12.
Langkah Sang Khalifah Syurga
Akhirnya sampailah di bagian yang utama yang
tadinya menekan jiwa terasa bagai sebuah beban yang menghimpit, terasa sudah
mulai dilepaskan satu demi satu. Semakin terasa ringan dan lega, ketika telah
mampu dilepaskan. Proses penulisan ini juga terasa sangat luar biasa bagiku.
Allah Tuhanku telah memaksaku dan memojokkan ke satu sudut yang tak mampu ku
tolak. Memaksaku tinggal di dalam rumah yang bisa dilakukan hanyalah menuliskan
ini saja. Memikirkan dan menuangkannya ke dalam tulisan. Semua jalan keluar buntu
dan tak bisa dilakukan. Hanya memikirkan ini dan menuliskannya.
Dengan sepenuh permohonan maaf yang dalam bila rangkaian kajian ini
menjadi sedemikian panjang dan seolah begitu rumit dan berbelit-belit. Padahal
telah diusahakan sepenuh daya upaya sesingkat mungkin dan sejelas mungkin
bahkan dengan menggunakan kajian lambang untuk menyampaikan maksud lebih cepat.
Dan tentunya baginya yang serius membaca pesan lambang akan mengerti lebih
banyak dari apa yang tertulis, karena dalam lambang tersebut berisi berjuta
kemungkinan informasi saat bersambung dengan lambang yang lain.
Seperti rangkaian unsur yang bisa bergabung menjadi rangkaian molekul
baru. Dengan mengerti 2 unsur kita bisa mengerti 4 kemungkinan molekul, dan
dengan 3 bisa mendapatkan 9 kemungkinan, dan dengan 4 kita bisa mendapatkan 16
kemungkinan, dan selanjutnya.
Rangkaian kajian lambang hanya diperuntukkan
kepada yang tertarik dan berminat mempelajari lebih jauh apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Bagi
yang bersungguh-sungguh ingin mengerti apa yang dimaksudkan disini. Kajian
lambang ini tidak untuk umum. Karena kemungkinan sulit dimengerti. Disampaikan
ke umum karena memang tidak tahu siapakah yang berminat. Mungkin ada satu atau
dua orang diantara yang membaca tertarik dan serius mencoba mengerti apa yang
dimaksudkan.
Rangkain kajian lambang bukan menyatakan sebuah kebenaran, bukan
pula menyampaikan pemahaman. Kontek penyampaiannya justru untuk dibuktikan
kesalahannya. Untuk dibuktikan kalau tidak berguna. Dibuktikan bahwa lambang
ini tidak bermanfaat. Maka rangkaian kajian disini hanya untuk menarik minat
salah satu atau beberapa orang untuk menguji. Menggunakan akal fikirannya.
Merenung, menganalisa, menggunakan daya kemampuan dan intuisinya. Sehingga
memutuskan bagi dirinya. Apakah ini bermanfaat atau tidak.
Rangkaian kajian lambang hanyalah sebuah “alat bantu” untuk merangkai
puzzle dalam memahami suatu kata, seumpama mengenali setiap unsur yang membuat
segelas minuman Susu Telur Madu Jahe (STMJ)
Intuisi itu datang kepada orang yang merenungkan secara terus
menerus
akan sebuah hakekat dari realitas,
dalam sebuah penyerahan diri kepadaNya secara ikhlas.
Kemudian atas kehendakNya, dalam
kesadaran dirinya, hal-hal yang bersifat subyektif hilang, lalu masuk ke
kesadaran yang lebih tinggi, baqa dalam Allah.
Ketika dia telah kembali ke posisi
kesadaran semula, hal-hal tersebut seolah hilang kembali, tetapi pemahaman atau ilmu yang
telah didapatnya akan menetap dan tidak hilang.
Intuisi ini datang kepada seseorang kalau ia telah siap untuk itu,
ketika nalar dan pengalamannya telah terlatih untuk menerima dan
menafsirkannya.
Makna atau hakekat dibalik suatu peristiwa umumnya didapatkan melalui intuisi ini. Makna sesuatu ini
adalah mengandung arti makna yang tepat;
yaitu makna yang ditentukan dalam pandangan Islam tentang realitas dan
kebenaran sebagaimana yang ditentukan dalam sistem konsep qurani.
Sang Abdi dan Rabbnya
Mari hadapi dan pandang dunia dengan syukur
dengan mata bersinar, menyambut pagi hari
menyambut derita, menyambut kesakitan
menyambut kesulitan
kesedihan, nestapa, kesusahan atau apa saja
sebagai suatu kewajaran yang datang dari Allah
agar kita belajar "arti kehidupan" ini
pengulangan pelajaran, diulang-dan diulang
sebagai ujian bagi keyakinan kita
sebagai tes keimanan kita
sebagai bukti keimanan dan takwa kita
sebagai suatu kewajaran seorang hamba yang mengikuti tuannya
(Rabnya)
Maka ijinkanlah kuulurkan tangan sekali lagi mengajak memandang
kehidupan kita , ke
depan dengan menggunakan kaca mata,
"apa yang Allah maui atau apa yang
Allah kehendaki",
bukan
hanya sekedar dari buku-buku agama, bukan pula hanya dari ceramah-ceramah
ustad, atau guru agama semata tapi
dari buku harian kita, dari kehidupan kita, lalu kita ambil hikmahnya dan temukan
maknanya melalui
kata-kata (firman) Allah di
Al Quran yang merupakan petunjuk kehidupan kita yang mengerti benar
kita ini, lalu
kita cari di Hadist dan memaknai setiap kejadian yang kita alami
dari sana.
