM yang berarti Para penjelajah cahaya pemberi kabar nikmat.
Beri kabarlah Nikmat Tuhan yang kita rasakan
demikianlah tugas dan kewajiban kita, agar semakin dilipatkan nikmat kita. Agar
semakin disempurnakan nikmat itu. Sehingga kita menjadi puas (ridho).
Maka
siapapun yang menerima HD dan dekat dengan Rab (RB) akan ridho (RD) karena akan nikmat (NM) dan bertambah
nikmat.
MinRuhi MNRH -
INILAH ENTITAS LUAR BIASA DARI MANUSIA.
Konvensi Simbol (Lambang)
Membaca lambang seolah kita memeras fikiran untuk
memahaminya, namun sebetulnya juga sangat sederhana, mudah dan simple semudah anak
kecil berfikir cahaya. Seberapapun yang difahami ya sudah cukup. Dan bisa
memahami lebih lanjut dan lebih lanjut lagi. Membaca lambang ini seolah kita
menyingkap sebuah buku dan di dalam tulisan ini berisi bab, di dalam bab ini
ada alinea, di dalam alinea ada kalimat dan di dalam kalimat ada kata dan di
dalam kata ada huruf. Ternyata jumlah semua huruf dalam buku itu ada 24 buah.
Seluruh isi buku yag tebal itu hanyalah kumpulan kombinasi 24 buah huruf saja. Atau seperti
bahasa biner yang terdiri dari berjuta kemungkinan hanya berasal dari dua buah
lambang yaitu 0 dan 1.
Dalam
pemahaman sains, bahwa alam semesta yang membentuk materi dari mulai gunung,
batu bahkan makhluk hidup merupakan kombinasi dari zat lalu terdiri dari
molekul dan terdiri dari atom dan atom ini terdiri dari inti atom, proton,
electron, dan di dalamnya lagi kita bisa temukan lagi bagian yang lebih
kecil lepton, quark dan boson, dan di dalamnya lagi ada 17 entitas yang
membentuk semua kemungkinan. Dari ke 17 bagian inilah yang membentuk “buku”
alam semesta. Bila kita memahami hukum dan lambang ke 17 entitas ini maka kita
bisa mempelajari puzzle yang membentuk seluruh alam semesta ini. Seperti kita
mengenal ke 24 huruf abjad yang bisa membentuk satu buah buku.
Demikianlah lambang yang disajikan disini, mencoba
meniru dengan mengerti makna setiap lambang yang dilambangkan, dengan mengerti
17 lambang yang merupakan “potensi” membentuk konsep agama
universal, maka kitapun akan dibawa dengan sangat sederhana untuk memahami
konsep dasar dari agama yang universal. Tentu saja pemaknaan lambang ini bisa
dikoreksi, diperbaiki, diperbaharui, disempurnakan. Maka pemaknaan lambang ini
bukanlah untuk menyajikan sebuah “kebenaran”, tetapi justru untuk
dipersalahkan, untuk dinyatakan ketidakbenaran bagi siapapun yang mau berfikir.
Janganlah dipercayai apa yang disampaikan ini, tetapi jangan pula
tidak dipercaya. Fikirkan dengan akal, uji dengan fikiran. Mungkin saja ada
sedikit yang bisa difahami sehingga bisa diperbaiki dan disempurnakan.
Lambang entitas yang luarbiasa dari manusia (BNADM) adalah MNRH. Entitas Sang
Pendekar yang sangat cerdas, inilah entias Sang Pengelana Cahaya, Inilah sang
Penjelajah Cahaya, Inilah entitas yang sangat cerdas yang berasal dekat dari
Tuhan yang berasal dari sifat Tuhan RHMN. Seperti setetes air yang berasal dari
samudra. Atau seperti api baterei yang berasal dari solar cell yang berasal
dari matahari.
Secara teramat sederhana atau penyederhanaan sekali kita
bisa memahami bahwa MNRH, Ini seperti STMJ yang merupakan minuman Susu Telur Madu Jahe
(STMJ). Bagi yang tahu rasanya dan tahu bahan dasarnya tentu sangat memahami
keseluruhannya. Konsep sederhana bisa kita dekati dengan pemahanan penyederhanaan
bahan dasar dari MNRH. Yang tentu saja harus diperbaiki dan disempurnakan.
