Thursday, 1 February 2018

Episode 12. Langkah Sang Khalifah Syurga


12. Langkah Sang Khalifah  Syurga


Akhirnya sampailah di bagian yang utama yang tadinya menekan jiwa terasa bagai sebuah beban yang menghimpit, terasa sudah mulai dilepaskan satu demi satu. Semakin terasa ringan dan lega, ketika telah mampu dilepaskan. Proses penulisan ini juga terasa sangat luar biasa bagiku. Allah Tuhanku telah memaksaku dan memojokkan ke satu sudut yang tak mampu ku tolak. Memaksaku tinggal di dalam rumah yang bisa dilakukan hanyalah menuliskan ini saja. Memikirkan dan menuangkannya ke dalam tulisan. Semua jalan keluar buntu dan tak bisa dilakukan. Hanya memikirkan ini dan menuliskannya.

Dengan sepenuh permohonan maaf yang dalam bila rangkaian kajian ini menjadi sedemikian panjang dan seolah begitu rumit dan berbelit-belit. Padahal telah diusahakan sepenuh daya upaya sesingkat mungkin dan sejelas mungkin bahkan dengan menggunakan kajian lambang untuk menyampaikan maksud lebih cepat. Dan tentunya baginya yang serius membaca pesan lambang akan mengerti lebih banyak dari apa yang tertulis, karena dalam lambang tersebut berisi berjuta kemungkinan informasi saat bersambung dengan lambang yang lain.

Seperti rangkaian unsur yang bisa bergabung menjadi rangkaian molekul baru. Dengan mengerti 2 unsur kita bisa mengerti 4 kemungkinan molekul, dan dengan 3 bisa mendapatkan 9 kemungkinan, dan dengan 4 kita bisa mendapatkan 16 kemungkinan, dan selanjutnya.

                  Rangkaian kajian lambang hanya diperuntukkan kepada yang tertarik dan berminat mempelajari lebih jauh apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Bagi yang bersungguh-sungguh ingin mengerti apa yang dimaksudkan disini. Kajian lambang ini tidak untuk umum. Karena kemungkinan sulit dimengerti. Disampaikan ke umum karena memang tidak tahu siapakah yang berminat. Mungkin ada satu atau dua orang diantara yang membaca tertarik dan serius mencoba mengerti apa yang dimaksudkan.

Rangkain kajian lambang bukan menyatakan sebuah kebenaran, bukan pula menyampaikan pemahaman. Kontek penyampaiannya justru untuk dibuktikan kesalahannya. Untuk dibuktikan kalau tidak berguna. Dibuktikan bahwa lambang ini tidak bermanfaat. Maka rangkaian kajian disini hanya untuk menarik minat salah satu atau beberapa orang untuk menguji. Menggunakan akal fikirannya. Merenung, menganalisa, menggunakan daya kemampuan dan intuisinya. Sehingga memutuskan bagi dirinya. Apakah ini bermanfaat atau tidak.

Rangkaian kajian lambang hanyalah sebuah “alat bantu” untuk merangkai puzzle dalam memahami suatu kata, seumpama mengenali setiap unsur yang membuat segelas minuman Susu Telur Madu Jahe (STMJ)

Intuisi itu datang kepada orang yang merenungkan secara terus menerus
akan sebuah hakekat dari realitas, dalam sebuah penyerahan diri kepadaNya secara ikhlas.
Kemudian atas kehendakNya, dalam kesadaran dirinya, hal-hal yang bersifat subyektif hilang, lalu masuk ke kesadaran yang lebih tinggi,  baqa dalam Allah.
Ketika dia telah kembali ke posisi kesadaran semula, hal-hal tersebut seolah hilang kembali, tetapi pemahaman atau ilmu yang telah didapatnya akan menetap dan tidak hilang.

Intuisi ini datang kepada seseorang kalau ia telah siap untuk itu, ketika nalar dan pengalamannya telah terlatih untuk menerima dan menafsirkannya.
Makna atau hakekat dibalik suatu peristiwa umumnya didapatkan melalui intuisi ini. Makna sesuatu ini adalah mengandung arti makna yang tepat; yaitu makna yang ditentukan dalam pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran sebagaimana yang ditentukan dalam sistem konsep qurani.

Sang Abdi dan Rabbnya
Mari hadapi dan pandang dunia dengan syukur
dengan mata bersinar, menyambut pagi hari
menyambut derita, menyambut kesakitan
menyambut kesulitan
kesedihan, nestapa, kesusahan atau apa saja
sebagai suatu kewajaran yang datang dari Allah

agar kita belajar "arti kehidupan" ini
pengulangan pelajaran, diulang-dan diulang
sebagai ujian bagi keyakinan kita
sebagai tes keimanan kita
sebagai bukti keimanan dan takwa kita
sebagai suatu kewajaran seorang hamba yang mengikuti tuannya (Rabnya)

Maka ijinkanlah kuulurkan tangan sekali lagi mengajak memandang kehidupan kita , ke depan dengan menggunakan kaca mata,
"apa yang Allah maui atau apa yang Allah kehendaki",
bukan hanya sekedar dari buku-buku agama, bukan pula hanya dari ceramah-ceramah  ustad, atau guru agama semata tapi dari buku harian kita, dari kehidupan kita,  lalu kita ambil hikmahnya dan temukan maknanya  melalui kata-kata (firman) Allah di Al Quran yang merupakan petunjuk kehidupan kita yang mengerti benar kita ini,  lalu kita cari di Hadist dan memaknai setiap kejadian yang kita alami dari sana.