Menemukan “tugas dan
kewajiban” sebagai Abdi yang khusus melakukan perintah dari majikan. Secara sukarela menjadi orang yang tidak bebas,
secara suka rela melepaskan kebebasan dirinya. Kebebasan dalam dunia
menuju kehendak Majikan. Kebebasan sang Majikan. Kebebasan Rabb memerintahkan apa saja bagi dirinya. Penerimaan
secara sukarela dalam diri yang membebaskan Rab berkuasa sepenuhnya atas
dirinya, memerintahkan apa saja. Sebuah hal yang seolah mudah tapi sangat sulit
karena merupakan perjalanan panjang seluruh hidupnya. Jalan panjang seluruh
hidupnya.
Titik
koordinat awalnya adalah:
·
Penerimaan
Allah sebagai Rabb dan diri (aku) sebagai abdi (pelayan,
budak, hamba)
· Menerima
petunjuk (HD) dari
Rabb dan melakukan dengan suka rela, sebagai jalan untuk menemui Sang Rab
Demikian
koordinat awal dalam Al Fatehah, sangat sederhana tetapi semakin difikirkan
justru semakin berbelit rumit dan luar biasa.
Mungkin dengan perumpamaan akan lebih mudah difahami. Ketika
kita bicara tentang kursi atau hakekat kursi. Ada yang bertanya apa itu kursi
dan apa tujuan menciptakan kursi atau apa gunanya. Dengan sangat mudah dan
sederhana kita akan menjawab tentang kursi ini. Kursi adalah tempat duduk. Yang
dibuat untuk kita duduk, jadi gunanya adalah untuk duduk. Sedemikian
sederhananya jawaban ini. Mungkin banyak orang akan puas dengan jawaban seperti
ini. Tetapi tidak bagi orang yang memikirkan dengan serius kursi ini. Dia akan
mencoba mencari tahu definisi kursi itu, apa bahan pembuatnya, lalu bagaimana
bentuknya, lalu apa warnanya, lalu apa prosesnya. Dan semakin banyak yang dia
pelajari maka akan meliputi banyak sekali ilmu ada ilmu Fisika, ilmu Kimia,
ilmu Biologi, Ekosystem, ada Desain, dekorasi dan masih banyak lagi. Begitu
luar biasanya kita menjelaskan segala hal tentang kursi ini.
Ketika seorang yang berakal ini telah mempelajari tentang
hakekat kursi ini maka harus mampu menyederhanakan kembali ke inti hakekat
awal, yaitu apapun bentuknya kursi, apapun bahannya, apapun prosesnya, sebuah
kursi dinamakan kursi bila diperuntukkan untuk tempat duduk. Dan dia mampu
menjelaskan “keilmuannya” berdasarkan
pengetahuan si penanya. Bila yang bertanya akhli Fisika dia menjelaskan manfaat
kursi itu ditambah dengan sifat-sifat Fisika kursi itu dari segi kekuatannya,
dari bahannya dan lain sebagainya. Tidak perlu menjawab dari segi biologi atau
kimianya, karena sang penanya tidak memiliki background. Dan tentu saja akan
sangat membingungkan.
Sebuah undangan untuk kembali kepada Rabb
Suatu saat kita memiliki makanan yang sangat lezat, dan
kita ingin teman, sahabat atau saudara kita ikut merasakan betapa nikmatnya
makanan yang kita makan. Dan kita ingin mengundang makan malam bersama.
Kita menyajikan makan yang terbaik yang kita yakini kelezatan makanan itu.
Demikianlah undangan kita dalam beragama untuk kembali kepada Rabul alamin.
Yaitu undangan ke jalan yang penuh nikmat. Bisakah kita mengundang mereka
dengan cara mencela makanan mereka, baju mereka atau dengan cara menghakimi,
menyalahkan dan menghujat kesalahan mereka?. Rasanya sebelum mereka sempat
mencicipi makanan yang lezat yang akan kita sajikan mereka sudah akan lari
menjauh.
Kita sering melihat orang “beragama” justru arogan, kasar, pemarah, dan tidak ada toleransi.
Begitu mudahnya menyalahkan golongan ini itu, menghakimi dan merasa bahwa
dirinya atau golongannya yang paling benar, dan merasa dirinyalah yang paling
baik. Dan ingin menyampaikan undangannya agar orang lain mengikuti jalannya.
Yang lebih sering mereka hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya yang benar
dengan mencari kesalahan orang lain. Seharusnyalah kita berkasih sayang.