MNRH
M= Entitas yang berfikir (minda),
yang biasa juga disebut akal, entitas yang sadar, entitas yang biasa menyebut
dirinya sebagai aku, bisa dianggap sebagai aku sejati, entitas yang tahu, dan
berasal dekat dari Tuhan
N= Entitas jiwa (dari Nafs), yang
biasa disebut ego, perasaan, emosi atau jiwa, entitas yang hidup, entitas yang
merasakan, entitas yang diturunkan untuk disempurnakan, disucikan, entitas
syurga (adN), entitas langit yang turun ke bumi.
R= Entitas langit
yang berasal dari ARSY (dalam mitology entitasRa), yang
merupakan kumpulan rencana Tuhan, Grand desains, kumpulan ketetapan yang
mengikat, kumpulan ketentuan dan hukum alam, atau secara singkat adalah segala
sesuatu tentang URUSAN dari Tuhan
H= adalah entitas yang dekat dari Allah (biasa
disebut Hu), yang merupakan kesadaran hakiki, kesadaran murni,
kesadaran universal, kesadaran yang meliputi tingkat demi tingkat kesadaran di
alam semesta ini
MNRH (minruhi) ini
berasal dari RHMN (Rahman) sifat dari entitas Dzat Alllah,
atau sedikit Dzat Allah. Inilah entitas langit/akherat/dimensi yang lebih
tinggi yang turun ke bumi, Entitas Dzat Yang Rahman, Yang penuh kasih.
MNRH adalah setetes air dari samudra RHMN
MNRH adalah sebutir
pasir dari padang pasir RHMN
MNRH adalah setitik api dari
matahari RHMN
MNRH adalah sebutir debu di semesta alam seluruhnya RHMN
Maka dengan lambang MNRH dan RHMN kita dengan mudah mengingat
yang dimaksudkan sebagai “sedikit dari DzatNya”.
MNRH inilah sedikit entitas
cerdas dari Sang Maha Cerdas.
Inilah entitas hidup dari Dzat yang
Maha Hidup.
Inilah entitas gaib dari Dzat yang
Maha Gaib.
Inilah entitas yang penuh kasih saying dari
Dzat yang Maha Kasih sayang.
Inilah entitas cahaya dari Dzat
Yang menguasai segala cahaya.
Inilah entitas yang sangat dekat dengan Tuhan.
Entitas yang luar biasa. Entitas
super dalam diri setiap anak adam (Bani Adam).
MNRH sedikit dzat dari Maha Dzat RHMN.
Dalam Rahman entitas penghubungnya RHMN adalah A yangbisa dilambangkan sebagai energy,
informasi atau cahaya awal, sedangkan dalam Minruhi, entitas yang
menghubungkan dalam MNRH adalah I dan U. I adalah Ilmu atau informasi tapi tak memiliki energy atau panas,
atau api, sedangkan U adalah potensi, seumpama minyak yang berpotensi
menjadi api. Atau U adalah potensi untuk menjadi A.
sedangkan I adalah pantulan dari A.
Seumpama A adalah lilin, maka I
adalah bayangan lilin di dalam cermin.
Semoga Penamaan dengan lambang ini
bisa membuka sedikit wawasan bagi siapapun yang mau berfikir. Membuka akal
dengan terbuka. Seperti membuka gelas fikiran dan mau memikirkan dengan
sederhana. Mungkin saja lambang ini bisa memulai pemahaman secara lebih mudah.
Karena lambang atau istilah yang sudah ada sebelumnya sudah semakin
membingungkan.
Sekali lagi konsep inipun bila dianggap
berguna adalah dalam tujuan untuk disempurnakan dan diperbaiki bukan sebuah
konsep baku, tetapi konsep untuk memudahkan pemahaman dari pemahaman yang sudah
ada. Tetapi mungkin saja justru semakin menambah bingung, semakin
membingungkan. Maka bila itu terjadi mohon dilupakan saja. Semoga dengan lambang ini bisa memudahkan,
tetapi bila tidak ada gunanya, mungkin hanya sebagai bahan pembanding saja,
sekedar sebagai hiburan atau penambah pemikiran waktu senggang.
Dengan permohonan maaf yang dalam
bila justru semakin rancu dan membingungkan. Membaca lambang ini seperti
membaca kisah negeri di awan. Membaca legenda Kisah Sang Pendekar atas awan.
Seperti di awang-awang. Menjadi nyata bagi yang memaknainya, tetapi menjadi
dongengan bagi yang membacanya.
⏩ Bersambung ke Episode 10:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-10-melacak-jejak-kesadaran.html
No comments:
Post a Comment