Menemukan “tugas dan kewajiban” sebagai Abdi yang khusus melakukan perintah dari majikan. Secara sukarela menjadi orang yang tidak bebas, secara suka rela melepaskan kebebasan dirinya. Kebebasan dalam dunia menuju kehendak Majikan. Kebebasan sang Majikan. Kebebasan Rabb memerintahkan apa saja bagi dirinya. Penerimaan secara sukarela dalam diri yang membebaskan Rab berkuasa sepenuhnya atas dirinya, memerintahkan apa saja. Sebuah hal yang seolah mudah tapi sangat sulit karena merupakan perjalanan panjang seluruh hidupnya. Jalan panjang seluruh hidupnya.

Titik koordinat awalnya adalah:

·       Penerimaan Allah sebagai Rabb dan diri (aku) sebagai abdi (pelayan, budak, hamba)
·    Menerima petunjuk (HD) dari Rabb dan melakukan dengan suka rela, sebagai jalan untuk menemui Sang Rab

Demikian koordinat awal dalam Al Fatehah, sangat sederhana tetapi semakin difikirkan justru semakin berbelit rumit dan luar biasa.

Mungkin dengan perumpamaan akan lebih mudah difahami. Ketika kita bicara tentang kursi atau hakekat kursi. Ada yang bertanya apa itu kursi dan apa tujuan menciptakan kursi atau apa gunanya. Dengan sangat mudah dan sederhana kita akan menjawab tentang kursi ini. Kursi adalah tempat duduk. Yang dibuat untuk kita duduk, jadi gunanya adalah untuk duduk. Sedemikian sederhananya jawaban ini. Mungkin banyak orang akan puas dengan jawaban seperti ini. Tetapi tidak bagi orang yang memikirkan dengan serius kursi ini. Dia akan mencoba mencari tahu definisi kursi itu, apa bahan pembuatnya, lalu bagaimana bentuknya, lalu apa warnanya, lalu apa prosesnya. Dan semakin banyak yang dia pelajari maka akan meliputi banyak sekali ilmu ada ilmu Fisika, ilmu Kimia, ilmu Biologi, Ekosystem, ada Desain, dekorasi dan masih banyak lagi. Begitu luar biasanya kita menjelaskan segala hal tentang kursi ini.

Ketika seorang yang berakal ini telah mempelajari tentang hakekat kursi ini maka harus mampu menyederhanakan kembali ke inti hakekat awal, yaitu apapun bentuknya kursi, apapun bahannya, apapun prosesnya, sebuah kursi dinamakan kursi bila diperuntukkan untuk tempat duduk. Dan dia mampu menjelaskan “keilmuannya” berdasarkan pengetahuan si penanya. Bila yang bertanya akhli Fisika dia menjelaskan manfaat kursi itu ditambah dengan sifat-sifat Fisika kursi itu dari segi kekuatannya, dari bahannya dan lain sebagainya. Tidak perlu menjawab dari segi biologi atau kimianya, karena sang penanya tidak memiliki background. Dan tentu saja akan sangat membingungkan.

Sebuah undangan untuk kembali kepada Rabb

Suatu saat kita memiliki makanan yang sangat lezat, dan kita ingin teman, sahabat atau saudara kita ikut merasakan betapa nikmatnya makanan yang kita makan. Dan kita ingin mengundang makan  malam bersama. Kita menyajikan makan yang terbaik yang kita yakini kelezatan makanan itu. Demikianlah undangan kita dalam beragama untuk kembali kepada Rabul alamin. Yaitu undangan ke jalan yang penuh nikmat. Bisakah kita mengundang mereka dengan cara mencela makanan mereka, baju mereka atau dengan cara menghakimi, menyalahkan dan menghujat kesalahan mereka?. Rasanya sebelum mereka sempat mencicipi makanan yang lezat yang akan kita sajikan mereka sudah akan lari menjauh.

Kita sering melihat orang “beragama” justru arogan, kasar, pemarah, dan tidak ada toleransi. Begitu mudahnya menyalahkan golongan ini itu, menghakimi dan merasa bahwa dirinya atau golongannya yang paling benar, dan merasa dirinyalah yang paling baik. Dan ingin menyampaikan undangannya agar orang lain mengikuti jalannya. Yang lebih sering mereka hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya yang benar dengan mencari kesalahan orang lain. Seharusnyalah kita berkasih sayang. Melakukan undangan dengan Rahmah (penuh kasih sayang). Agar orang lain tertarik dan suka rela mencicipi makanan yang akan kita sajikan. Kesedihan dan kekhawatiran bila ada saudara atau rekan mengalami kesulitan, penderitaan dan kesakitan, apalagi bila nanti di hari akhir derita sepanjang masa, derita yang kekal selamanya.