Melakukan undangan dengan Rahmah (penuh kasih sayang). Agar orang lain tertarik
dan suka rela mencicipi makanan yang akan kita sajikan. Kesedihan dan
kekhawatiran bila ada saudara atau rekan mengalami kesulitan, penderitaan dan
kesakitan, apalagi bila nanti di hari akhir derita sepanjang masa, derita yang
kekal selamanya.
Kita sebagai umat Islam adalah suatu kaum yang memiliki “SPIRITUAL
INTELEGENSIA” yang tinggi, sangat mumpuni. Sebagaimana
dicontohkan dari kaum terdahulu.
Mereka begitu ‘arif, sopan
santun, begitu lemah lembut, tindakannya tegas, tidak pernah
ragu-ragu, mereka hanya berserah kepada Allah, mengikuti kehendak Allah’,
sebagaimana bumi yang berputar mengelilingi matahari.
Mereka tidak ‘galau’
dengan adanya golongan-golongan yang memperebutkan kebenaran, karena mereka
telah bulat keyakinannya.
Sebagai perumpamaan,
seseorang yang telah menyadari betapa pentingnya kebersihan gigi, tentu akan
senantiasa membersihkan gigi mereka secara teratur dan kontinyu. Dengan sangat
hati-hati mereka perlakukan gigi mereka, menghindari makanan-makanan yang akan
merusak gigi mereka. Mereka semua telah tahu bagaimana akibatnya jika mereka
tidak merawat gigi mereka. Bagaimana jika kemudian mendapati keluarga mereka
tidak merawat gigi mereka. Tentunya, kepedulian itu akan mendorong untuk
mengingatkan, karena sayangnya kepada mereka, dengan pelbagai macam cara,
betapa pentingnya kebersihan gigi.
Banyak sekali orang yang tidak mengerti, tidak mengetahui, tidak
paham, apakah akibatnya nanti, jika tidak merawat gigi. Maka orang-orang yang
tidak tahu, tidak mengerti pentingnya ini, harus senantiasa diajarkan, melalui,
kata, dan perbuatan kita. Inilah perumpamaannya dalam pembersihan
jiwa. Bagi orang yang mengerti bagaimana dunia akherat di berlakukan tentunya
dia akan benar-benar menjaga dirinya sendiri dan juga keluarganya, berikutnya
juga masyarakatnya. Begitulah perumpamaannya.
Begitulah perumpamaan dalam akidah, dalam beragama. Seharusnya
dengan kasih sayang, dengan permakluman, dengan senantiasa
kita berikan teladan nyata, kita berkata kepada setiap golongan.
Semua adalah hamba-hamba Allah. Hanya perbedaannya, mereka terlahir dalam
kesadaran kolektif yang berbeda dari kita. Karenanya umat Islam, mestinya
memahami posisi ini, memahami bahwa ‘umat
Islam adalah umat yang di pilih, dan berdiri sebagai saksi setiap golongan’.
Umat Islam adalah
orang-orang yang memiliki kematangan spiritual,
yaitu orang-orang yang mengerti dan memahami tauhid dan kebersihan jiwa mereka.
Sekaligus bagaimana implementasinya dalam kancah peradaban. Bagaimana mereka
ber-muamalah dengan manusia yang lainnya.
Sehingga ketika berhadapan dengan orang-orang yang tidak mau
membersihkan jiwa mereka sendiri, mereka dapat bersikap bijaksana.
Mengingatkan, mengajari, memberikan contoh tentang bagaimana kelembutan hati
yang sesungguhnya, dan akhlak-akhlak yang baik lainnya, dan lain sebagainya.
Sikap ini telah diajarkan, telah diikrarkan oleh orang-orang terdahulu dan
diabadikan dalam surah Al baqoroh, yaitu ayat yang senantiasa kita baca dalam
doa.
Semua usaha dalam jalan (jalan yang
diberi nikmatNya) ini
sebaiknya dibataskan kepada
kegunaan,
disesuaikan dengan sifat dan tabiat
pribadinya.
Insyaf dan sadar akan kemampuan
serta kadar atau batas-batas kemampuannya.
Kemudian meletakkan pada tempatnya
yang benar yaitu secara hikmah kebijaksanaan.
Inilah usaha menjemput hikmah
kebijaksanaan, yaitu bersungguh-sungguh dalam syariat dan menggunakan makrifat
yaitu keyakinan yang luar biasa karena mengenal secara benar apa yang dituju
dan jalannya,
bersama-sama dalam keterbatasan
kemampuan serta ilmu yang dimilikinya dalam sebuah kesadaran menjadi
keseimbangan dalam posisinya dari waktu ke waktu.
Dengan demikian maka pribadinya
meletakkannya pada keadilan alam semesta.
Tujuan akhir dari kondisi ini
adalah insan yang sempurna dalam keadilan atau sunatullah.
⏩ Bersambung ke Episode 13:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-13-kesadaran-pamungkas.html
No comments:
Post a Comment