Kita sebagai umat Islam adalah suatu kaum yang memiliki “SPIRITUAL INTELEGENSIA”  yang tinggi, sangat mumpuni. Sebagaimana dicontohkan dari kaum terdahulu.

Mereka begitu ‘arif, sopan santun, begitu lemah lembut,  tindakannya tegas, tidak pernah ragu-ragu, mereka hanya berserah kepada Allah, mengikuti kehendak Allah’, sebagaimana bumi yang berputar mengelilingi matahari.  

Mereka tidak ‘galau’ dengan adanya golongan-golongan yang memperebutkan kebenaran, karena mereka telah bulat keyakinannya.

Sebagai perumpamaan, seseorang yang telah menyadari betapa pentingnya kebersihan gigi, tentu akan senantiasa membersihkan gigi mereka secara teratur dan kontinyu. Dengan sangat hati-hati mereka perlakukan gigi mereka, menghindari makanan-makanan yang akan merusak gigi mereka. Mereka semua telah tahu bagaimana akibatnya jika mereka tidak merawat gigi mereka. Bagaimana jika kemudian mendapati keluarga mereka tidak merawat gigi mereka. Tentunya, kepedulian itu akan mendorong untuk mengingatkan, karena sayangnya kepada mereka, dengan pelbagai macam cara, betapa pentingnya kebersihan gigi.

Banyak sekali orang yang tidak mengerti, tidak mengetahui, tidak paham, apakah akibatnya nanti, jika tidak merawat gigi. Maka orang-orang yang tidak tahu, tidak mengerti pentingnya ini, harus senantiasa diajarkan, melalui, kata, dan perbuatan kita.  Inilah perumpamaannya dalam pembersihan jiwa. Bagi orang yang mengerti bagaimana dunia akherat di berlakukan tentunya dia akan benar-benar menjaga dirinya sendiri dan juga keluarganya, berikutnya juga masyarakatnya. Begitulah perumpamaannya.

Begitulah perumpamaan dalam akidah, dalam beragama. Seharusnya dengan kasih sayang, dengan permakluman, dengan senantiasa kita  berikan teladan nyata, kita berkata kepada setiap golongan. Semua adalah hamba-hamba Allah. Hanya perbedaannya, mereka terlahir dalam kesadaran kolektif yang berbeda dari kita. Karenanya umat Islam, mestinya memahami posisi ini, memahami bahwa ‘umat Islam adalah umat yang di pilih, dan berdiri sebagai saksi setiap golongan’. 

Umat Islam adalah orang-orang yang memiliki kematangan spiritual, yaitu orang-orang yang mengerti dan memahami tauhid dan kebersihan jiwa mereka. Sekaligus bagaimana implementasinya dalam kancah peradaban. Bagaimana mereka ber-muamalah dengan manusia yang lainnya.

Sehingga ketika berhadapan dengan orang-orang yang tidak mau membersihkan jiwa mereka sendiri, mereka dapat  bersikap bijaksana. Mengingatkan, mengajari, memberikan contoh tentang bagaimana kelembutan hati yang sesungguhnya, dan akhlak-akhlak yang baik lainnya, dan lain sebagainya. Sikap ini telah diajarkan, telah diikrarkan oleh orang-orang terdahulu dan diabadikan dalam surah Al baqoroh, yaitu ayat yang senantiasa kita baca dalam doa.

Semua usaha dalam jalan (jalan yang diberi nikmatNya) ini
sebaiknya dibataskan kepada kegunaan,
disesuaikan dengan sifat dan tabiat pribadinya.
Insyaf dan sadar akan kemampuan serta kadar atau batas-batas kemampuannya.  
Kemudian meletakkan pada tempatnya yang benar yaitu secara hikmah kebijaksanaan.

Inilah usaha menjemput hikmah kebijaksanaan, yaitu bersungguh-sungguh dalam syariat dan menggunakan makrifat yaitu keyakinan yang luar biasa karena mengenal secara benar apa yang dituju dan jalannya,

bersama-sama dalam keterbatasan kemampuan serta ilmu yang dimilikinya dalam sebuah kesadaran menjadi keseimbangan dalam posisinya dari waktu ke waktu. 
Dengan demikian maka pribadinya meletakkannya pada keadilan alam semesta.
Tujuan akhir dari kondisi ini adalah insan yang sempurna dalam keadilan atau sunatullah.



⏩ Bersambung ke 
Episode 13:
https://samudrasimbol3.blogspot.com.au/2018/02/episode-13-kesadaran-pamungkas.html

No comments:

Post a Comment

SAMUDRA SIMBOL

SAMUDRA SIMBOL 3 - BAHASA CAHAYA ======================================================================== Pengantar: https://samudrasimb...